Breaking News:

Virus Corona

Penggunaan Thermogun Tidak Berbahaya bagi Kesehatan, Ini Penjelasan Praktisi Kesehatan

Alat itu sering digunakan sejak pemerintah memberlakukan PSBB dalam rangka menekan angka penularan virus corona.

Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Orang tua diperiksa suhu tubuhnya saat akan mendaftar Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk anaknya di SDN 235, Jalan Lengkong Kecil, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (22/6/2020). Meski sudah ada pengumuman pendaftaran PPDB 2020 tingkat SD dilaksanakan secara online (daring) atau didaftarkan oleh sekolah (TK) asal, namun bagi orang tua yang mendaftarkan anaknya langsung datang ke sekolah, pihak sekolah tetap menerima dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah virus corona (Covid-19). Pendaftaran PPDB 2020 tingkat SD akan berakhir pada 26 Juni, pengumuman 29 Juni, dan daftar ulang 1-2 Juli 2020. Tribun Jabar/Gani Kurniawan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Apfia Tioconny Billy

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Thermometer tembak atau thermogun merupakan alat pendeteksi suhu tubuh.

Alat itu sering digunakan sejak pemerintah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dalam rangka menekan angka penularan virus corona (Covid-19).

Cara kerjanya, yakni mengarahkan alat tersebut ke bagian dahi seseorang.

Selanjutnya energi radiasi dari permukaan dahi ditangkap oleh thermogun. Kemudian diubah menjadi energi listrik dan ditampilkan dalam angka digital temperatur derajat celcius pada layar thermogun.

Petugas melakukan pendeteksi suhu tubuh (thermal scanner) saat penumpang pesawat tiba di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tanggerang, Banten, Rabu (22/1/2020). Kantor Kesehatan Pelabuhan kelas 1 Soekarno Hatta meningkatkan kewaspadaan dengan memasang alat pendeteksi suhu tubuh (thermal scanner) untuk mengantisipasi masuknya virus corona yang berasal dari negara China ke wilayah Indonesia. Tribunnews/Jeprima
Petugas melakukan pendeteksi suhu tubuh (thermal scanner) saat penumpang pesawat tiba di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tanggerang, Banten, Rabu (22/1/2020). Kantor Kesehatan Pelabuhan kelas 1 Soekarno Hatta meningkatkan kewaspadaan dengan memasang alat pendeteksi suhu tubuh (thermal scanner) untuk mengantisipasi masuknya virus corona yang berasal dari negara China ke wilayah Indonesia. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)

Sinar radiasi infra red pada thermogun itu heboh diduga dapat merusak jaringan otak setelah viralnya perkataan ekonom Ikhsanuddin Noorsy saat berbincang dengan presenter Helmy Yahya.

Lantas benarkah penggunaan thermogun berbahaya bagi kesehatan?

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Dr dr. Ari Fachrial Syam SpPD-KGEH, MMB menegaskan kalau thermogun aman untuk digunakan karena sudah lolos uji kesehatan.

Baca: Kata Artis Detri Warmanto Sebelum Dinyatakan Positif Corona, Sebut Thermogun Tak Bisa Jadi Patokan

"Thermometer inframerah tidak memancarkan radiasi seperti sinar-X dan, karena itu, tidak mempengaruhi sistem saraf termasuk juga tidak merusak retina" ujar dr. Ari melalui keterangan tertulis yang diterima Tribunnews.com, Selasa (21/7/2020).

Baca: Rumor Termometer Tembak Rusak Otak, Jubir Achmad Yurianto Beri Penjelasan

Laser pada thermogun tidak memberikan efek berbahaya bagi otak. Namun pada pada saat penggunaan thermogun disarankan tidak diarahkan langsung ke mata supaya tidak merusak retina.

Dr. Ari juga menyarankan agar satu tahun sekali thermogun dikalibrasi untuk memastikan akurasinya dalam membaca suhu tubuh.

"Thermogun direkomendasikan untuk dikalibrasi minimal 1 tahun sekali. Kalibrasi diperlukan agar skrining suhu terjaga akurasinya karena informasi yang salah bisa membuat gagal skrining suhu," ucap dr. Ari.

Penulis: Apfia Tioconny Billy
Editor: Willem Jonata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved