Penanganan Covid

Ketimbang Laki-laki, Perempuan Lebih Merasakan Efek Samping Vaksin Covid-19, Ketahui Sebabnya

Hampir semua reaksi anafilaksis langka terhadap vaksin Covid-19 juga terjadi pada perempuan.

Editor: Willem Jonata
WARTA KOTA/WARTA KOTA/NUR ICHSAN
VAKSINASI LANSIA - Sebanyak 210 lansia menerima suntikan vaksin Covid-19, di Posyandu Garuda Rw 08 Kelurahan Poris Plawad, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Rabu (10/3/2021). Kegiatan yang berlangsung serentak di 164 kelurahan di Kota Tangerang, berlangsung mulai tanggal 9 hingga 13 Maret, sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19. WARTA KOTA/NUR ICHSAN 

TRIBUNNEWS.COM - Sebagian orang mengalami efek samping setelah menerima vaksin covid-19.

Namun, respons laki-laki dan perempuan penerima vaksin ternyata berbeda-beda.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan bulan lalu, para peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dan Prevention menganalisa data keamanan dari 13,7 juta dosis vaksin Covid-19 pertama yang diberikan kepada masyarakat Amerika.

Di antara efek samping yang dilaporkan, 79,1 persen berasal dari perempuan. Meskipun dari total vaksin, hanya 61,2 persen vaksin yang diberikan kepada perempuan.

Hampir semua reaksi anafilaksis langka terhadap vaksin Covid-19 juga terjadi pada perempuan.

Peneliti CDC melaporkan, ada 19 orang perempuan penerima vaksin Moderna yang mengalami reaksi perempuan, dan 44 dari 47 perempuan penerima vaksin Pfizer mengalami reaksi anafilaksis.

Baca juga: Honduras Hingga Nikaragua Segera Dapatkan Vaksin COVAX

Ahli mikrobiologi dan imunologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Sabra Klein, mengaku tidak terkejut tentang hasil ini.

Menurutnya, perbedaan efek samping berkaitan dengan jenis kelamin benar-benar konsisten dengan laporan terdahulu dari vaksin-vaksin lain.

Dalam sebuah studi tahun 2013, misalnya, para ilmuwan bersama dengan CDC dan lembaga lainnya menemukan bahwa laporan reaksi alergi usai penerimaan vaksin flu pandemi 2009 empat kali lebih banyak dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki. 

Baca juga: Virus Corona B117 Lebih Menular, Dokter Spesialis Paru Ini Rekomendasikan Percepatan Vaksinasi

Adapun rentang usia penerima vaksin saat itu adalah antara 20 dan 59 tahun.

Padahal, jumlah laki-laki penerima vaksin di waktu tersebut lebih banyak daripada perempuan.

Studi lainnya menemukan bahwa antara tahun 1990 dan 2016, dari semua reaksi anafilaksis orang dewasa terhadap vaksin, 80 persennya terjadi pada perempuan.

"Secara umum, perempuan menunjukkan lebih banyak reaksi terhadap berbagai vaksin," ungkap petugas medis di Kantor Keamanan Imunisasi CDC, Julianne Gee.

Vaksin yang dimaksud termasuk vaksin influenza yang diberikan kepada orang dewasa, serta beberapa vaksin yang diberikan pada masa bayi, seperti vaksin hepatitis B dan campak, gondok dan rubella (M.M.R.).

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved