Senang Pelesiran? Sebaiknya Waspadai Risiko Kesehatan yang Bisa Muncul di Destinasi Wisata

Terdapat beberapa penyakit infeksi dan non-infeksi yang dapat mengancam wisatawan jika mereka tidak waspada saat pergi liburan.

Tribunnews/JEPRIMA
Pengunjung saat berwisata di kawasan Museum Nasional (Monas), Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Sabtu (9/7/2022). Selama menikmati liburan, wisatawan sebaiknya memahami jenis-jenis risiko kesehatan yang mungkin timbul. Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pergi berwisata menjadi aktivitas yang menyenangkan. Meski demikian, berwisata memiliki risiko kesehatan tertentu bagi mereka yang berusia muda maupun usia lanjut.

Untuk itu, perlu ada persiapan matang sebelum berpergian.

Dosen Ilmu Penyakit Dalam FKKMK UGM, dr. Yanri Wijayanti Subronto, Ph.D., Sp.PD-KPTI mengatakan, terdapat beberapa penyakit infeksi dan non-infeksi, yang dapat mengancam wisatawan jika mereka tidak waspada dan tidak merencanakan perjalanan dengan baik.  

Penyakit-penyakit infeksi dan gejala yang sering berhubungan dengan berwisata antara lain ialah diare dan masalah gastrointestinal, hepatitis A, malaria, dengue fever/ demam berdarah, infeksi parasit, tuberkolosis, typhoid fever/ tipes, yellow fever, dan meningitis/ radang selaput otak. 

“(Oleh karena itu, salah satu kewaspadaan yang perlu kita lakukan adalah bahwa) kita perlu mengantisipasi higienis-sanitasi di warung-warung (yang kita kunjungi),” tutur Dokter Yanri dikutip dari laman UGM.ac.id, Sabtu (16/7/2022).  

Sedangkan untuk penyakit non-infeksi, penyakit tersebut bisa berupa neurologis seperti altitude sickness dan decompression sickness. 

Baca juga: Glamping, Berwisata di Alam Terbuka Tanpa Ribet, Cocok untuk Healing

Altitude sickness atau yang kadang disebut mountain sickness adalah penyakit yang dapat ditemui ketika melakukan kegiatan pendakian.

Altitude sickness merupakan kumpulan gejala yang terjadi ketika mendaki atau berjalan ke daerah yang lebih tinggi.

Penyakit ini bisa terjadi karena melakukan pendakian dengan terlalu cepat, dimana badan belum punya cukup waktu untuk beradaptasi dengan tekanan udara dan kadar oksigen rendah di tempat dengan ketinggian yang lebih tinggi.  

Baca juga: 5 Aktivitas Seru saat Liburan ke Desa Wisata Pemuteran, Surga Wisata Laut di Bali

Kemudian juga ada decompression sickness atau caisson disease. Decompression sickness biasa didapati oleh para penyelam scuba. Penyakit ini muncul ketika tubuh melewati perubahan tekanan air yang terlalu cepat.

Hal ini kemudian mengakibatkan nitrogen dalam darah membentuk gelembung yang dapat menyumbat pemburuh darah dan jaringan organ.

Gejalanya bervariasi tergatung dari lokasi terjadi penyumbatan, misalnya nyeri sendi, pusing, tubuh lemas, sesak nafas, dan lain sebagainya. 

Baca juga: Seru dan Tak Terduga, 6 Tempat Ini Hidupkan Kembali Impianmu Berwisata ke Singapura

 Agar tetap sehat selama berwisata, dokter Yanri menyarankan untuk melakukan risk assessment atau penilaian risiko sebelum melakukan perjalanan. 

Halaman
12
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved