Ahli Sebut Poligami Tidak Serta Merta Tekan Angka HIV

Menekan kasus HIV intinya bukan poligami, namun menerapkan perilaku seksual yang aman dan sehat

Editor: Eko Sutriyanto
iStockphoto
Kenali gejala HIV - Pakar Epidemiologi Griffith University Dicky Budiman menyebutkan jika negara yang menerapkan poligami, tidak serta merta menekan angka kasus HIV 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pakar Epidemiologi Griffith University Dicky Budiman menyebutkan jika negara yang menerapkan poligami, tidak serta merta menekan angka kasus HIV

"Jadi intinya bukan poligami. Tapi pada penerapan perilaku seksual yang aman dan sehat," ungkapnya pada Tribunnews, Jumat (2/9/2022).

Selain itu ia pun mengingatkan jika melakukan seks bebas, lalu berganti-ganti pasangan, maka potensi tertular penyakit menular melalui hubungan seksual bisa saja terjadi, termasuk dengan penyakit HIV

Terlepas, apakah orang tersebut melakukan poligami atau tidak. Jika tidak menerapkan perilaku seksual yang aman dan bergonta-ganti pasangan, ada kemungkinan bisa tertular. 

Dicky pun menjelaskan sebuah studi kasus yang ada di Burkino Faso.

Baca juga: Beda Gejala Infeksi HIV pada Anak dan Orang Dewasa

Negara ini cukup tinggi dalam penerapan poligami

Namun kata Dicky, jika dilihat sekilas, kasus HIV di negara Afrika Barat ini cenderung tidak tinggi, yaitu tidak sampai 5000 kasus.

Selain itu kasus HIV di sana cenderung menurun dari tahun 1990-2019.

Menurut Dicky hal ini dikarenakan meski menerapkan poligami, aktivitas seks tetap dilakukan pada pasangan.

"Tapi perlu diingat kalau Burkino Faso, kecenderungan terhadap kesetiaan terhadap pasangan jauh lebih tinggi.

Dibandingkan dengan negara Mali," papar Dicky lagi.

Menurut Dicky, Kesetiaan pada pasangan juga harus diterapkan secara konsisten.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved