Breaking News:

Penggunaan Umami pada Makanan Picu Obesitas? Ini Kata Dokter

Obesitas juga menjadi salah satu dari Triple Burden of Malnutrition permasalahan gizi utama di Indonesia.

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Willem Jonata
Kompas.com
Ilustrasi Micin 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyakit degeneratif yakni obesitas hingga saat ini masih menjadi permasalah gizi di Indonesia.

Obesitas juga menjadi salah satu dari Triple Burden of Malnutrition permasalahan gizi utama di Indonesia selain kekurangan gizi (wasting), dan defisiensi mikronutrien.

“Penyebab obesitas itu sendiri sangat kompleks dan banyak faktor sehingga tidak bisa disebabkan dari satu faktor saja. Obesitas berhubungan erat dengan asupan makan, aktifitas fisik, genetik dan lingkungan," kata pakar gizi, dr. Arti Indira, MGz, SpGK, FINEM saat webinar Apakah Obesitas Disebabkan oleh Bumbu Umami atau Kelebihan Kalori? secara daring belum lama ini.  

Baca juga: Dokter Gizi: Batasi Asupan Garam Dapat Cegah Obesitas

Terkait konsumsi bumbu Umami seperti MSG tidak bisa dikatakan sebagai penyebab utama obesitas.

Arti menyebutkan bahwa hingga saat ini belum ada penelitian maupun jurnal ilmiahnya.

"Sejauh ini tidak ada penelitian yang menitikberatkan bahwa obesitas disebabkan oleh bumbu penyedap seperti MSG,” ungkap dr Arti.

Dikatakannya, salah satu penyebab terbesar obesitas adalah pola makan berlebihan sehingga pola makan harus diperbaiki yakni dengan pengaturan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah sesuai dengan kebutuhan tubuh dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman.

"Selain mengonsumsi makanan yang bergizi, disarankan agar masyarakat mengurangi konsumsi garam pada makanannya supaya terhindar juga dari obesitas. Standar penggunaan garam yang ideal adalah kurang dari 5 gram,” lanjutnya.

Katarina Larasati, Public Relations Manager PT Ajinomoto Indonesia mengatakan, pihaknya menggiatkan kampanye Bijak Garam yang memang sejalan dengan anjuran Kementerian Kesehatan RI terkait pengurangan asupan Gula, Garam, Lemak (GGL) dalam konsumsi sehari-hari.

“Kami  mengedukasi masyarakat tentang pentingnya diet rendah garam dan mengajak keluarga Indonesia untuk hidup lebih sehat dengan mengurangi asupan atau penggunaan garam dalam mengolah makanan, namun tetap bisa memperoleh cita rasa yang tinggi," katanya. 

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved