Jumlah Penderita Diabetes di Indonesia Diprediksi Mencapai 13,7 Juta Orang pada 2030

WHO memprediksi angka penderita diabetes di negara ini akan terus mengalami peningkatan hingga menduduki peringkat ke-4 di dunia pada 2030.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Endra Kurniawan
Tribunnews.com/IstimewaFitri Wulandari
Media Briefing Hari Diabetes Sedunia 2022 bertajuk 'Lindungi Masa Depanmu: Integrasi Teknologi Kesehatan untuk Optimalkan Edukasi dan Program Dukungan Pasien Diabetes', yang digelar Asosiasi Healthtech Indonesia (AHI) di Hotel Aston Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (30/11/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyakit Diabetes Melitus (DM) saat ini tidak hanya menjadi permasalahan kesehatan di negara maju saja, namun juga di negara berkembang seperti Indonesia.

Perlu diketahui, Indonesia menempati peringkat ke-6 dengan total penyandang diabetes (diabetesi) mencapai 10,6 juta.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun memprediksi angka penderita diabetes di negara ini akan terus mengalami peningkatan hingga menduduki peringkat ke-4 di dunia pada 2030.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi dalam paparannya mengenai 'situasi diabetes di Indonesia pada tahun ini' mengakui bahwa penyakit DM kini semakin meningkat di Indonesia.

"Laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi DM meningkat menjadi 10,9 persen dan prediksi International Diabetes Federation (IDF) memprediksikan akan ada peningkatan jumlah penderita diabetes di Indonesia dari 10,7 juta tahun 2019 menjadi 13,7 juta di tahun 2030," tegas Nadia, dalam Media Briefing Hari Diabetes Sedunia 2022 yang digelar Asosiasi Healthtech Indonesia (AHI) di Hotel Aston Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (30/11/2022).

Baca juga: Gaya Hidup Serba Instan Picu Munculnya Penyakit Diabetes Melitus

Dalam media briefing bertajuk 'Lindungi Masa Depanmu: Integrasi Teknologi Kesehatan untuk Optimalkan Edukasi dan Program Dukungan Pasien Diabetes' tersebut, ia menekankan bahwa upaya menurunkan prevalensi DM merupakan hal yang sangat penting dan ini menjadi tugas bagi para stakeholder.

"Diagnosis dini dan tatalaksana komprehensif pada penderita diabetes akan menekan angka morbiditas dan mortalitas terhadap penyakit komorbid ataupun komplikasi diabetes," jelas Nadia.

Perlu diketahui, DM Tipe 2 sebenarnya dapat dicegah melalui upaya peningkatan pengetahuan dan menerapkan perilaku hidup sehat.

Hal itu karena faktor risiko yang paling utama yang terkait dengan DM Tipe 2 ini adalah gaya hidup.

American Diabetes Association (ADA) memaparkan bahwa perubahan gaya hidup yang sederhana seperti pola makan yang lebih sehat dan rutin dalam beraktivitas fisik, dapat menurunkan risiko diabetes secara signifikan.

KOMENTAR
© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved