Lima Kesalahpahaman Mengenai Vape, Termasuk Tudingan Penyebab Gagal Ginjal Akut

Seiring dengan pertumbuhannya, kesimpangsiuran informasi seputar vape juga sering muncul di publik. Apa saja?

YouTube
Ilustrasi. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Willy Widianto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rokok elektrik atau vape saat ini tingkat kepopulerannya semakin meroket di Indonesia.

Menurut data yang dilansir Global Adult Tobacco Survey, pada 2021 saja tercatat sudah ada lebih dari enam juta pengguna vape dalam negeri.

Seiring dengan pertumbuhannya, kesimpangsiuran informasi seputar vape juga sering muncul di publik.

Misalnya, baru-baru ini tersiar rumor seputar penyakit popcorn lung yang disebabkan oleh vape ilegal.

Selain itu, misinformasi vape sebagai penyebab gagal ginjal pun cukup ramai diperbincangkan.

Baca juga: Pertumbuhan Cukup Pesat, IECIE Jadikan Indonesia Tuan Rumah Pameran Vape Sekaligus Awali Tur Global

Mengutip dari situs inovasitembakau.com, Direktur Eksekutif dari The Coalition of Asia Pacific Tobacco Harm Reduction Advocate (CAPHRA) Nancy Loucas menjelaskan, di banyak negara umumnya kasus-kasus negatif seputar rokok elektrik sering kali merupakan kasus ‘impor’ yang belum tentu sesuai dengan karakteristik pengguna di negara terkait.

Lalu, apa saja kesalahpahaman vape yang sering terjadi? Berikut ulasannya.

1. Popcorn Lung

Kasus popcorn lung atau bronchiolitis obliterans merupakan kondisi mengecilnya saluran udara di paru-paru sehingga menyebabkan batuk dan napas pendek. Kesalahpahaman bermula ketika lelaki berusia 17 tahun di Kanada harus dilarikan ke instalasi gawat darurat rumah sakit karena sesak nafas setelah menggunakan rokok elektrik.

Sumber berita (NBCnews) menyatakan pria tersebut sempat menggunakan likuid dengan tambahan THC. Sebagai informasi, THC atau Tetrahidrocannabinol adalah zat psikotropika yang berasal dari tanaman ganja atau cannabis. Padahal Food & Drugs Administration (FDA), lembaga pengawas makanan dan obat Amerika Serikat melarang penggunaan minyak THC sebagai campuran likuid untuk vaping.

Begitu pula di Inggris, berdasar keterangan Cancer Research UK, Inggris melarang penggunaan diasetil, zat serupa THC, dalam campuran vape. Sampai saat ini tidak ditemukan kasus popcorn lung di Inggris.


Penelitian yang dilakukan oleh Yale School of Public Health pada 2020 menyatakan bahwa tuduhan vape sebagai penyebab popcorn lung bisa dikatakan tanpa dasar. Pada penelitian disebutkan bahwa penyebab utama kasus popcorn lung adalah vitamin E asetat yang ditambahkan pada cartridge yang mengandung THC.

Sejauh ini, zat tersebut tidak bisa dicampurkan pada likuid vape dan enggan larut dengan nikotin cair. Sehingga selain tidak dianjurkan dan tergolong ilegal, penggunaan juga berisiko tinggi terhadap kesehatan.

2. Tidak Menyebabkan Gagal Ginjal

Kasus gagal ginjal akut di Indonesia ditengarai disebabkan oleh cemaran zat etilen glikol (EG) dan politetilen glikol (PEG).

Beberapa pihak mengaitkan zat tersebut dengan vape, lalu menyimpulkan vape dapat menyebabkan gagal ginjal.

Faktanya, adapun zat pelarut yang digunakan dalam cairan vape adalah propilen glikol (PG), bukan PEG dan EG. Pakar Toksokologi, dr. Shoim Hidayat menjelaskan bahwa potensi vape bisa menyebabkan gagal ginjal sangat kecil.

Halaman
12
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved