Senin, 8 Juni 2026

Cegah Stunting

Pendapat Pakar Tentang Hasil Survei Kemenkes Stunting Turun Jadi 19,8 Persen : Perlu Percepatan

Kemenkes resmi mengumumkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 penurunan prevalensi stunting nasional menjadi 19,8 persen pada 2024.

Tayang:
Istimewa
Penjabat (Pj.) Gubernur DKI Jakarta terus mendorong seluruh jajarannya berinovasi untuk menurunkan prevalensi stunting hingga mencapai 13,2 persen pada 2024. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) resmi mengumumkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024.

Survei nasional ini mencatat penurunan prevalensi stunting nasional, dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024.

Baca juga: Turunkan Stunting hingga 14 Persen, Pakar: Target Ambisius, Tapi Bisa Tercapai Asal Konsisten

Terkait hal ini, pakar kesehatan global Dicky Budiman beri tanggapan. 

Penurunan angka stunting di Indonesia menjadi 19,8 persen pada tahun 2024 disambut positif oleh Dicky Budiman. 

Menurutnya, capaian ini menunjukkan intervensi lintas sektor mulai membuahkan hasil.

Baca juga: Bersama Cegah Stunting dan Anemia, Demi Anak Indonesia yang Tumbuh Sehat

“Penurunan prevalensi stunting dari 21,5 persen di tahun 2023 menjadi 19,8 persen di 2024, ini adalah kemajuan yang signifikan, yang tentu patut diapresiasi,” ungkap Dicky pada keterangan yang diterima Tribunnews, Jumat (6/6/2025).

Namun, Dicky menegaskan bahwa penurunan ini belum memenuhi target nasional yang direvisi menjadi 18 persen. 

Artinya, laju penurunan masih belum cukup cepat.

Ia menyebutkan, ketimpangan intervensi antarwilayah dan berbagai faktor struktural seperti akses pangan bergizi, sanitasi, pendidikan, serta pola asuh masih menjadi tantangan besar.

“Ini bukan kegagalan, tapi peringatan bahwa strategi yang ada masih perlu ditingkatkan efektivitas dan skalabilitas,” tegas Prof Dicky.

Menurutnya, stunting adalah kondisi kronis dan akumulatif yang prosesnya terjadi sejak masa kandungan dan seribu hari pertama kehidupan.

Oleh karena itu, ia menilai eradikasi stunting memerlukan waktu panjang dan konsistensi kebijakan jangka panjang.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved