Selasa, 9 Juni 2026

Aku Merasa Racunnya Sudah Naik ke Kepala: Jerit Pasien Cuci Darah PBI BPJS-nya Dinonaktifkan

Tak hanya sesak di dada, rasa sakit yang dirasakannya merambat hingga ke kepala akibat gagal ginjal kronis yang ia derita.

Tayang:
Editor: Hasanudin Aco
dok Tribun Jogja
ILUSTRASI CUCI DARAH - Sejumlah pasien cuci darah akhir-akhir ini mengeluhkan status kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan miliknya mendadak nonaktif. 

Ringkasan Berita:
  • Sejumlah pasien tak bisa menjalani cuci darah sejak awal Februari ini karena kepesertaan BPJS PBI dinonaktifkan.
  • Status kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan miliknya mendadak nonaktif.
  • Kepala Humas BPJS Kesehatan Rizzky Anugerah menjelaskan bahwa penonaktifan sejumlah peserta BPJS PBI dilandasi oleh Surat Keputusan Menteri Sosial Nomor 3/HUK/2026.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - "Aku sudah sakit kepala, aku merasa racunnya sudah naik ke kepala,"

Lala adalah satu dari sekian banyak pasien cuci darah.

Kesehatannya memburuk setelah gagal menjalani terapi hemodialisa atau cuci darah pada Rabu (4/2/2026) lalu.

Tak hanya sesak di dada, rasa sakit yang dirasakannya merambat hingga ke kepala akibat gagal ginjal kronis yang ia derita.

Terapi yang dijalaninya berhenti sesaat.

Status kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan miliknya mendadak nonaktif.

Dia tak bisa lagi melakukan terapi cuci darah menggunakan BPJS.

Lala, nama disamarkan,  tidak lagi tercantum dalam basis data PBI BPJS Kesehatan melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS) di Rumah Sakit Mitra Keluarga Jatiasih, Bekasi.

Padahal terapi hemodialisa tidak dapat ditunda. Lala harus menjalani cuci darah secara rutin setiap Rabu dan Sabtu.

Selama tiga tahun terakhir, Lala bergantung pada layanan BPJS Kesehatan melalui program PBI untuk menjalani pengobatan gagal ginjal. Ia rutin menjalani cuci darah di RS Mitra Keluarga Jatiasih.

Cuci darah yang seharusnya dijalani pada Rabu (4/2/2026) terpaksa diganti dengan layanan berbayar yang tidak sedikit biayanya. 

Di tengah kesulitan biaya, Lala mendapatkan bantuan dana dari keluarga hingga orang tua murid tempat ia mengajar.

Kebutuhan untuk cuci darah meningkat secara signifikan dari tahun 2007 hingga 2020, dengan cuci darah menjadi prosedur yang paling banyak dilakukan pada tahun 2021.
Kebutuhan untuk cuci darah meningkat secara signifikan dari tahun 2007 hingga 2020, dengan cuci darah menjadi prosedur yang paling banyak dilakukan pada tahun 2021. (HANDOUT)

Kisah pasien lainnya: Kaki saya mulai bengkak

Adeng, seorang pasien gagal ginjal juga tak bisa menjalani cuci darah sejak awal Februari ini.

Pasien berusia 54 tahun itu mengaku sudah menjalani cuci darah selama hampir tujuh bulan terakhir.

Dalam seminggu, ia rutin menjalani terapi dua kali, setiap hari Selasa dan Jumat, di Rumah Sakit Radjak Hospital Cileungsi.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved