Senin, 25 Mei 2026

Waspada Penyakit Campak, Menkes Ingatkan Risiko Kematian Anak Lebih Tinggi dari Covid-19

Kondisi ini makin menjadi sorotan setelah adanya laporan kasus campak pada warga negara asing asal Australia dengan riwayat perjalanan dari Indonesia.

Tayang:

Ringkasan Berita:
  • Pemerintah pun menegaskan bahwa campak bukan sekadar demam disertai ruam, melainkan infeksi dengan tingkat penularan sangat tinggi
  • Risiko paling besar justru terjadi pada anak-anak
  • Meski vaksin telah tersedia, cakupan imunisasi yang belum merata masih menjadi tantangan besar 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah meningkatnya mobilitas global dan masih ditemukannya kasus penyakit menular di berbagai daerah, ancaman campak kembali menjadi perhatian serius pemerintah. Penyakit yang selama ini kerap dianggap sebagai 'penyakit anak biasa' ternyata menyimpan risiko fatal, terutama bagi balita dengan daya tahan tubuh yang belum kuat.

Baca juga: Imunisasi MR Kunci Cegah Campak, Kemenkes Fokus Tutup Kantong Rentan di Daerah

Pemerintah pun menegaskan bahwa campak bukan sekadar demam disertai ruam, melainkan infeksi dengan tingkat penularan sangat tinggi yang dapat berujung pada komplikasi berat hingga kematian. Kondisi ini semakin menjadi sorotan setelah adanya laporan kasus campak pada warga negara asing asal Australia dengan riwayat perjalanan dari Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa campak merupakan salah satu penyakit dengan tingkat penularan tercepat dibandingkan penyakit infeksi lainnya.

Saat meninjau RSUD Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (27/2/2026), Budi menjelaskan bahwa reproduction rate atau angka penularan campak jauh lebih tinggi dibandingkan Covid-19.

“Campak itu penyakit yang menularnya paling cepat. Kalau Covid-19 satu orang bisa menularkan ke dua atau tiga orang, campak bisa satu orang menularkan ke 10 sampai 12 orang. Ini reproduction rate-nya paling tinggi,” ujarnya.

Ia menegaskan, risiko paling besar justru terjadi pada anak-anak. Jika orang dewasa umumnya mengalami gejala yang relatif lebih ringan, balita yang terinfeksi campak berisiko mengalami komplikasi serius bahkan kematian.

“Terkena campak saat dewasa tidak terlalu parah. Tapi pada anak-anak risiko kematiannya tinggi, lebih tinggi dari Covid-19,” kata Budi.

Berdasarkan data nasional Kementerian Kesehatan, sepanjang 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak. Dari jumlah tersebut, 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dengan 69 kematian atau case fatality rate (CFR) sebesar 0,1 persen.

Sementara pada 2026 hingga Minggu ke-7, tercatat 8.224 kasus suspek campak, dengan 572 kasus terkonfirmasi dan 4 kematian (CFR 0,05 persen). Pada periode tersebut juga terjadi 21 Kejadian Luar Biasa (KLB) suspek campak serta 13 KLB campak terkonfirmasi laboratorium yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.

Baca juga: Respons Tegas Australia Hadapi Dua Kasus Campak dari Jakarta Perlu Ditiru Indonesia

Data tersebut menunjukkan bahwa meski vaksin telah tersedia, cakupan imunisasi yang belum merata masih menjadi tantangan besar dalam pengendalian penyakit ini.

Terpisah, Konsultan Penyakit Infeksi dan Tropik Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Mulya Rahma Karyanti menjelaskan bahwa bahaya campak tidak berhenti pada gejala awal seperti demam dan ruam.

Virus campak dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh anak secara signifikan. Dalam kondisi tersebut, anak menjadi rentan terhadap infeksi lanjutan seperti pneumonia, diare berat yang menyebabkan dehidrasi, hingga infeksi otak (ensefalitis).

Komplikasi ini dapat memicu kejang, penurunan kesadaran, bahkan kematian. Karena itu, imunisasi menjadi langkah pencegahan paling efektif.

Pemerintah mengingatkan orang tua untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi campak-rubella (MR) sesuai jadwal:

  1. Usia 9 bulan: Imunisasi MR pertama
Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved