Wabah Hantavirus
Virus Hanta Bukan Covid-19, Ahli Unair Minta Masyarakat Tak Panik
Prof Dominicus menjelaskan masyarakat tidak perlu membayangkan virus hanta menyebar cepat seperti Covid-19 atau campak.
Ringkasan Berita:
- Kekhawatiran masyarakat terhadap virus hanta terus muncul setelah sejumlah kasus dilaporkan di beberapa negara, termasuk Indonesia.
- Namun para ahli menegaskan masyarakat tidak perlu cemas berlebihan karena virus ini memiliki tingkat penularan yang sangat rendah dan berbeda jauh dengan Covid-19 maupun campak.
- Prof Dominicus menjelaskan masyarakat tidak perlu membayangkan virus hanta menyebar cepat seperti Covid-19 atau campak.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kekhawatiran masyarakat terhadap virus hanta terus muncul setelah sejumlah kasus dilaporkan di beberapa negara, termasuk Indonesia.
Namun para ahli menegaskan masyarakat tidak perlu cemas berlebihan karena virus ini memiliki tingkat penularan yang sangat rendah dan berbeda jauh dengan Covid-19 maupun campak.
Baca juga: Anak Penderita Ginjal dan Gangguan Imun Rentan Komplikasi Jika Terinfeksi Virus Hanta
Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya sekaligus Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof DR Dr Dominicus Husada DTM&H MCTM(TP), mengatakan risiko penularan virus hanta dari pertemuan singkat sangat kecil.
“Kalau satu kali nggak bisa. Agak kecil lah kemungkinannya,” ujar Prof Dominicus dalam media briefing virtual, Jumat (8/5/2026).
Baca juga: CDC Naikkan Status Darurat Hantavirus, WHO Pastikan Bukan Covid Baru
Menurutnya, virus hanta bukan penyakit yang mudah menyebar hanya karena seseorang berada di ruangan yang sama.
Penularan baru mungkin terjadi pada kontak yang sangat dekat dan berlangsung terus-menerus.
“Jadi dia harus lebih sering (kontak langsung),” katanya.
Tidak Menyebar Cepat seperti Covid-19
Prof Dominicus menjelaskan masyarakat tidak perlu membayangkan virus hanta menyebar cepat seperti Covid-19 atau campak.
Sebab karakter penularannya sangat berbeda.
“Bayangannya satu ruangan itu sering bertemu dia itu. Tiap hari. Dan mungkin banyak ngobrol, banyak kerja di dekatnya, duduk di sebelahnya,” jelasnya.
Itu pun, kata Prof Dominicus, terjadi di ruangan kecil dengan interaksi sangat dekat.
“Bukan satu ruangan isi 40 orang. Itu kan besar. Bukan. Ruangan yang lebih kecil-kecil,” ujarnya.
Karena itu, sekadar bertemu sesekali di kantor, transportasi umum, atau tempat publik dinilai memiliki risiko yang sangat rendah.
Tingkat Penularannya Sangat Rendah
Dalam epidemiologi, tingkat penularan penyakit dikenal dengan istilah basic reproduction number atau angka reproduksi dasar.
Semakin tinggi angkanya, semakin mudah penyakit menyebar.
Prof Dominicus menyebut virus hanta memiliki tingkat penularan yang sangat rendah hingga tidak bisa dibandingkan dengan campak.
“Kalau yang hanta ini sangat-sangat sedikit,” katanya.
Ia bahkan menyebut kemungkinan satu orang menularkan ke orang lain sangat kecil.
“Bahkan mungkin nggak sampai 2 paling. Ada yang bilang mendekati 0 kok,” ujarnya.
Sebagai perbandingan, campak termasuk penyakit paling mudah menular di dunia.
“Campak itu adalah yang paling tinggi. Itu namanya basic reproduction number. Satu orang menulari berapa. Itu campak itu adalah 19,” jelasnya.
Karena itu, menurut Prof Dominicus, masyarakat tidak perlu panik menghadapi virus hanta.
“Hanta ini tidak menakutkan saya, apalagi yang dari tikus,” katanya.
Baca juga: Kasus Hantavirus di Indonesia Didominasi Seoul Virus, Ini Gejala Umum Jika Terinfeksi
Fokus Utama Tetap Kebersihan Lingkungan
Meski risiko penularan antarmanusia rendah, masyarakat tetap diminta menjaga kebersihan lingkungan karena sumber utama virus hanta berasal dari tikus.
Virus biasanya menyebar melalui partikel dari air kencing, liur, atau kotoran tikus yang terhirup manusia.
Karena itu, area tertutup yang kotor dan banyak tikus tetap perlu dibersihkan dengan hati-hati.
Langkah sederhana seperti menjaga rumah bebas tikus, membersihkan gudang, dan menggunakan disinfektan dinilai jauh lebih penting dibanding rasa panik berlebihan.
Pemeriksaan Virus Hanta Masih Terbatas
Prof Dominicus juga menjelaskan virus hanta sebenarnya dapat diperiksa melalui tes laboratorium.
“Bisa. Bisa kalau ada alatnya,” ujarnya.
Namun karena kasusnya jarang, pemeriksaan khusus virus hanta belum tersedia luas di semua rumah sakit.
Karena itu, pemeriksaan biasanya dilakukan di laboratorium rujukan tertentu.
Masyarakat Diminta Tetap Tenang
Prof Dominicus kembali menegaskan bahwa virus hanta bukan ancaman yang mudah menyebar luas di masyarakat.
Dengan memahami cara penularannya, masyarakat diharapkan bisa lebih tenang dan tidak mudah terpancing ketakutan di media sosial.
Sebab hingga saat ini, risiko terbesar tetap berasal dari kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi tikus, bukan dari interaksi singkat dengan orang lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Infografis-Waspada-Hantavirus-di-Indonesia_20260508_220342.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.