Virus Ebola
Mengenal Wabah Ebola Virus Bundibugyo yang Dianggap Berbahaya oleh WHO
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah Ebola di Kongo dan Uganda menjadi Darurat Kesehatan karena strain Bundibugyo. Apa itu?
Ringkasan Berita:
- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa wabah Ebola akibat virus Bundibugyo di wilayah Kongo dan Uganda menjadi Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional.
- Menurut WHO, virus Bundibugyo (BVD) adalah bentuk penyakit Ebola yang parah dan seringkali fatal yang disebabkan oleh virus Bundibugyo, salah satu spesies Orthoebolavirus.
- WHO juga menyatakan bahwa strain Bundibugyo saat ini belum memiliki vaksin atau obat terapeutik khusus yang disetujui.
TRIBUNNEWS.COM - Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) dan Uganda tengah menjadi perhatian dunia akibat wabah Ebola.
Wabah Ebola yang menyerang RD Kongo dan Uganda kali ini bukanlah sembarangan.
Kedua negara tersebut mengalami lonjakan kasus Ebola yang mengerikan akibat strain virus yang langka, yaitu virus Bundibugyo.
Menurut sebuah laporan, strain virus itu telah merenggut 88 nyawa dan menyebabkan lebih dari 300 kasus suspek di wilayah Afrika Tengah dan Timur.
Lantas, apa itu wabah Ebola virus Bundibugyo?
Menurut WHO, virus Bundibugyo (BVD) adalah virus penyebab penyakit Ebola yang parah dan seringkali fatal yang disebabkan oleh virus Bundibugyo, salah satu spesies Orthoebolavirus.
Ini adalah penyakit zoonosis, dengan kelelawar buah diduga sebagai reservoir alaminya.
Infeksi pada manusia terjadi melalui kontak dekat dengan darah atau sekresi satwa liar yang terinfeksi, seperti kelelawar atau primata non-manusia, dan kemudian menyebar dari orang ke orang melalui kontak langsung dengan darah, sekresi, organ, atau cairan tubuh lainnya dari individu yang terinfeksi atau permukaan yang terkontaminasi.
Penularan sangat meningkat di lingkungan perawatan kesehatan ketika tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi (IPC) tidak memadai, dan selama praktik penguburan yang tidak aman yang melibatkan kontak langsung dengan jenazah.
Masa inkubasi BVD berkisar antara 2 dan 21 hari, dan individu biasanya tidak menular sampai gejala muncul.
Gejala awal bersifat tidak spesifik, termasuk demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan, yang mempersulit diagnosis klinis dan dapat menunda deteksi.
Baca juga: Wabah Ebola di Kongo dan Uganda Ditetapkan jadi Keadaan Darurat, Apakah akan Menyebar?
Gejala-gejala ini berkembang menjadi gejala gastrointestinal, disfungsi organ, dan dalam beberapa kasus manifestasi perdarahan.
Tingkat kematian kasus dalam dua wabah BVD terakhir, yang dilaporkan di Uganda dan di DR Kongo pada tahun 2007 dan 2012, berkisar antara sekitar 30 hingga 50 persen.
Membedakan BVD dari penyakit demam endemik lainnya seperti malaria merupakan tantangan tanpa konfirmasi laboratorium menggunakan PCR atau uji berbasis antigen/antibodi.
Pengendalian bergantung pada identifikasi kasus yang cepat, isolasi dan perawatan, pelacakan kontak, penguburan yang aman, dan keterlibatan masyarakat yang kuat, karena saat ini belum ada vaksin atau pengobatan khusus yang disetujui untuk BVD.
Belum Memiliki Vaksin
Wabah kali ini dinilai "luar biasa" dan memicu kekhawatiran besar lantaran disebabkan oleh strain virus Bundibugyo.
Berbeda dengan strain Ebola-Zaire yang mendominasi sebagian besar wabah sebelumnya dan sudah memiliki vaksin serta terapi efektif.
Strain Bundibugyo saat ini belum memiliki vaksin atau obat terapeutik khusus yang disetujui.
"Sangat disayangkan, Bundibugyo memiliki penangkal medis teruji yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Ebolavirus Zaire, di mana vaksin sangat efektif dalam mengendalikan wabah," ujar Amanda Rojek, Profesor Rekanan Kedaruratan Kesehatan di Institut Ilmu Pandemi, Universitas Oxford kepada Reuters.
Ini merupakan wabah Ebola ke-17 yang melanda RD Kongo sejak virus mematikan tersebut pertama kali ditemukan pada tahun 1976.
Sepanjang sejarah, strain Bundibugyo baru tercatat memicu dua wabah, yaitu pada tahun 2007 dan 2012.
Baca juga: Ebola Bukan Sekadar Penyakit, Pakar Ungkap Efek Kerusakan Lingkungan
Penyebaran lintas negara kini telah terdokumentasi dengan jelas.
Di RD Kongo, wilayah yang paling parah terdampak adalah Provinsi Ituri di bagian timur.
Hingga Sabtu (16/5/2026), di Ituri saja telah tercatat 80 kasus kematian suspek, 8 kasus konfirmasi laboratorium, dan 246 kasus suspek yang tersebar di tiga zona kesehatan, yakni Bunia, Rwampara, dan Mongbwalu.
Kasus kesembilan dikonfirmasi di Kota Goma, Kongo timur, wilayah yang saat ini dikuasai oleh kelompok pemberontak M23.
Selain itu, satu kasus konfirmasi juga ditemukan di ibu kota RD Kongo, Kinshasa, dari seorang warga yang baru kembali dari Ituri.
Sementara itu di Uganda, otoritas kesehatan mengonfirmasi dua kasus yang terpisah di ibu kota Kampala.
Kasus-kasus tersebut dibawa oleh pelancong yang datang dari RD Kongo, di mana salah satu dari pasien tersebut dilaporkan telah meninggal dunia.
Wabah ini diperkirakan telah menyebar tanpa terdeteksi selama beberapa minggu.
Kasus pertama yang diketahui dialami oleh seorang pria berusia 59 tahun yang menunjukkan gejala pada 24 April dan meninggal tiga hari kemudian.
Namun, otoritas kesehatan baru mengetahui adanya wabah ini pada 5 May setelah ramainya laporan di media sosial.
Keterlambatan deteksi ini membuat pelacakan kontak menjadi jauh lebih menantang, terlebih wilayah Kongo timur tengah dilanda konflik bersenjata yang mempersulit akses medis.
(Tribunnews.com/Whiesa)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Petugas-medis-mengenakan-alat-pelindung-diri-lengkap-sebelum-memasuki-zona-isolasi-Ebola-di-Kongo.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.