Makanan Fermentasi: Manfaat, Fakta, dan Siapa yang Perlu Berhati-hati
Makanan fermentasi seperti yogurt, kimchi, dan tempe mengandung bakteri baik yang dapat mendukung kesehatan usus dan manfaat lainnya.
Bagi kebanyakan orang, makanan fermentasi dapat dikonsumsi secara rutin dengan aman. Namun, ada beberapa pengecualian dan pertimbangan penting.
Goodson menyebutkan bahwa orang dengan intoleransi histamin mungkin mengalami gejala seperti sakit kepala atau gangguan pencernaan saat mengonsumsi makanan fermentasi, karena produk-produk ini secara alami mengandung histamin dalam kadar cukup tinggi.
Demikian pula, ia mencatat bahwa mereka yang mengonsumsi monoamine oxidase inhibitors (MAOIs) — golongan obat yang digunakan untuk menangani kondisi kesehatan mental tertentu — mungkin perlu membatasi konsumsi makanan fermentasi.
Karena orang dengan sistem imun yang lemah berisiko lebih tinggi mengalami infeksi akibat makanan, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) merekomendasikan untuk menghindari produk fermentasi yang tidak dipasteurisasi dalam kondisi tersebut.
Kandungan sodium juga perlu diperhatikan. Makanan seperti sauerkraut, kimchi, dan acar bisa mengandung kadar garam yang tinggi. "Ini mungkin menjadi perhatian bagi individu yang mengelola hipertensi atau penyakit jantung," kata Goodson.
Selain itu, Susie mencatat bahwa orang dengan kondisi pencernaan tertentu, seperti small intestinal bacterial overgrowth (SIBO) atau pertumbuhan bakteri berlebih di usus kecil, mungkin perlu berhati-hati karena makanan fermentasi terkadang dapat memperburuk gejala seperti kembung dan gas.
Namun bagi kebanyakan orang, makanan fermentasi bisa menjadi tambahan yang menyehatkan dalam pola makan jika dikonsumsi secukupnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/KESEHATAN-Foto-ilustrasi-makanan-berfermentasi.jpg)