Senin, 8 Juni 2026

Tak Selalu Bermanfaat, Ini 5 Suplemen yang Sebaiknya Tidak Dikonsumsi Sembarangan

Para ahli menilai banyak suplemen, seperti detoks, vitamin C, multivitamin, probiotik, dan fat burner, mungkin tidak diperlukan bagi orang sehat.

Tayang:
Editor: Tiara Shelavie
Pexels
KESEHATAN - Ilustrasi obat-obatan diambil dari situs bebas royalti Pexels. Para ahli menilai banyak suplemen, seperti detoks, vitamin C, multivitamin, probiotik, dan fat burner, mungkin tidak diperlukan bagi orang sehat. 
Ringkasan Berita:
  • Para ahli menilai banyak suplemen populer, seperti detoks, vitamin C, multivitamin, probiotik, dan fat burner, mungkin tidak diperlukan bagi orang sehat.
  • Tubuh sebenarnya sudah memiliki mekanisme alami untuk membuang racun melalui hati dan ginjal tanpa bantuan suplemen detoks.
  • Ahli kesehatan menyarankan memenuhi kebutuhan nutrisi melalui pola makan seimbang daripada mengandalkan suplemen yang belum terbukti manfaatnya.

 

TRIBUNNEWS.COM - Rak suplemen dipenuhi berbagai produk yang menjanjikan manfaat mulai dari meningkatkan daya tahan tubuh, mempercepat penurunan berat badan, menambah energi, hingga "membersihkan" tubuh.

Namun menurut para ahli kesehatan, seperti dilansir SheFinds, banyak suplemen populer di pasaran sebenarnya tidak diperlukan oleh kebanyakan orang sehat, dan dalam beberapa kasus hanya menjadi pemborosan uang.

Meskipun beberapa suplemen dapat bermanfaat bagi orang dengan kekurangan nutrisi tertentu atau kondisi medis khusus, para ahli menekankan pentingnya membedakan antara nutrisi yang didukung bukti ilmiah dan sekadar strategi pemasaran.

Mulai dari produk detoks, pembakar lemak, vitamin C harian, hingga multivitamin, beberapa di antaranya mungkin tidak memberikan manfaat seperti yang diharapkan konsumen.

1. Suplemen Detoks

Suplemen detoks, seperti teh pelangsing perut ("Flat Tummy Tea") atau pil yang diklaim memiliki efek ajaib, sering dipasarkan dengan janji membersihkan tubuh dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Namun, efektivitas produk-produk ini semakin banyak dipertanyakan.

Konsep dasar suplemen detoks adalah membantu tubuh membuang racun dan zat berbahaya sehingga sistem tubuh dapat bekerja lebih optimal. Akan tetapi, menurut Dr. Praveen Guntipalli, Direktur Medis dan pemilik Sanjiva Medical, gagasan tersebut bertentangan dengan proses alami yang sudah dimiliki tubuh manusia.

"Suplemen detoks atau pembersih tubuh telah banyak dikritik karena membuat klaim yang meragukan tanpa bukti ilmiah yang mendukung efektivitasnya," ujarnya. Produk-produk ini sering mengklaim mampu membersihkan tubuh dari racun, meningkatkan energi, dan memperbaiki kesehatan secara umum, tetapi bukti yang mendukung klaim tersebut sangat terbatas.

Tubuh sebenarnya sudah memiliki sistem detoksifikasi alami. Hati dan ginjal secara alami berfungsi menyaring serta membuang zat-zat yang tidak dibutuhkan dari aliran darah.

Baca juga: IDAI Ingatkan Orangtua: Suplemen Bukan Tameng Utama Anak Hadapi Cuaca Ekstrem El Nino

2. Vitamin C

Vitamin C sering dikaitkan dengan peningkatan sistem kekebalan tubuh. Meski kebutuhan vitamin C memang penting untuk kesehatan secara keseluruhan, ahli gizi Krutika Nanavati mengatakan bahwa mengonsumsi suplemen vitamin C belum tentu diperlukan atau memberikan manfaat tambahan.

"Anda tidak membutuhkan dosis yang sangat besar," katanya. Menurut hasil penelitian, vitamin C juga tidak terbukti secara signifikan mencegah flu biasa.

Nanavati menjelaskan bahwa belum ada bukti konsisten yang menunjukkan manfaat rutin dari konsumsi suplemen vitamin C bagi orang yang sudah mendapatkan asupan cukup dari makanan.

Salah satu alasannya adalah karena vitamin C merupakan vitamin yang larut dalam air. Kelebihan vitamin C akan dibuang melalui urine. Dengan kata lain, mengonsumsi vitamin C melebihi kebutuhan tubuh tidak otomatis membuat sistem imun menjadi lebih kuat.

3. Multivitamin

Dr. Austin Lake baru-baru ini memperingatkan masyarakat mengenai penggunaan multivitamin yang sangat populer.

Meski terlihat sebagai cara praktis untuk mendapatkan berbagai nutrisi penting sekaligus, ia menilai multivitamin tidak selalu memberikan manfaat yang signifikan. Menurutnya, produk ini berpotensi menjadi pemborosan uang karena tingkat penyerapan (bioavailabilitas) yang rendah serta adanya berbagai bahan tambahan buatan.

Dr. Lake menganjurkan agar kebutuhan nutrisi lebih diutamakan dari pola makan yang seimbang daripada mengandalkan multivitamin yang dipasarkan secara luas.

4. Probiotik

Mengenai probiotik, Dr. Lake mengatakan bahwa produk ini sering kali menjadi pemborosan karena banyak orang membeli jenis atau jumlah probiotik yang tidak sesuai kebutuhan.

Ia menyarankan agar konsumen memastikan jumlah probiotik yang dikonsumsi cukup, biasanya berkisar antara 10 miliar hingga 100 miliar CFU (colony-forming units), tergantung kondisi kesehatan masing-masing.

Selain itu, ia menekankan pentingnya mendapatkan kultur hidup alami dari makanan fermentasi seperti kefir, sauerkraut, kimchi, dan kombucha.

5. Suplemen "Pembakar Lemak" (Fat Burner)

Suplemen penurun berat badan yang dipasarkan sebagai "fat burner" masih menjadi salah satu produk yang paling agresif dipromosikan dalam industri suplemen.

Para ahli memperingatkan bahwa banyak produk ini lebih mengandalkan campuran stimulan dan klaim pemasaran yang berlebihan daripada bukti ilmiah yang kuat.

Banyak di antaranya mengandung turunan kafein, stimulan herbal, atau senyawa eksperimental dengan jumlah yang tidak diungkapkan secara jelas dan belum disetujui oleh FDA untuk tujuan penurunan berat badan.

Kurangnya transparansi ini dapat meningkatkan risiko efek samping seperti jantung berdebar, kecemasan, tekanan darah tinggi, dan gangguan tidur.

Para profesional kesehatan menegaskan bahwa suplemen yang menjanjikan penurunan berat badan cepat dengan usaha minimal patut dicurigai, terutama jika kandungan dan dosis bahan-bahannya tidak dijelaskan secara terbuka.

(*)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved