Warga Desa Lowatag Tinggalkan Produksi Tuak dan Beralih ke Bioetanol

Kemampuan warga Desa Lowatag dalam membuat gula aren dan minuman beralkohol dari pohon aren adalah keahlian yang mereka peroleh secara turun-temurun

Warga Desa Lowatag Tinggalkan Produksi Tuak dan Beralih ke Bioetanol
Desa Lowatag
Inovasi warga Desa Lowatag : Membuat bioetanol dan produk antiseptik menggunakan bahan baku dari nira, sari buah manis yang dihasikan pohon aren. 

Pohon enau, atau yang lebih tenar dikenal dengan nama pohon aren adalah tanaman Asia tropis yang berkembang mulai dari India Timur hingga ke Malaysia, Indonesia, dan Filipina.

Pohon yang bentuknya mirip dengan pohon kelapa ini punya banyak manfaat. Hampir semua bagian pohon ini dimanfaatkan sebagai bahan baku produk yang beredar di pasaran. Mulai dari daunnya, batang, ijuk, akar, maupun buahnya yang kita kenal sebagai kolang kaling.

Tapi, yang paling banyak memiliki fungsi adalah sari buah manis yang dihasilkan pohon aren yang biasa disebut nira.

Nira adalah bahan baku dari gula aren, asam cuka dan tuak. Tak heran mengapa daerah-daerah yang punya banyak pohon aren menjadikan usaha produksi nira dan produk turunannya seperti gula merah dan minuman beralkohol jadi pendapatan utama rumah tangga warganya.

Seperti yang terjadi di Desa Lowatag, Kecamatan Toululaan Selatan, Kabupaten Minahasa Tenggara.

Kemampuan warga Desa Lowatag dalam membuat gula aren dan minuman beralkohol dari pohon aren adalah keahlian yang mereka peroleh secara turun-temurun. Bahkan sebagian masyarakat membangun industri rumahan dan memroduksi minuman beralkohol dengan merk “cap tikus”.

Namun sayangnya, produksi dan perdagangan minuman ini masih ilegal dan memiliki dampak negatif yang menelan nyawa manusia. Padahal, pemasaran minuman ini sudah merambah ke luar negeri.

Menyikapi hal ini, pada 2016 warga Desa Lowatag yang memiliki usaha produksi miras berinisiatif membentuk kelompok tani dengan nama “Kelompok Tani Usaha Bersama”. Kelompok tani yang beranggotakan 10 orang ini memberanikan diri berinovasi memproduksi bioetanol yang sama-sama berbahan dasar nira.

Atas kesepakatan bersama, setiap anggota kelompok wajib menyiapkan 1 galon air nira dalam seminggu untuk diolah menjadi bioetanol.

Mereka melakukan eksperimentasi produksi bioetanol dengan menggunakan teknologi destilasi dan menggunakan alat yang sederhana.

Halaman
12
Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved