Dana Desa Bisa Dioptimalkan untuk Pengembangan Desa Wisata Danau Toba

Pengembangan Desa Wisata di kawasan Danau Toba, dinilai bisa memanfaatkan Dana Desa.

Dana Desa Bisa Dioptimalkan untuk Pengembangan Desa Wisata Danau Toba
dok. Kemenpar
Pengembangan Desa Wisata di kawasan Danau Toba, dinilai bisa memanfaatkan Dana Desa. 

TOBA SAMOSIR – Pengembangan Desa Wisata di kawasan Danau Toba, dinilai bisa memanfaatkan Dana Desa.

Apalagi, anggaran yang diterima desa terus bertambah setiap tahunnya. Kemenpar membekali pengetahuan tersebut lewat Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Homestay dan Desa Wisata agar investasi optimal.

Kemenpar juga memberikan dukungan riil bagi 4 desa di 2 kabupaten di sekitar Danau Toba.

Konsep Desa Wisata menjadi sinergi besar antara Kemenpar dan Kemendes PDTT. Hilirnya optimalisasi potensi desa bagi kesejahteraan masyarakatnya.

Penguatan dan konsep pemanfaatannya telah diberikan Kemenpar melalui Bimtek. Kegiatan ini digulirkan 17-18 Mei 2019. Lokasinya di Kabupaten Toba Samosir dan Humbang Hasundutan.

“Dana Desa bisa mendorong pengembangan Desa Wisata. Jumlah yang dialokasikan pemerintah pun optimal tiap tahunnya. Investasi ini bahkan bisa memberikan keuntungan melalui aktivitas pariwisata. Apalagi, potensi alam dan budaya desa di sekitar Danau Toba sangat bagus,” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenpar Dadang Rizki Ratman, Jumat (17/5).

Pergerakan alokasi Dana Desa memang merangkak naik setiap tahunnya. Pada 2019, pemerintah sudah menyiapkan Dana Desa sekitar Rp111,8 Triliun.

Nantinya setiap desa di Indonesia akan mendapatkan aliran modal sekitar Rp1,5 Miliar. Jumlah tersebut naik Rp100 Juta dari penerimaan per desa pada 2018. Pada tahun lalu, tiap desa mendapatkan dana Rp1,4 Miliar dengan total alokasi Rp103,79 Triliun.

Anggaran Dana Desa pada 2018 pun naik signifikan 72,9% dari tahun sebelumnya. Sebab, pemerintah total menyediakan Dana Desa Rp60 Tiliun pada 2016. Rata-rata setiap desa hanya menerima alokasi dana Rp800,4 Juta. Adapun tahun 2016, setiap desa mendapatkan bantuan Rp643,6 Juta. Menariknya jumlah ini juga naik signifikan 126% atau surplus Rp26,22 Triliun dari tahun 2015.

“Optimalisasi Dana Desa untuk pengembangan Desa Wisata sangat mungkin. Sebab, ada banyak aspek mendukung. Pemanfaatan dana ini untuk Desa Wisata tentu menjadi bagian koloborasi besar Kemenpar dengan Kemendes PDTT,” jelas Dadang lagi.

Seiring peningkatan anggarannya, jumlah desa penerimanya juga bertambah. Pada 2017, total terdapat 74.954 desa di seluruh Indonesia yang menerima Dana Desa. Jumlah tersebut pun surplus 200 desa dari penerima tahun 2016.

Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Regional I Kemenpar Lokot Ahmad Enda mengatakan, optimalisasi Dana Desa bisa dilakukan destinasi di Kawasan Danau Toba.

“Sama seperti wilayah lainnya, Kawasan Danau Toba sangat ideal bagi penanaman investasi dari Dana Desa. Desa-desa di sana memiliki potensi khas berupa alam, budaya, dan manmade-nya. Jika digunakan untuk bisnis, bisa jadi dana tersebut akan berkembang,” kata Lokot.

Secara perinsip, penggunaan Dana Desa digunakan untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Konsep penyelenggaraannya secara swakelola. Desa Wisata merupakan pengaplikasian riil dari Dana Desa.

Sebab, di situ ada pengembangan produk handycraft, pelatihan guide dan bahasa asing, lalu Pembangunan Pusat Informasi Turis.

Lebih luas, Dana Desa juga bisa dikembangkan jadi konsep industri. Kanalnya melalui pengembangan ekonomi kreatif desa, seperti souvenir dan restoran. Dan, dana itu masih terbuka bagi pengembangan infrastruktur pendukung jalan dan jembatan desa. Lokot menambahkan, alokasi penggunaan Dana Desa sesuai dengan pilar pendukung pariwisata.

“Realisasi pengaplikasian Dana Desa sangat sejalan dengan pariwisata. Sebab, semuanya mendukung. Dana Desa juga sudah terserap dan diaplikasikan dengan baik di sekitar Kawasan Danau Toba. Sekarang tinggal prioritasnya yang harus dibicarakan lebih lanjut. Harapannya, Dana Desa itu menyentuh banyak aspek dan lebih memberi kesejahteraan langsung bagi masyarakat,” lanjut Lokot.

Mengacu aktivitas tahun 2017, prioritas penggunaan Dana Desa ada 2. Pertama, pengembangan produk unggulan desa dan produk unggulan kawasan perdesaan. Kedua, BUMDesa dengan hasil 6 elemen. Ada peningkatan kapasitas manajerial, perluasan akses pasar, dan penciptaan iklim usaha kondusif. Aktivitas lainnya berupa, peningkatan skala ekonomi, penyediaan sarpras pasca panen, dan bantuan modal.

“Dana Desa sangat potensial untuk mendorong pengembangan Desa Wisata. Anggaran tersebut dikelola dan dinikmati oleh desa. Kami akan membantu melalui optimalisasi branding, pelatihan sumber daya manusia, dan beragam dukungan lainnya. Dengan begitu, arus wisatawan yang masuk besar dan nilai transaksi yang dihasilkan menjanjikan,” tutup Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.(*)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved