Kain Tenun Tais Belu Jadi Primadona di Festival Wonderful Indonesia Motaain

Digelar 17-18 Agustus 2019, beragam corak dan motif kain tenun Atambua menghiasi event tersebut. Keberadaannya pun digemari dan diburu pengunjung.

Kain Tenun Tais Belu Jadi Primadona di Festival Wonderful Indonesia Motaain
dok. Kemenpar

Festival Wonderful Indonesia di PLBN Motaain menjadi etalase terbaik kain tenun Atambua. Digelar 17-18 Agustus 2019, beragam corak dan motif kain tenun Atambua menghiasi event tersebut. Keberadaannya pun digemari dan diburu pengunjung.

"Kain tenun Atambua menjadi sebuah mahakarya terbaik bagi wisatawan. Kain ini pun sangat terkenal di mancanegara. Kain ini selalu laris di berbagai pameran yang diadakan diluar negeri," kata kata Deputi Bidang Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani, Minggu (18/8).

Wajar jika kain yang lebih dikenal Tais Belu begitu digemari. Coraknya yang khas, warna yang menarik membuatnya begitu menonjol. Apalagi Tais Belu dibuat dengan bahan-bahan alami yang berkualitas.

Benangnya dibuat dari kapas. Pemawarnya dibuat dari berbagai pewarna alam. Pewarna alami yang digunakannya antara lain daun jati, batang mahoni, indigo vera, suji, kunyit, akar mengkudu dan daun pucuk jati.

Maria Goreti Pisoi, salah satu penjual Tais Belu menuturkan, jika kain tenun ini bukanlah kain biasa. Tais Belu memiliki fungsi kuat dalam kehidupan adat masyarakat Atambua. Dari mulai untuk mas kawin, pesta maupun kematian.

Dahulu, kerajinan tenun lebih merupaan produksi sambilan terutama di musim kemarau. Pengerjaannya khusus oleh kaum wanita demi kebutuhan adat dan diperjual belikan di kalangan sendiri.

"Tadinya nilai kain dalam konteks ini lebih ditentukan oleh nilai adat dan bukan berdasarkan harga pasar. Seiring perkembangan, kini Tais Belu berkembang menjadi buah tangan yang digemari," kata Maria.

Bagi Maria, menenun adalah kehidupan, untuk mengais rezeki sekaligus upaya melestarikan budaya adat setempat. Kemampuannya menenun pun didapatkannya dari sang mama. Dalam satu bulan dirinya mampu menjual 30 sampai 50 helai kain. Bahkan tak jarang dirinya mendapat pesanan dalam jumlah banyak dari Timor Leste. Maklum secara adat budaya, Atambua dan Timor Leste masihlah sama.

"Dengan menenun saya bisa membantu perekonomian keluarga. Dalam satu bulan saya bisa menjual 30 sampai 50 helai Tais Belu. Keuntungannya sangat membantu perekonomian keluarga. Semoga makin sering kami para pengrajin diajak untuk memamerkan hasil Tais Belu kami sehingga makin banyak wisatawan yang mengenal Tais Belu," ucapnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan Kemenpar terus mendorong sektor pariwisata di perbatasan. Karena tak dapat dipungkiri pariwisata membawa banyak manfaat bagi perekonomian masyarakat. Terlebih lagi UMKM yang merupakan sektor perekonomian yang datang langsung dari masyarakat. Selain itu hal ini semakin membuat budaya serta adat istiadat semakin lestari.

"Budaya itu semakin dilestarikan semakin mensejahterakan. Contohnya Tais Belu yang kini menjadi primadona. Karena kekuatan budayanya menjadi sebuah nilai tersendiri yang mengundang wisatawan datang. Kemenpar tidak akan pernah berhenti mendorong perkembangan berbagai kain tenun yang ada di Indonesia," kata Menteri asal Banyuwangi itu.(*)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved