Breaking News:

Kemenhub Luncurkan COACH: Manajemen Limbah Kapal Terpadu di Pelabuhan Tanjung Priok

Ada tiga hal yang harus kita perhatikan dalam manajemen limbah kapal terpadu ini. Pertama adalah trust, harus ada kepercayaan antara seluruh pihak.

Kemenhub
Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama, Capt. Wisnu Handoko pada acara Podcast Syapa, Syahbandar Utama Tanjung Priok Menyapa, yang ditayangkan perdana, (19/11). 

TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Perhubungan Cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut melalui Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Priok meluncurkan program Manajemen Limbah Kapal Terpadu di Pelabuhan Tanjung Priok pada Jumat (20/11).

Mengangkat logo bergambar kapal berwarna hijau bertuliskan COACH, Clean Ocean Act Collaboration and Harmonize, yang memiliki arti bahwa laut yang bersih dapat diciptakan dengan kolaborasi dan harmonisasi dari seluruh pihak yang terlibat. Adapun semboyan dari Program tersebut adalah Trust, Transparency, Timing.

“Ada tiga hal yang harus kita perhatikan dalam manajemen limbah kapal terpadu ini. Pertama adalah trust, harus ada kepercayaan antara seluruh pihak yang terlibat. Kedua, tranparansi. Harus ada kejujuran, misalnya berapa volume dan jenis sampah aja yang dimiliki. Ketiga, timing. Harus dikoordinasikan dengan baik terkait waktu penurunan sampah antara pemilik kapal dengan pihak pengelola sampah,” demikian dijelaskan oleh Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama, Capt. Wisnu Handoko pada acara Podcast Syapa, Syahbandar Utama Tanjung Priok Menyapa, yang ditayangkan perdana, (19/11).

Wisnu mengatakan, Program Manajemen Limbah Kapal Terpadu yang digagasnya ini diharapkan dapat memberikan panduan bagi pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan limbah di Pelabuhan, baik dari sisi Pemerintah selaku regulator, Operator Pelabuhan, pihak pengguna jasa Pelabuhan (perusahaan Pelayaran, keagenan kapal, dan lain-lain), serta pihak perusahaan jasa tranportasi limbah dan penerima limbah.

Program ini, lanjut Wisnu, diharapkan dapat menciptakan keterpaduan dalam menentukan dan melaksanakan strategi pengelolaan limbah kapal antara pemangku kepentingan, serta meningkatkan sinergi dalam pengerahan sumber daya, meliputi SDM, sarana dan prasarana, metode, prosedur, biaya, dan juga tarif.

“Tujuan utamanya tentunya adalah mengurangi dampak pencemaran dari limbah yang berasal dari kapal hingga sampai ke level yang aman bagi Kesehatan manusia dan lingkungan, sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku,” ujar Wisnu.

Ruang Lingkup dari manajemen limbah kapal terpadu ini adalah pengelolaan limbah kapal untuk semua jenis limbah yang berasal dari kapal (Ship Generated Waste) seperti dari pengoperasian permesinan kapal, pemeliharaan kapal, kegiatan domestik kapal (dapur, cucian, kamar mandi), pembersihan muatan dan ruang muat, termasuk limbah sisa muatan (Cargo Residues) yang diangkut kapal yang tidak dapat dibongkar bersama muatan pada saat proses bongkar muat.

“Namun demikian, manajemen limbah kapal terpadu ini tidak termasuk penanganan barang/muatan berbahaya yang merupakan bagian dari muatan yang diangkut oleh kapal, karena untuk muatan telah diatur di dalam IMDG dan manajemen penanganan muatan/barang berbahaya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wisnu mengunkapkan, Program Manajemen Limbah Kapal Terpadu ini dibuat dan disusun secara bersama-sama oleh Kantor Syahbandar Utama Tanjung Priok, Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok dan PT. Pelindo II, yang permberlakuannya hanya di wilayah Pelabuhan Tanjung Priok.

“Kami memanfaatkan perkembangan teknologi informasi untuk mendukung Program Manajemen Limbah Kapal Terpadu ini, dengan menggabungkan dua sistem existing milik Kementerian Perhubungan, yakni Sistem Pelaporan Kapal Inaportnet, dengan Port Waste Management System milik PT. Pelindo 2,” terang Wisnu.

Halaman
12
Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved