Breaking News:

Virus Corona

Terdampak Covid-19, Ini Langkah Kemenhub Tingkatkan Kinerja Industri Pelayaran Indonesia

Bantu kinerja industri pelayaran dan pergerakan ekonomi nasional di masa pandemi, Kemenhub percepat proses bongkar muat petikemas di pelabuhan.

TRIBUN JATENG/TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA
Sejumlah kendaraan besar membawa peti kemas terlihat melakukan aktivitas bongkar muat di pintu exit terminal barang Jalan Arteri Yos Sudarso Semarang, Jawa Tengah, Senin (3/2/20). PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) adalah salah satu Pelabuhan yang dianggap lebih efisien dan menjadi alternatif kapal-kapal barang untuk melakukan bongkar muatan karena letak pelabuhan Tanjung Emas berada di Tengah Pulau Jawa. Selain itu jika Pelabuhan di Kendal sudah beroperasi maka jalur Kendal Semarang akan menjadi jalur favorit kapal petikemas untuk melakukan bongkar muat di Semarang dan Kendal. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mempercepat proses bongkar muat petikemas di pelabuhan, sebagai upaya membantu kinerja industri pelayaran dan pergerakan ekonomi nasional.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub Agus Purnomo mengatakan, pandemi Covid-19 membuat kinerja industri pelayaran terdampak karena biaya pengangkutan peti kemas atau biaya kargo yang meningkat secara global.

"Dampak biaya kargo yang meningkat ini, membuat waktu pelayaran yang lebih lama dan terjadi penumpukan kontainer di pelabuhan dan bongkar muat juga menjadi lama," kata Agus dalam keterangannya, Senin (4/1/2021).

Baca juga: Kemenhub Temukan Pengguna Surat Rapid Test Palsu di Pelabuhan Samarinda

Maka dari itu, lanjut Agus, Kemenhub menyiapkan sejumlah langkah untuk membantu kesulitan yang dialami industri pelayaran.

"Pertama, kami akan mengawasi percepatan proses bongkar muat sehingga petikemas dapat segera didistribusikan dan kapal bisa berlayar kembali," ucap Agus.

"Kedua, kami juga akan mempercepat petikemas segera keluar dari pelabuhan sehingga kontainer segera dapat kembali ke depo dengan cepat," lanjutnya.

Sejumlah kendaraan besar membawa peti kemas terlihat melakukan aktivitas bongkar muat di pintu exit terminal barang Jalan Arteri Yos Sudarso Semarang, Jawa Tengah, Senin (3/2/20). PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) adalah salah satu Pelabuhan yang dianggap lebih efisien dan menjadi alternatif kapal-kapal barang untuk melakukan bongkar muatan karena letak pelabuhan Tanjung Emas berada di Tengah Pulau Jawa. Selain itu jika Pelabuhan di Kendal sudah beroperasi maka jalur Kendal Semarang akan menjadi jalur favorit kapal petikemas untuk melakukan bongkar muat di Semarang dan Kendal. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka)
Sejumlah kendaraan besar membawa peti kemas terlihat melakukan aktivitas bongkar muat di pintu exit terminal barang Jalan Arteri Yos Sudarso Semarang, Jawa Tengah, Senin (3/2/20). PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) adalah salah satu Pelabuhan yang dianggap lebih efisien dan menjadi alternatif kapal-kapal barang untuk melakukan bongkar muatan karena letak pelabuhan Tanjung Emas berada di Tengah Pulau Jawa. Selain itu jika Pelabuhan di Kendal sudah beroperasi maka jalur Kendal Semarang akan menjadi jalur favorit kapal petikemas untuk melakukan bongkar muat di Semarang dan Kendal. (Tribun Jateng/Hermawan Handaka) (TRIBUN JATENG/TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA)

Agar langkah tersebut lebih efektif, Agus mengungkapkan, pihaknya berharap kementerian dan lembaga negara terkait, melakukan percepatan yang sama.

"Kami berharap kementerian terkait bisa mendukung upaya yang dilakukan Kementerian Perhubungan, yaitu mempercepat proses pengeluaran long stay container di pelabuhan," ucap Agus.

Agus juga menjelaskan, adanya operator pelayaran jalur utama  atau main line operator diharapkan dapat memberi ruang muat dari Indonesia, untuk tujuan ekspor dan mampu menyediakan peti kemas 40 High Cube.

"Selain itu kami minta perusahaan pelayaran dalam negeri, yang tergabung dalam Indonesian National Shipowners Association (INSA)  mengambil peluang utk memanfaatkan ruang muat pelayaran luar negeri yang berkuran," ucap Agus.

Ia menambahkan, saat ini pihaknya juga mengimbau perusahaan eksportir melakukan substitusi dengan memakai peti kemas 20 feet untuk membuat kinerja pelayaran kembali bangkit.

Penulis: Hari Darmawan
Editor: Theresia Felisiani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved