Senin, 11 Mei 2026

Rehabilitasi Pascabencana

Pembangunan Huntap Penyintas Bencana Sumatera Capai 357 Unit, Penyintas Segera Tinggalkan Huntara

Satgas PRR catat 357 huntap telah selesai dibangun di Aceh, Sumut, dan Sumbar per 11 Mei 2026, naik 43,9 persen dalam 3 hari.

Tayang:
Editor: Content Writer
dok. Kemendagri
PEMBANGUNAN HUNTAP SUMATERA - Hunian tetap (huntap) bagi penyintas bencana hidrometeorologi di Sumatera yang sedang dalam tahap penyelesaian. Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera mencatat sebanyak 357 unit huntap telah selesai dibangun di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat per 11 Mei 2026, meningkat 43,9 persen dalam tiga hari terakhir. 

TRIBUNNEWS.COM - Pembangunan hunian tetap (huntap) bagi penyintas bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus menunjukkan kemajuan.

Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera memastikan pembangunan huntap dilakukan secara bertahap dengan tetap menjaga kualitas bangunan agar aman dan layak dihuni dalam jangka panjang.

Berdasarkan data Satgas PRR per Senin (11/5/2026), total huntap yang telah selesai dibangun di tiga provinsi terdampak mencapai 357 unit. Jumlah tersebut meningkat dibanding Jumat (8/5/2026), yang tercatat sebanyak 248 unit.

Artinya, dalam tiga hari terakhir, terdapat penambahan 109 unit huntap selesai atau naik sekitar 43,9 persen. Secara keseluruhan, kebutuhan huntap di tiga provinsi mencapai 39.335 unit dengan 996 unit masih dalam tahap pembangunan.

Aceh menjadi wilayah dengan kebutuhan terbesar, yakni 28.910 unit, disusul Sumatera Utara 7.601 unit dan Sumatera Barat 2.824 unit. Di Aceh, sebanyak 108 unit huntap telah selesai dibangun dan 719 unit masih berproses.

Baca juga: Ribuan Hektare Sawah Terdampak Bencana Kembali Ditanami, Satgas PRR Genjot Pemulihan

Sementara, di Sumatera Utara, progres pembangunan menunjukkan perkembangan cukup signifikan dengan 227 unit selesai dan 225 unit masih dalam pengerjaan. Adapun di Sumatera Barat sebanyak 22 unit huntap telah selesai dibangun dan 52 unit masih berproses.

Pembangunan huntap tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, pemerintah daerah, hingga organisasi kemanusiaan seperti Buddha Tzu Chi Indonesia dan Kadin Indonesia.

Juru Bicara Satgas PRR Amran mengatakan, pembangunan huntap memang membutuhkan proses lebih panjang dibanding hunian sementara (huntara) karena pemerintah ingin memastikan kualitas bangunan tetap terjaga.

"Huntap ini memang punya tahapan yang agak panjang untuk menjamin kualitas tempat tinggal karena sebagai hunian tetap, tidak bisa langsung kita paksakan untuk tuntas dalam waktu dekat seperti halnya huntara," ujar Amran dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Senin.

Amran menambahkan, para penyintas saat ini telah dipastikan mendapatkan tempat tinggal sementara yang layak melalui pembangunan huntara. Hal ini dilakukan sambil menunggu proses pembangunan huntap selesai secara bertahap sesuai data penerima yang ditetapkan pemerintah daerah.

Baca juga: Satgas PRR Salurkan Rp1,9 Triliun untuk Revitalisasi Ruang Kelas Nyaman di Wilayah Terdampak

"Huntap ini didorong untuk bisa secepatnya selesai. Tentunya dalam tahapan, kualitas tetap terjaga. Ada tahapan-tahapan untuk menjamin kualitas dan juga proses," tutup Amran.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved