Selasa, 7 April 2026

Tingkat Kematangan Steak Penentu Kelezatan

DA

Editor: Kisdiantoro
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ricky Reynald Yulman

DAGING steak kebanyakan merupakan daging sapi impor. Di antaranya daging sapi Australia, Selandia Baru, US prime, matsusaka, wagyu, dan daging Kobe. Konon cara sapi diternakkan dan jenis rumput yang dimakan turut mempengaruhi kualitas daging yang dihasilkan.

Dua penentu kelezatan menu steak lainnya yaitu tingkat kematangan daging dan jenis saus yang digunakan. Keduanya memang kembali ke selera masing-masing orang. Jadi jangan ragu menyampaikan pilihan saus serta tingkat kematangan daging kepada para pramusaji.

Steak yang dimasak well done berarti tidak lagi terlihat warna merah dan suhunya ketika selesai dimasak, mencapai 80 derajat celcius. Steak ini terasa lebih keras dibanding steak yang dimasak medium atau rare, karena kandungan air di dalam steak lebih banyak menguap.

Steak medium adalah cara memasak tengah-tengah di antara rare dan well done. Bagian tengah masih berwarna merah dan sisinya berwarna merah muda. Suhu daging ketika selesai dimasak sekitar 70 derajat celcius. Sedangkan pada steak rare sebagian besar permukaan daging masih berwarna merah. Suhu daging ketika selesai dimasak sekitar 60 derajat celcius.

Chef Rusiadi dari Savoy Homann Bidakara, menjelaskan, tersedianya beberapa jenis saus steak di suatu tempat makan steak membuat konsumen punya pilihan. "Paling tidak konsumen bisa mencoba rasa saus steak berbeda supaya tidak cepat merasa cepat bosan ketika menyantap steak," jelasnya.

Aneka rasa saus steak yang dibuat dengan aneka rempah dan bumbu pilihan, tentunya bukan sekadar penghias. Tapi sekaligus pelengkap citarasa steak. Jenis saus yang biasa ditawarkan yaitu blackpepper (saus lada hitam), barbeque, mushroom (saus jamur), maitre'd butter, dan bernaise.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved