Keunikan Gambar Ilustrator Majalah Ini Begitu Memikat

Karya Wedha Abdul Rasyid atau akrab disapa Wedha, seorang ilustrator dari majalah HAI era 1990-an begitu memikat sebagian pecinta gambar.

Keunikan Gambar Ilustrator Majalah Ini Begitu Memikat
TRIBUN JAKARTA/AGUSTINA N.R
Komunitas Wedha s Pop Art Portrait

Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Agustina N.R

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Karya Wedha Abdul Rasyid atau akrab disapa Wedha, seorang ilustrator dari majalah HAI era 1990-an begitu memikat para pecinta gambar. Berawal dari gemar melihat gambar inilah kemudian terbentuk komunitas Wedha's Pop Art Portrait (WPAP) community.

Rupanya gambar yang mereka amati tidaklah biasa. Goresan garis lurus, dengan gaya kubisme atau kotak-kotak dengan warna-warni cerah, yang membentuk sebuah figur wajah yang diinginkan menjadi daya tarik keunikan gambar ini. Karya tersebut disebut Wedha's Pop Art Portrait (WPAP).

"Awalnya saya dan teman-teman interaksi di Facebook, kami termasuk penggemar pak Wedha dan karyanya," ujar Itock Soekarso, pengurus WPAP Community kepada Tribun di Jakarta.

Melalui social media, mereka masuk ke blog milik Wedha, di blog tersebut terdapat tutorial membuat style gambar WPAP. Mereka membuat gambar, lalu menpublikasikannya. Bagi Itock dan kawan-kawan, seni WPAP cukup menarik untuk generasi muda. Karya tidak hanya ditampilkan lewat dunia maya, tapi layak diperlihatkan ke publik secara real.

Pada awal 2010, mereka membentuk komunitas bernama WPAP Community. Kemudia mereka sempat bertemu dengan Wedha untuk belajar WPAP.

"Beliau cukup bermurah hati mengajarkan ilmu yang dipunyai," lanjut pria yang berprofesi sebagai arsitek ini.

Akhir 2010, mereka menggelar pameran dengan menampilkan 100 karya WPAP Wedha dan komunitas. Karya komunitas telah dikurasi oleh Wedha, jika lolos karya layak tampil. Meskipun sebagian karya komunitas menggunakan teknik digital.

"Dari situ lah, banyak respon orang-orang ingin bisa, di sisi lain teknik ini bisa dipelajari."

Saat ini, anggota WPAP telah mencapai tujuh ribu orang. Baik dari dalam maupun luar negeri, baik anggota yang ingin berkarya atau yang sebatas suka (tanpa melukis). Keanggotaan ini pun gratis, tanpa pungutan biaya apapun. Jika kita tertarik, cukup login di website www.wpapcommunity.com.

Kemudian, kita ingin menggambar, kita akan dibimbing anggota yang expert dalam WPAP, mulai dengan tingkat mudah sampai kerumitan tinggi. Setelah selesai, karya akan diberikan komentar, serta masukan tentang kekurangan dan kelebihan.

"Nggak cuma orang-orang yang berlatar seni saja, tapi ibu rumah tangga sampai dokter senang melukis WPAP. Karena WPAP punya daya tarik tersendiri, color yang ditampilkan unik," kata Itock.

Seiring berjalannya waktu, WPAP bukan hanya dianggap sebagai style, tetapi teknik. Jadi tak cuma melukis sebuah portrait, tetapi bisa melukis tentang human interest, seperti penari, karapan sapi, sabung ayam, atau kehidupan sehari-hari. Dan ada beberapa karya komunitas yang layak, selanjutnya dikomersilkan. Dituangkan melalui kaos, mug, dan kalender. Sang creator akan mendapatkan royalti atau sistem beli putus.

"Di sini kebanyakan menggunakan digital, tetapi buat mereka yang sudah fasih digital, biasanya memelajari WPAP manual, ada juga dari ide komputer lalu dilukis di kanvas, atau diproyeksikan dari komputer ke kanvas," cerita Itock tentang anggota WPAP Community.

Penulis: Agustina Rasyida
Editor: Anita K Wardhani
Sumber: TribunJakarta
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved