Breaking News:

Selangkah Menjadi Desainer Busana Muslim

Fashion adalah karya seni. Dalam mendesain busana, bebas berekspresi dan berkreasi itu penting.

TRIBUNNEWS/HERUDIN
Berbagai produk busana muslim dipamerkan di Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF) 2013 di Balai Sidang Jakarta Pusat, Jumat (31/5/2013). Sekitar 182 brand memeriahkan pameran busana muslim yang memberikan kesempatan para desainer Indonesia untuk menampilkan koleksi busana muslim bernuansa lokal sesuai tema tahun ini, Style Unlimited. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Boleh dibilang, bisnis busana muslim sedang bergeliat dewasa ini. Menjamurnya brand-brand baru busana muslim, festival fashion busana muslim, dan desainer muda busana muslim, bisa jadi buktinya.

Tak heran jika misi ambisius pemerintah adalah menjadikan Indonesia sebagai pusat mode busana muslim tahun 2025. Namun sebelum menuju ke sana, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Begitu banyak desainer busana muslim yang bermunculan. Sayang, beberapa diantaranya hanya sekedar mengikuti arus atau "ikut-kutan" karena bisnis ini cukup menjanjikan. Alhasil, produk yang dihasilkan tak sepenuhnya berkualitas dan bernilai daya saing lebih. Parahnya lagi, desain adalah hasil jiplakan. Padahal penting buat seorang desainer untuk memiliki sebuah identitas desain, supaya pembeli mudah mendiferensiasikan produknya dengan yang lain.

Dalam Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF) yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center, 30 Mei hingga 2 Juni lalu, beberapa pakar mode berbagi ilmu tentang seluk beluk dunia desain dan berbisnis mode.

Hal apa saja yang dibahas dalam workshop tersebut? Berikut ulasannya:

Out of The Box, (But) Go Inside the Box
Fashion adalah karya seni. Dalam mendesain busana, bebas berekspresi dan berkreasi itu penting. Tapi ada saatnya untuk mengerem kekreatifan Anda. Mengapa? Karena ini soal bisnis, Anda tidak mendesain untuk diri sendiri, melainkan untuk orang banyak. Bagaimana busana Anda dapat diterima, kalau tidak sesuai selera dan perilaku pasar (bisa diketahui melalui research market). Ada pula konteks kebudayaan yang harus desainer pahami.

"Desainer harus out of the box, tapi di saat yang bersamaan juga go inside the box - memperhatikan pakem yang ada," ujar Era Soekamto dalam workshop "Playing with Details".

Sebelum mendesain ada baiknya desainer menemukan DNA atau karakteristik konsep busana yang akan ditawarkan ke khalayak luas. Lalu melakukan riset pasar sehingga desainer dapat fokus menentukan pelanggan mana yang akan dipuaskan.

Pada dasarnya, kata Era, kepuasaan konsumen terhadap produk dibagi menjadi tiga tahapan yaitu functional effect, emotional benefit, spiritual approach.

Functional effect maksudnya konsumen berbusana kerana fungsinya saja. Adapun emotional benefit adalah tahapan saat konsumen memakai busana bukan karena fungsinya saja, melainkan untuk memenuhi kepuasaan batinnya.

Halaman
123
Penulis: Daniel Ngantung
Editor: Dewi Agustina
Sumber: TribunJakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved