Mengapa Anak Muda Jepang Tak Suka Makanan Tradisional Washoku?
Cukup mengagetkan penuturan chef restoran Jepang ternama ini yang juga promotor Washoku, makanan tradisional
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo, Jepang
TRIBUNNEWS.COM - Cukup mengagetkan penuturan chef restoran Jepang ternama ini yang juga promotor Washoku, makanan tradisional Jepang ke Unesco untuk pendaftaran tahun 2011 agar tercatat sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage) yang akhirnya berhasil tercatat dan diumumkan Rabu 4 Desember lalu.
Yoshihiro Murata, Chairman Japanese Culinary Academy (JCA) yang juga pemilik restoran kelas atas Jepang, asli Kyoto, Kikunoi yang mendapatkan tiga bintang Michelin mengungkapkan, "Anak muda Jepang tahunya hanya hamburger, kare, dan spaghetti. Mereka tidak suka makanan Jepang Bahkan ada yang bertanya apa itu Washoku," paparnya kepada Tribunnews.com, Rabu (11/12/2013) di restoran Kikunoi cabang Tokyo.
Mengapa anak muda Jepang tak suka makanan Jepang? Ternyata menurut Murata, pembuatan makanan Jepang asli yang disebut Washoku itu, tidaklah mudah. Banyak bahan-bahan harus disediakan, makan waktu, harus ada ocha (teh hijau) harus ada lauk pauknya (okazu), tidak bisa hanya makanan satu jenis saja.
Makannya pun sedikit demikit satu per satu, bukan sekaligus, sehingga lama-lama terasa kenyang, "Semua itu adalah budaya tradisional Jepang yang harus dijaga dengan baik oleh bangsa Jepang sendiri. Itulah sebabnya saya mengusulkan sejak lama agar Washoku didaftarkan ke Warisan Budaya Dunia, agar nantinya bangsa Jepang sendiri dapat melestarikannya, membuat sistem sendiri, pendidikan, sehingga bisa diberikan ke generasi muda lainnya."
Karena ruwet dan cukup banyak keterlibatan banyak makanan dan bahan-bahan, orang Jepang terutama anak mudanya mengatakan, "Mendokusai" merepotkan ah, makanya tidak suka makanan Jepang.
"Mereka terbiasa makanan yang sederhana tersebut karena memang mudah dibuat, mamanya tak ada waktu membuat makanan yang ribet, jadi akhirnya menyediakan makanan sederhana seperti itu, sehingga anak-anak sekarang justru mengenal makanan barat ketimbang makanan Jepang. Bahkan ada yang menyangka hamburger itu makanan Jepang karena dia makan sejak masih kecil disajikan oleh orangtuanya hingga kini."
Dengan terdaftar di Warisan Budaya Dunia, Murata yakin makanan tradisional Jepang akan dapat lebih baik lagi, karena semua pihak pasti akan terlibat untuk menjaga kelestarian ini dengan baik, "Olehkarena itu di dalam negeri juga justru perlu lebih giat lagi promosi mengenai Washoku. Demikian pula kita perlu promosi ke luar Jepang pula," tambahnya.
Karena itu Murata berharap banyak chef asing datang ke Jepang untuk belajar tiga bulan misalnya, lalu kembali ke negarany amembangun restoran Washoku Jepang, "Bisa juga sih sebaliknya, kita ke Indonesia, misalnya, lalu memberikan training ke beberapa tempat untuk mempromosikan Washoku ini. Kalau investasi kan bukan urusan Yayasan JCA karena perlu uang dan perhitungan bisnis lain bukan?"
Menjadi masalah, tambahnya, apabila chef asing setelah training misalnya tiga bulan di Jepang, lalu bekerja cari duit secara profesional di Jepang, tampaknya sulit. Ini karena peraturan imigrasi Jepang yang belum memungkinkan tampaknya, "Bagi saya sih tak masalah chef asing bekerja di Jepang. Kita semua chef di dunia saya rasa sama pikirannya yaitu bagaimana bisa menyajikan makanan paling enak kepada konsumen. Sedangkan soal izin tinggal dan lainnya, itu memang perlu pengertian dan kerjasama dengan kementerian terkait di Jepang. Toh kalau para chef asing mengerti Washoku dan mengembangkan sendiri, melebarkan sayap, Washoku pun akan semakin populer di mana-mana," lanjutnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20131211_195924_yoshihiro-murata_ok.jpg)