Jumat, 29 Mei 2026

Anak Tidak Terkontrol Gunakan Gadget, Ini Dampaknya

Penggunaan waktu liat layar elektronik termasuk televisi, komputer disarankan adalah 30–60 menit per hari, untuk usia 0- 2 tahu dilarang

Tayang:
Penulis: Eko Sutriyanto

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Survei Asian Parent pada sekitar 2.500 orangtua di negara Asean menemukan ternyata 99% anak main gadget di rumah.

Sebanyak 71 persen bermain saat bepergian dan 70 persen bermain di rumah makan, 40 persen main di rumah teman dan 17 persen bermain di sekolah.

Psikolog keluarga,  Astrid WEN, MPsi mengatakan, tidak bisa dipungkiri anak sekarang lahir di era digital sehingga bukan hal yang mengherankan jika mereka sudah kenal gadget sejak bayi.

Ini senada dengan penelitian yang pernah dilakukan mahasiswa psikologi Universitas Indonesia, yang melihat preferensi orangtua memilih alat permainan tahun 2012 di area Jakarta, ternyata sebagian orangtua memberikan gadget pada orangtua karena menginginkan anaknya pintar.

“Gadget dijadikan pilihan pertama, disusul lego, balok-balok kontruktif, puzzle dan sebagainya. Mainan seperti boneka handuk yang lembut yang membantu mengatasi kecemasan anak, justru tidak favorit dan menjadi pilihan terakhir orangtua,” ujar Astrid talkshow Anak Kecanduan Gadget, Sudahkah Orangtua Berkaca yang diadakan Forum Ngobras dan Jaga Diri di Jakarta, Kamis (24/11/2016) .

Meskipun internet addiction belum dikenal di Indonesia, namun di negara maju masalah ini sudah dianggap sebagai ancaman serius bagi masa depan anak-anak, bahkan di Inggris, biaya terapi untuk mengatasi kecanduan gadget sangat mahal.

"Oleh karena itu mencegah menjadi solusi lebih baik dan dilakukan sejak dini," kata pendiri PION Clinition dan inisiator Theaplay Indonesia ini.

Lantas  apakah gadget untuk anak itu berbahaya?

"Kata bahaya sebenarnya tidak terlalu tepat. Anak mengenal gadget boleh saja, hanya saja ada dua aspek yang harus dipertimbangkan yaitu konten (pornografi, kekerasan) dan waktu/durasinya," katanya.

Dikatakannya, kebanyakan anak menghabiskan waktu bermain gadget berjam-jam sehingga mengorbankan waktu untuk melakukan eksplorasi khas anak-anak, misalnya bergerak, berlari, dan berinteraksi dengan orang sekitar.

“Anak-anak yang main gadget secara intens berjam-jam umumnya tidak memperhatikan orang lain di sekitarnya, padahal ini sangat penting untuk perkembangannya,” ujar Astrid.

Kerugian lain dengan bermain gadget tanpa terkontrol adalah waktu istirahat anak berkurang yang berdampak untuk perkembangan fisik, dan menurunkan kesempatan anak mengembangkan kemampaun berpikir.

“Pada akhirnya anak tidak tumbuh menjadi orang-orang yang dapat merefleksikan dan mengekspresikan diri,” jelas Astrid.

Tanda-tanda anak sudah berlebihan menggunakan gadget yang mengarah pada kecanduan di antaranya lupa waktu, anak mudah marah saat permainannya diinterupsi, pekerjaan rumahnya terbengkalai atau tidak selesai, menarik diri dari ligkungan dan sering bermain gadget dengan cara secara sembunyi-sembunyi.

Dampaknya di masa depan adalah pada masalah kontrol diri. Ada risiko anak memiliki sifat narsistik.

“Anak-anak sekarang lebih sadar dengan ekspresi wajah. Ini sebenarnya baik. Masalahnya, orangtua suka memaksakan anak harus menunjukkan wajah tersenyum saat selfie sehingga dipaksakan. Seharusnya anak-anak dibiarkan memiliki ekspresi natural,” katanya.

Dampak lebih jauh adalah kemampuan bersosialisasi yang kurang terasah sehingga mereka kesulitan berteman, merasa kesepian bahkan berisiko mengalami depresi dan gangguan kecemasan.

Terkait persepsi orangtua yang beranggapan bahwa anak menjadi lebih pintar karena terbiasa menggunakan gadget, Astrid menekankan bahwa penggunaan gadget harus mengikuti aturan main.

Penggunaan waktu layar elektronik (termasuk komputer dan televisi) yang disarankan adalah 30 – 60 menit per hari, sementara anak usia 0 - 2 tahun, dilarang sama sekali.

Tips bagi orangtua:
- Tidak membiarkan anak bermain gadget di waktu makan
- Tidak membiarkan anak bermain gadget 1 jam sebelum tidur
- Orangtua sebaiknya matikan notifikasi suara.
- Lakukan pendampingan saat anak menggunakan gadget, meskipun hal ini masih sulit dilakukan sebagian orangtua bekerja.
- tetap berkomunikasi dengan anak dengan cara membatasi waktu penggunaan gadget, misalnya hanya 10 menit setiap kali main.
- Berikan kegiatan lain yang melibatkan interaksi dengan orangtua/orang dewasa lainnya. Ada tatapan mata, ada interaksi dua arah dan lainnya

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved