Ibu yang Baru Melahirkan Seperti Raisa Bisa Alami Baby Blues, Jangan Sepelekan Bisa Sebabkan Depresi

Di tengah kebahagiaannya menjadi seorang ibu, perjuangan Raisa masih panjang untuk merawat si kecil. Kerapkali ibu muda akan gangguan mood (baby blues

Ibu yang Baru Melahirkan Seperti Raisa Bisa Alami Baby Blues, Jangan Sepelekan Bisa Sebabkan Depresi
instagram
Foto Raisa dan Hamish Daud menimang bayi 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Apfia Tioconny Billy

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTARaisa melahirkan anak pertama. Kabarnya seorang putri lahir dari rahimnya pada Selasa (12/2/2019) dini hari di salah satu rumah sakit di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Kabar Raisa melahirkan tentunya sangat menggembirakan bagi pasangan baru ini.

Istri Hamish Daud ini sekarang telah menjadi ibu muda.

Di tengah kebahagiaannya menjadi seorang ibu, perjuangan Raisa masih panjang untuk merawat si kecil.

Nah, di tengah perjalanan merawat bayi, kerapkali menjadi ibu yang baru memiliki anak pertama kerap mengalami gangguan mood yang disebut dengan baby blues.

Baby blues ini tidak hanya karena kesulitan karena mengurus anak, tapi bisa juga karena pengaruh dari komentar negatif orang lain terhadap pola asuh yang diterapkan si ibu atau mom shaming.

Baca: Raisa Dikabarkan Melahirkan, Penjagaan di Rumah Sakit Ini Diperketat

Raisa dan anak pertamanya
Raisa dan anak pertamanya (istimewa)

Psikolog klinis keluarga, Monica Sulistiawati menyebutkan baby blues ini berawal dari stres, kemudian meningkat menjadi baby blues, dan jika tidak diatasi bisa menimbulkan depresi.

“Stres kalau gak diatasi bisa jadi baby blues kalau gak ditangani dua minggu si ibu bisa depresi pasca melahirkan,” kata Monica saat ditemui di Jakarta Pusat, Selasa (12/2/2019).

Bahkan jika sudah stress, ibu bisa saja melukai dirinya sendiri, anaknya, yang dapat menyebabkan rumah tangganya berantakan.

Raisa dan Hamish menimang bayi
Raisa dan Hamish menimang bayi ()

“Bisa jadi si ibu melukai anak, diri sendiri bahkan rumah tangga berantakan,” ungkap Monica.

Stres tersebut bisa ditangani dengan menceritakan permasalahan yang dihadapi kepada orang lain dan tidak harus psikiater tapi bisa juga ke suami, keluarga atau teman yang diandalkan.

Jika ke teman usahakan si support system tersebut seumuran agar mengerti permasalahannya.

“Kita keluar sebentar aja, tumbuhkan rasa happy, energizing kita jadi lebih waras kita ngobrol sebentar aja langsung happy karena kita banyak dapet informasi sehingga ketika itu terjadi gak panik lagi,” pungkas Monica.

Penulis: Apfia Tioconny Billy
Editor: Anita K Wardhani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved