Dukungan Sosial untuk Pencegahan, Perawatan dan Rehabilitasi Adiksi Game pada Anak

Jika sudah terjangkit dipastikan akan membuat rusak fokus belajar anak sehingga yang diperlukan adalah pedampingan orangtua

Dukungan Sosial untuk Pencegahan, Perawatan dan Rehabilitasi Adiksi Game pada Anak
istimewa
Ilustrasi main game 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Tidak hanya narkoba, menggunakan gadget untuk bermain game secara berlebihan pun tak baik buat anak.

Memang kemajuan teknologi juga berdampak positif tapi kita sebagai orangtua harus pintar-pintar memilah dan menularkan kepada mereka untuk mengatur waktunya sendiri.

"Akses internet pun juga berisiko kepada anak terjangkit adiksi pornografi," kata dr. Aisah Dahlan, CHt. seorang anggota komunitas neuronesia  saat jadi pembicara utama saat seminar neuroparenting bertema Anak dan Adiksi Game, Narkoba, dan Pornografi di Jakarta belum lama ini.

Jika sudah terjangkit dipastikan akan membuat rusak fokus belajar anak sehingga yang diperlukan adalah pedampingan orangtua.

Bambang Iman Santoso, salah satu Co-Founder Neuronesia  menyatakan, social support menjadi penting baik dalam upaya pencegahan, perawatan, rehabilitasi adiksi game, narkoba, dan pornografi.

Baca: Rafli Diminta Jangan Bikin Pernyataan yang Banyak Mudaratnya

Baca: Daftar HP yang Tak Bisa Gunakan WhatsApp Per 1 Februari 2020: Android 2010 hingga iPhone iOS 8

Baca: Sempat Baku Tembak, 3 Kurir Sabu Ditembak Mati Polisi, 288 Kg Sabu Senilai Rp 864 Miliar Diamankan

Social support adalah informasi verbal atau non-verbal, saran, bantuan yang nyata atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek di dalam lingkungan sosialnya atau yang berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkah laku penerimanya.

"Namun Jika diperlukan bisa dilakukan upaya pemberantasan dan tindakan represif," katanya.

Pola Asuh Natural

Bambang menambahkan,  pola asuh yang natural dan pendidikan anak yang menyesuaikan tahapan perkembangan otak anak menjadi sangat penting untuk diketahui oleh para orangtua dan dipraktikan ke dalam kehidupannya mereka sehari-hari.

“Peningkatan soft skill orangtua, terutama: cognitive flexibility dan komunikasi yang efektif antara anak dan orangtua menjadi kata kunci,” katanya.

Selain itu, berpikir terbuka, mau memperbaharui pengetahuannya, contoh mengetahui dan memahami proses tahapan perkembangan neuron atau sel-sel otak anak mulai dari proliferation, differentiation, myelination, dan synaptogenesis.

Baca: Tahanan Kabur Saat Tunggu Sidang di PN Bangkalan, Sempat Lompat Pagar

Baca: DAFTAR Merek HP yang Tak Bisa Pakai WhatsApp per 1 Februari 2020, Cek Ponselmu!

Baca: Bertemu Mendagri, Mantan Presiden Swiss Minta Masukan Pengendalian Narkoba

“Tidak ‘gaptek’, mengikuti perkembangan disrupsi teknologi. Otak kita plastis, dapat beradaptasi. Memahami konsep neuroplastisitas: neuron dan synaptic pruning, neurodegenerative, neurogenesis, serta neurocompensation,” katanya.

Bambang Imam mengajak agar orangtua sering-sering dan tidak bosan membantu mensosialisasikan dengan memberikan informasi dan pengetahuan ini kepada para orangtua, khususnya para ibu ini (neuromoms), seluas-luas mungkin.

“Agar mereka dapat mengerti apa yang terjadi sebenarnya pada diri anak, bisa melakukan pencegahan sedini mungkin. Bantu memberikan pemahaman kepada mereka dampak chemicals bahaya kerusakan otak yang berjangka panjang, dan merugikan setiap pemakainya,” katanya.

Dibantu dengan komunitas yang menamakan dirinya “Cukup Gue Aja” di bawah asuhan Yayasan Sahabat Rekan Sebaya, mereka para mantan pengguna yang sekarang bangkit berprestasi yang telah berhasil meninggalkan dunia hitamnya.

Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved