Benarkah Fenomena Matahari 'Lockdown' Bisa Timbulkan Gempa Bumi & Kelaparan? Ini Penjelasan LAPAN RI

Matahari disebut tengah memasuki fase minimun yang diduga bisa menimbulkan bencana. Berikut penjelasannya dari pihak LAPAN RI.

(NASA/SDO (AIA))
Ilustrasi matahari- Para ilmuwan menyebut, matahari kini masuk pada fase lockdown. Fase ini bisa menimbulkan bencana di bumi. Mulai dari gempa bumi hingga kelaparan. 

Bahkan, sinar ini juga dapat memicu adanya petir.

"Solar Minimum sedang berlangsung, dan itu yang dalam. Hitungan Sunspot menunjukkan bahwa ini adalah salah satu yang terdalam abad ini."

"Medan magnet matahari menjadi lemah, memungkinkan sinar kosmik ekstra ke tata surya."

"Kelebihan sinar kosmik menimbulkan bahaya kesehatan bagi para astronot dan wisatawan udara kutub, memengaruhi elektro-kimia atmosfer atas Bumi, dan dapat membantu memicu petir," katanya.

Para ilmuwan NASA pun khawatir akan adanya pengulangan Dalton Minimum yang terjadi pada 1790-1830.

Fenomena tersebut membuat musim dingin berkepanjangan, susah panen, kelaparan, hingga letusan gunung api yang kuat.

Bahkan suhu anjlok hingga 2 derajat celcius selama 20 tahun.

Hal ini membuat produksi pangan duni hancur.

Proses terjadinya Gerhana Matahari Cincin (GMC) yang dilihat dari tepian pantai Kampung Bunsur, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Kamis (26/12/2019). Durasi terjadinya GMC selama 3 jam 51 menit 4 detik, sedangkan durasi cincin berlangsung selama 3 menit 17 detik. Tribun Pekanbaru/Doddy Vladimir
Proses terjadinya Gerhana Matahari Cincin (GMC) yang dilihat dari tepian pantai Kampung Bunsur, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Kamis (26/12/2019). Durasi terjadinya GMC selama 3 jam 51 menit 4 detik, sedangkan durasi cincin berlangsung selama 3 menit 17 detik. Tribun Pekanbaru/Doddy Vladimir (Tribun Pekanbaru/Doddy Vladimir)

Baca: 4 FENOMENA Langit Mei 2020: Supermoon Terakhir hingga Matahari di Atas Kabah Pertama

Sementara itu, mengutip dari Daily Mail, fase lockdown matahari ini dapat menyebabkan ledakan "sprite".

Ledakan tersebut seperti cahaya oranye dan merah yang melesat keluar dari puncak badai seperti pohon-pohon setinggi 60 mil di langit.

Halaman
1234
Penulis: Inza Maliana
Editor: Miftah
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved