Fesyen Berkelanjutan Mulai Tumbuh Jadi Gaya Berbusana

Fesyen berkelanjutan mulai tumbuh belakangan ini untuk menjadikan gaya berbusana semakin ramah lingkungan.

Tribun Jogja/ Wahyu Setiawan Nugroho
ILUSTRASI: Seorang pengunjung saat memilih kain berbahan dasar dan proses alami alternatif dalam pameran fesyen etnik di Jadin Craft Textile Gallery. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Fesyen berkelanjutan mulai tumbuh belakangan ini untuk menjadikan gaya berbusana semakin ramah lingkungan.

Fesyen berkelanjutan menganjurkan sebanyak mungkin menggunakan unsur alam dalam busana dan perangkat pendukungnya.

Tidak berlebihan, karena tekstil yang menjadi bahan dasar busana banyak yang mengandung material kimiawi yang berpotensi mencemari lingkungan, terutama akibat pembuangan air pencuciannya.

Baca juga: Saat Muslim Fesyen Indonesia Dilirik Ibu Negara Turki Emine Erdogan

Jika di kota orang mulai gandrung dengan bahan tekstil dan busana ramah lingkungan, tetapi di pelosok Kalimantan Selatan, kaum perempuan memproduksi tekstil ramah lingkungan dalam bentuk kain tradisional yang dikenal dengan nama sasirangan.

Kain sasirangan aneka rupa ini menggunakan pewarnaan alam yang diambil dari tumbuh-tumbuhan yang ada di lahan gambut.

Kelompok Eco Teratai di Hulu Sungai Utara (HSU) dan Kelompok Aneka Karya Sasirangan di Kabupaten Balangan adalah dua dari beberapa kelompok pengrajin sasirangan yang sudah mampu memproduksi kain-kain berpewarnaan alam dengan baik.

Baca juga: Takut Tak Laku di Akting, Vinessa Inez Terjun ke Bisnis Fesyen

Produknya sudah dikenal luas dan juga dipasarkan secara online.

Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) membina kelompok-kelompok ini, mulai dari peningkatan keterampilan, pemasaran, pembentukan koperasi, hingga tata kelola organisasi yang baik.

Kedua kelompok mempunyai aturan yang mewajibkan setiap anggotanya menanam tumbuhan-tumbuhan yang dapat dijadikan bahan pokok pewarna alam. Termasuk di antaranya tanaman yang sudah mulai langka seperti kayu ulin.

Selain dengan pemasaran online dan mengikuti berbagai pameran di tingkat nasional dan daerah, dukungan pemerintah daerah juga menjadi kunci keberhasilan kelompok pengrajin sasitangan tersebuym

“Saat ini kami lagi mengerjakan pesanan Pemerintah Kabupaten HSU untuk menyediakan seragam bagi HUT Kabupaten. Jumlahnya sangat banyak dan perlu waktu cukup mengerjakan karena semua produk kami buatan tangan,” kata Linda dari Kelompok Eco Teratai, Rabu (21/4/2021)

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Balangan melalui Dinas yang mengurus UMKM juga memberi dukungan untuk peningkatan kapasitas para pengrajin.

Solidaritas antar kelompok terbangun baik di antara para pengrajin ini, di mana Kelompok pengrajin sasirangan di HSU, misalnya, menularkan pengetahuan pada kelompok di Balangan.

Sementara kelompok Aneka Karya Sasirangan di Balangan, mendukung kelompok pengrajin purun di desa mereka yang mulai bangkit, dengan membeli produk dan memasarkan bersama produk mereka.

Deputi Bidang Edukasi dan Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRGM, Myrna Safitri mengatakan, pengalaman dari desa-desa peduli gambut di Kalsel, menunjukkan soal melindungi ekosistem gambut, bukan semata soal teknis tetapi juga terkait dengan kebudayaan dan gaya hidup.

"Fesyen berkelanjutan menjadi penghubung kedua hal itu. Keanekaragaman hayati di lahan gambut terjaga dan makin kaya, ketika memberi pula manfaat ekonomi bagi masyarakat," tuturnya.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved