Breaking News:

Sekolah Daring Munculkan Dampak Psikologi yang Tidak Baik Bagi Anak-Anak

Menurut Psikolog anak dan remaja, Novita Tandry, banyak dampak yang disebabkan oleh belajar secara online selama pandemi ini.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Siswa SD sekolah online.Sekolah Daring Munculkan Dampak Psikologi yang Tidak Baik Bagi Anak-Anak 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Sekolah yang berada di sekitar Jakarta sudah menggelar pembelajaran tatap muka atau PTM sejak Senin, (30/8 2021).

Hal ini tentu menjadi kabar gembira bagi masyarakat. Pasalnya, anak-anak sudah melakukan pembelajaran secara virtual di rumah hampir dua tahun lamanya.

Menurut Psikolog anak dan remaja, Novita Tandry, banyak dampak yang disebabkan oleh belajar secara online selama pandemi ini.

Baca juga: Kemendikbudristek Luncurkan Aplikasi Si Kompeten untuk Sistem Sertifikasi Uji Kompetensi Daring

Baca juga: Kemendikbudristek: 490.217 Sekolah Diperbolehkan Gelar PTM Terbatas

Bahkan hampir dalam dua tahun terakhir, Novita menerima kenaikan konsultasi terkait.

"Hampir dua tahun melonjak tajam, masalah yang masuk bahkan meningkat hingga 400 persen," ungkapnya pada acara Jurnal Obrolan Bunda Bijak di Radio Sonora FM, Jumat (17/9/2021).

anak Jana menangis saat sekolah online
sekolah online (Facebook Jana Coombs/ KENS5)

Ia pun menyimpulkan ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh anak selama sekolah secara virtual. Pertama anak terancam putus sekolah.

Hal ini dikarenakan tidak semua anak punya privilage menggunakan akses internet dan pulsa. Apa lagi di area yang jauh dari pusat pemerintahan dan sulit terjangkau akses internet.

Belum lagi adanya kekerasan dalam rumah tangga yang tidak dapat dihindari selama di rumah. Baik antara suami istri bahkan anak-anak. Kekerasan pun bisa berupa verbal dan fisik.

Selain itu kata Novita hal yang paling tinggi dalam konseling nya adalah adiksi pornografi, LGBT, agnostik dalam penggunaan akses internet.

Dan yang terpenting, kecerdasan sosial dan emosi anak-anak semakin rendah karena tidak adanya komunikasidua arah.

"Bicara sopan santun, tata krama, etika dan integritas, buat saya dalam konseling, hal ini cukup menurun,"pungkasnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved