Senin, 25 Mei 2026

9 Hal yang Dapat Membatalkan Puasa Ramadhan, Muslim Perlu Tahu

Menjelang Ramadhan, setiap muslim perlu mengetahui hal-hal yang dapat membatalkan puasa dan hal makruh yang sebaiknya ditinggalkan.

Tayang:
Surya/Ahmad Zaimul Haq
PADAT JAMAAH - Suasana Ka'bah yang padat jamaah di Masjidil Haram, Makkah, Kamis (18/12/2025) malam. -- Menjelang Ramadhan, setiap muslim perlu mengetahui hal-hal yang dapat membatalkan puasa dan hal makruh yang sebaiknya ditinggalkan. 
Ringkasan Berita:
  • Ada banyak hal yang dapat membatalkan puasa di antaranya makan dan minum dengan sengaja, berhubungan suami istri di siang hari, berdusta, dll.
  • Selain itu ada banyak hal yang hukumnya makruh dan sebaiknya ditinggalkan bagi muslim yang berpuasa.
  • Kementerian Agama menjelaskan keutamaan puasa pada bulan suci Ramadhan, di antaranya dapat meningkatkan iman, diampuni dosa-dosanya, mendapat keberkahan, dll.

TRIBUNNEWS.COM - Menjelang bulan suci Ramadhan, muslim yang hendak berpuasa perlu mengetahui hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

Hal ini agar muslim dapat berpuasa dengan lancar dan dapat menghindari hal yang dapat membatalkan puasa.

Selain makan dan minum dengan sengaja, ada berbagai hal yang dapat membatalkan puasa, seperti berdusta.

Muslim juga sebaiknya meninggalkan hal-hal yang makruh bagi orang yang sedang berpuasa.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut daftar hal yang dapat membatalkan puasa dan hal yang makruh bagi orang yang berpuasa.

Hal yang Dapat Membatalkan Puasa

Dikutip dari laman resminya, Kementerian Agama menjelaskan beberapa hal yang dapat membatalkan puasa.

1. Makan dan minum dengan sengaja

Makan dan minum secara sengaja sejak terbit fajar hingga terbenam matahari merupakan pembatal puasa yang paling utama.

Puasa menuntut seseorang menahan diri dari kebutuhan jasmani sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, meskipun makanan dan minuman tersebut halal di luar waktu puasa.

Baca juga: 10 Manfaat Puasa untuk Kesehatan: Jaga Kesehatan Jantung hingga Hormon, Bantu Kurangi Kecemasan

Larangan ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar rutinitas, melainkan ibadah yang menuntut kejujuran dan kesungguhan.

Menahan lapar dan dahaga menjadi simbol pengendalian diri serta wujud penghambaan kepada Allah SWT.

“Setiap amalan Anak Adam kebaikannya dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah (khusus) bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya, ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku.” (HR. Imam Muslim)

2. Berhubungan suami istri di siang hari

Melakukan hubungan suami istri pada siang hari di bulan puasa termasuk perbuatan yang membatalkan puasa.

Selain membatalkan, perbuatan ini juga mewajibkan pelakunya membayar kafarat sesuai ketentuan syariat.

Puasa mengajarkan pengendalian hawa nafsu, termasuk nafsu biologis. 

Selama Ramadhan, hubungan suami istri hanya diperbolehkan pada malam hari setelah berbuka hingga sebelum terbit fajar.

3. Melakukan perbuatan dosa seperti berdusta, memakan riba, dan mengadu domba

Perbuatan dosa seperti berdusta, memakan riba, dan mengadu domba dapat membatalkan pahala puasa, meskipun secara hukum fiqih puasanya masih sah.

Perilaku tersebut bertentangan dengan tujuan utama puasa, yaitu membentuk pribadi yang bertakwa dan berakhlak mulia.

Jika dosa-dosa ini terus dilakukan, maka puasa hanya menyisakan rasa lapar dan haus tanpa mendapatkan nilai ibadah. 

4. Melakukan perbuatan sia-sia dan tidak bermanfaat

Perkataan dan perbuatan yang sia-sia, seperti berkata kasar, berdebat tanpa manfaat, atau melakukan hal yang melalaikan, dapat menghilangkan nilai dan pahala puasa. 

Puasa tidak hanya menahan fisik, tetapi juga menuntut pengendalian sikap dan perilaku.

Rasulullah Saw menegaskan bahwa hakikat puasa adalah menahan diri dari perbuatan yang tidak berguna. 

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw bersabda: “Bukanlah puasa itu sekedar (menahan) dari makan dan minumannya, namun puasa itu hanyalah (menahan) dari perbuatan sia-sia dan tidak berguna.” (HR. Imam Ibnu Khuzaimah)

5. Keluar mani dengan sengaja

Puasa batal apabila mani keluar dengan sengaja, seperti karena onani atau rangsangan yang disengaja.

Adapun keluarnya mani karena mimpi basah tidak membatalkan puasa karena terjadi di luar kehendak.

6. Muntah dengan sengaja

Jika seseorang memuntahkan isi perutnya dengan sengaja, maka puasanya batal.

Namun, apabila muntah terjadi tanpa disengaja, puasanya tetap sah.

7. Haid dan nifas

Perempuan yang mengalami haid atau nifas, meskipun hanya sesaat sebelum magrib, maka puasanya batal.

Puasa tersebut wajib diganti (qadha) di hari lain setelah suci.

8. Hilang akal (gila atau pingsan seharian penuh)

Puasa batal jika seseorang kehilangan kesadaran sepanjang hari, sejak fajar hingga magrib.

Namun, jika hanya pingsan sebagian waktu dan masih sadar di sebagian hari, terdapat perbedaan pendapat ulama, tetapi umumnya puasa tetap sah.

9. Murtad (keluar dari Islam)

Apabila seseorang keluar dari Islam di tengah puasa, maka puasanya batal, karena puasa merupakan ibadah yang mensyaratkan keimanan.

Hal yang Makruh Bagi Orang yang Berpuasa

Selain hal yang dapat membatalkan puasa, orang yang sedang berpuasa sebaiknya menghindari hal-hal yang hukumnya makruh yaitu hal yang lebih baik ditinggalkan karena dapat mengurangi pahala puasa dan dikhawatirkan dapat berujung pada membatalkan puasa.

1. Berbekam

Berbekam adalah tindakan mengeluarkan darah dari bagian tubuh tertentu dengan tujuan kesehatan. 

Bagi orang yang sedang berpuasa, praktik ini dihukumi makruh karena dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan energi, sehingga berpotensi menimbulkan rasa lemas saat menjalankan puasa.

Kondisi tubuh yang melemah dikhawatirkan dapat mengganggu kekhusyukan ibadah puasa dan bahkan memicu keinginan untuk membatalkannya. 

Meskipun tidak membatalkan puasa, berbekam sebaiknya ditunda hingga waktu berbuka atau dilakukan di luar bulan puasa.

2. Memeluk dan mencium istri hingga membangkitkan syahwat

Orang yang sedang berpuasa dianjurkan untuk menjaga diri dari interaksi fisik dengan pasangan yang dapat menimbulkan rangsangan syahwat. 

Memeluk atau mencium pasangan dikhawatirkan akan mendorong seseorang pada perbuatan yang dapat membatalkan puasa.

Islam memandang kondisi setiap orang berbeda-beda dalam mengendalikan diri. 

Tindakan tersebut lebih dianjurkan untuk dihindari, terutama bagi mereka yang masih kuat dorongan syahwatnya, agar puasa tetap terjaga dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seseorang lelaki bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tentang berpelukan/bersentuhan bagi orang yang berpuasa maka beliau memberikan keringanan kepadanya (untuk melakukan hal tersebut) dan datang laki-laki lain bertanya kepadanya dan beliaupun melarangnya (untuk melakukan hal tersebut), ternyata orang yang diberikan keringanan padanya adalah orang yang sudah tua dan yang dilarang adalah seseorang yang masih muda.” (HR. Abu Daud)

3. Menyambung puasa dari maghrib hingga waktu sahur

Setelah waktu berbuka tiba, orang yang berpuasa dianjurkan untuk segera membatalkan puasanya. 

Menyambung puasa dari waktu maghrib hingga sahur tanpa berbuka terlebih dahulu termasuk perbuatan yang dimakruhkan karena dapat memberatkan diri.

Puasa dalam Islam mengajarkan keseimbangan dan tidak membebani pemeluknya di luar kemampuan. 

Meskipun niatnya untuk memperbanyak ibadah, menyambung puasa sebaiknya dihindari agar tidak menyalahi tuntunan Rasulullah Saw.

Dari Abu Sa’id Al-Khudry, Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah kalian puasa wishol, siapa yang menyambung maka sambunglah sampai waktu sahur.” (HR. Bukhari)

Keutamaan dan Fadilah Puasa Ramadhan

Kementerian Agama Gorontalo menulis dalam lamannya mengenai keutamaan puasa Ramadhan bagi muslim, sebagai berikut.

1. Bukti Ketaatan dan Keteguhan Iman

Menahan lapar dan haus pada dasarnya bukan perkara mudah, karena bertentangan dengan fitrah manusia yang membutuhkan makan dan minum.

Namun, kesulitan itu berubah menjadi kenikmatan ketika dilandasi keyakinan bahwa puasa adalah perintah Allah SWT yang wajib ditaati dan bernilai ibadah.

Dengan iman yang kuat, puasa tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai bentuk penghambaan yang penuh makna. 

Dari sinilah lahir keutamaan dan pahala besar yang Allah SWT janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang berpuasa dengan ikhlas.

2. Mendapat Balasan Langsung dari Allah SWT

Allah SWT menyatakan bahwa puasa adalah ibadah yang secara khusus dipersembahkan kepada-Nya, dan Dia sendiri yang akan memberikan balasannya tanpa batas yang ditentukan manusia.

Puasa juga menjadi perisai yang melindungi seseorang dari perbuatan maksiat dan siksa neraka.

Selain itu, orang yang berpuasa akan merasakan dua kebahagiaan besar: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan ketika kelak berjumpa dengan Allah SWT.

Dari Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW., bersabda: "Allah 'Azzawajalla berfirman -dalam hadits qudsi: "Semua amal perbuatan anak Adam-yakni manusia- itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya. Puasa adalah sebagai perisai -dari kemaksiatan serta dari neraka. Maka dari itu, apabila pada hari seseorang diantara engkau semua itu berpuasa, janganlah ia bercakap-cakap yang kotor dan jangan pula bertengkar. Apabila ia dimaki-maki oleh seorang atau dilawan dengan bermusuhan, maka hendaklah ia berkata: "Sesungguhnya saya adalah -sedang- berpuasa.” (HR. Muslim)

Allah berfirman dalam hadits qudsi: "Orang yang berpuasa itu meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena taat pada perintahKu Allah. Puasa adalah untukku (Allah) dan Aku akan memberikan balasannya, sedang sesuatu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat gandanya." (HR. Bukhari)

"Setiap amal perbuatan anak Adam yakni manusia itu, yang berupa kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya dengan sepuluh kalinya sehingga tujuh ratus kali lipatnya." Allah Ta'ala berfirman: "Melainkan puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untukKu dan Aku akan memberikan balasannya. Orang yang berpuasa itu meninggalkan kesyahwatannya, juga makanannya semata-mata karena ketaatannya pada perintahKu. Seorang yang berpuasa itu mempunyai dua macam kegembiraan, sekali kegembiraan di waktu berbukanya dan sekali lagi kegembiraan di waktu menemui Tuhannya. Sesungguhnya bau bacin mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi." (HR. Muslim)

3. Masuk Surga Melalui Pintu Rayyan

Orang-orang yang berpuasa memiliki kemuliaan khusus di akhirat, yaitu dipanggil untuk memasuki surga melalui pintu Rayyan. 

Pintu Rayyan menjadi simbol penghormatan Allah SWT kepada orang-orang yang menahan diri di dunia demi ketaatan. 

Setelah seluruh orang yang berpuasa masuk, pintu tersebut akan ditutup dan tidak dapat dimasuki oleh selain mereka.

Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW., bersabda: "Barangsiapa yang menafkahkan sepasang binatang yakni dua ekor kuda, lembu ataupun unta dalam kepentingan fisabilillah maka ia akan dipanggil dari semua pintu surga dengan ucapan: "Hai hamba Allah, inilah yang lebih baik." Maka jikalau seorang itu dari golongan ahli salat, ia akan dipanggil dari pintu salat. Barangsiapa yang termasuk dalam ahli jihad, ia akan dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa yang termasuk dalam ahli puasa, ia akan dipanggil dari pintu Rayyan. Artinya, puas atau kenyang minuman. Barangsiapa yang termasuk dalam ahli sedekah, maka ia dipanggil dari pintu sedekah."

Abu Bakar RA berkata: "Ya Rasulullah, tidak ada kerugian sama sekali bagi seorang yang telah dipanggil dari pintu-pintu itu, tetapi apakah ada seorang yang dipanggil dari semua pintu itu?" Beliau SAW. menjawab: "Ya, ada dan saya mengharapkan agar Anda termasuk dalam golongan orang yang dipanggil dari semua pintu tadi," (HR. Muttafaq 'alaih).

Dari Sahl bin Sa'ad RA., dari Nabi SAW., sabdanya: "Sesungguhnya di dalam surga itu ada sebuah pintu yang disebut pintu Rayyan. Artinya: puas dan kenyang minum. Dari pintu ini masuklah semua orang yang berpuasa besok pada hari kiamat. Tidak ada seorang yang selain orang-orang yang berpuasa itu yang dapat masuk dari pintu itu. Dikatakanlah: "Manakah orang-orang yang berpuasa." Mereka itu lalu berdiri, lalu tidak seorangpun yang dapat masuk dari pintu Rayyan tadi selain orang-orang yang berpuasa. Jikalau mereka telah masuk seluruhnya, lalu pintu itupun ditutup, sehingga tidak seorangpun lagi yang dapat memasukinya," (muttafaq 'alaih).

4. Sehari Berpuasa Dijauhkan dari Neraka

Puasa yang dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah SWT memiliki dampak besar di akhirat. 

Bahkan, satu hari puasa dapat menjadi sebab seseorang dijauhkan dari neraka dalam jarak yang sangat jauh.

Hal ini menunjukkan betapa besar nilai puasa di sisi Allah SWT. Ibadah ini menjadi pelindung yang nyata bagi hamba-Nya dari azab neraka.

Dari Abu Said RA.: "Rasulullah SAW., bersabda: "Tiada seorang hambapun yang berpuasa sehari dengan niat fisabilillah -yakni semata-mata menuju kepada ketaatan kepada Allah-, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya -yakni dirinya- karena puasanya tadi, sejauh perjalanan tujuh puluh tahun dari neraka," (muttafaq 'alaih).

5. Diampuni Dosa-dosa yang Telah Lalu

Puasa Ramadan yang dilaksanakan dengan penuh iman dan keikhlasan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa yang telah lalu. 

Ini merupakan anugerah besar dari Allah SWT bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh menjalankan ibadah puasa.

Pengampunan ini menjadi kesempatan emas bagi setiap muslim untuk memulai lembaran baru kehidupan yang lebih bersih dan lebih baik.

Dari Abu Hurairah RA. bahwasanya Nabi SAW., bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena didorong oleh keimanan dan mengharapkan keridhaan Allah, maka diampunkanlah untuknya dosa-dosanya yang terdahulu," (muttafaq 'alaih).

6. Mendapat Keberkahan dalam Makan Sahur

Sahur bukan sekadar persiapan fisik sebelum berpuasa, tetapi juga mengandung keberkahan yang besar. 

Makan sahur membantu menjaga kekuatan tubuh sekaligus menjadi amalan sunnah yang dianjurkan Rasulullah SAW.

Keberkahan sahur mencakup kebaikan dunia dan akhirat, sehingga meskipun hanya dengan seteguk air, sahur tetap dianjurkan.

Dari Anas RA. berkata: Rasulullah SAW., bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu terdapat keberkahan,” (HR Muslim).

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved