Kamis, 23 April 2026

Bacaan Doa

Doa Setelah Tawaf Putaran 1 hingga 7, Waktu Mustajab Memohon kepada Allah

Waktu setelah tawaf ifadah yaitu mengelilingi Ka'bah 7 kali adalah waktu mustajab untuk berdoa kepada Allah SWT. Berikut doa setelah tawaf.

Tribunnews.com
DOA SETELAH TAWAF - Gambar dibuat di Be Funky dan Paint, Rabu (22/4/2026). Waktu setelah tawaf ifadah yaitu mengelilingi Ka'bah 7 kali adalah waktu mustajab untuk berdoa kepada Allah SWT. Berikut doa setelah tawaf. 
Ringkasan Berita:
  • Tawaf adalah ibadah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran di Masjidil Haram dengan posisi Ka’bah di sebelah kiri.
  • Tawaf ifadah adalah bagian dari rukun haji yang menentukan sahnya haji.
  • Setelah tawaf ifadah, jemaah dianjurkan berdoa di Multazam, tempat mustajab untuk memohon kepada Allah.
  • Selain itu, ada tawaf wada’ sebagai tawaf perpisahan sebelum meninggalkan Makkah.

TRIBUNNEWS.COM - Setiap jemaah haji wajib memenuhi rukun haji, termasuk tawaf ifadah, yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali.

Tawaf ifadah juga diwajibkan dalam rangkaian ibadah umrah dan merupakan bagian dari rukun haji/umrah.

Ibadah haji dimulai dengan ihram atau niat berhaji di miqat, yaitu waktu dan tempat yang diwajibkan untuk memulai rangkaian ibadah haji.

Kemudian, jemaah akan wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah, mulai dari tergelincirnya matahari hingga fajar pada 10 Dzulhijjah.

Pada saat wukuf, jemaah haji mengisi waktunya dengan berdoa, berzikir, membaca Al-Qur’an, serta memohon ampun kepada Allah SWT.

Wukuf tidak harus selalu berdiri, tetapi bisa dilakukan dengan duduk, berdiri, atau dalam kondisi apa pun selama berada di Arafah.

Setelah wukuf, jemaah haji melakukan tawaf ifadah dengan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali.

Pada setiap putaran, jemaah membaca doa tawaf putaran pertama hingga ke tujuh.

Tawaf dimulai dari arah Hajar Aswad dan berakhir di titik yang sama, dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri jemaah. 

Saat memulai, jemaah menghadap Hajar Aswad, lalu mengangkat tangan sambil membaca “Bismillāhi wallāhu akbar”. 

Baca juga: Doa Tawaf Putaran 1 hingga 7 untuk Ibadah Haji dan Umrah

Setelah itu, tangan kanan dikecup, kemudian jemaah mulai berjalan mengelilingi Ka’bah dengan posisi Ka’bah tetap di sebelah kiri.

Setelah Tawaf, jemaah haji dapat membaca doa sebagai berikut ini yang dikutip dari buku Doa dan Dzikir Haji dan Umrah 1447 H/2026 M oleh Kementerian Haji dan Umrah.

Doa Setelah Tawaf

اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ سِرِّي وَعَلَانِيَتِي فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِي وَتَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَمَا عِنْدِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَتَعْلَمُ حَاجَتِي فَأَعْطِنِي سُؤْلِي، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا يُبَاشِرُ قَلْبِي وَيَقِينًا صَادِقًا حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَنِي إِلَّا مَا كَتَبْتَ لِي وَالرِّضَا بِمَا قَضَيْتَ عَلَيَّ

Allahumma innaka ta‘lamu sirrii wa ‘alaaniyatii faqbal ma‘dziratii, wa ta‘lamu maa fii nafsii wa maa ‘indii faghfir lii dzunuubii, wa ta‘lamu haajatii fa a‘thinii su’lii. Allahumma innii as’aluka iimaanan yubaasyiru qalbii wa yaqiinan shaadiqan hattaa a‘lama annahu lan yushiibanii illaa maa katabta lii, war-ridhaa bimaa qadhaita ‘alayya.

اللَّهُمَّ يَا رَبَّ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ أَعْتِقْ رِقَابَنَا وَرِقَابَ آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَإِخْوَانِنَا وَأَوْلَادِنَا مِنَ النَّارِ يَا ذَا الْجُودِ وَالْكَرَمِ وَالْفَضْلِ وَالْمَنِّ وَالْعَطَاءِ وَالْإِحْسَانِ، اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَاقِفٌ تَحْتَ

Allahumma yaa rabbal-baytil ‘atiiq, a‘tiq riqaabanaa wa riqaaba aabaa’inaa wa ummahaatinaa wa ikhwaaninaa wa awlaadinaa minan-naar, yaa dzal-juudi wal-karam wal-fadhl wal-mann wal-‘athaa’ wal-ihsaan. Allahumma ahsin ‘aaqibatanaa fil-umuuri kullihaa wa ajirnaa min khizyid-dunyaa wa ‘adzaabil-aakhirah. Allahumma innii ‘abduka wabnu ‘abdika waaqifun taht.

يَا رَبِّ بِعِزَّتِكَ مُلْتَجِئٌ مُتَذَلِّلٌ بَيْنَ يَدَيْكَ أَرْجُو رَحْمَتَكَ وَأَخْشَى عَذَابَكَ يَا قَدِيمَ الْإِحْسَانِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ ذِكْرِي وَتَضَعَ وِزْرِي وَتُصْلِحَ أَمْرِي وَتُطَهِّرَ قَلْبِي وَتُحَسِّنَ رَجَائِي وَتُثَبِّتَ فِي قَلْبِي يَقِينِي وَتَغْفِرَ لِي ذَنْبِي وَأَسْأَلُكَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى مِنَ الْجَنَّةِ، آمِينَ

Yā Rabbi bi‘izzatika multaji’un mutadzallilun baina yadaika arjū raḥmataka wa akhsyā ‘adzābaka yā qadīmal iḥsān, Allāhumma innī as’aluka an tarfa‘a dzikrī wa taḍa‘a wizrī wa tuṣliḥa amrī wa tuṭahhira qalbī wa tuḥassina rajā’ī wa tuthabbita fī qalbī yaqīnī wa taghfira lī dzanbī wa as’alukad darajātal ‘ulā minal jannah, āmīn.

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui rahasiaku dan apa yang aku tampakkan, maka terimalah alasanku. Engkau mengetahui apa yang ada dalam jiwaku dan apa yang ada padaku, maka ampunilah dosa-dosaku. Engkau mengetahui hajatku, maka penuhilah permohonanku. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu iman yang melekat di hatiku dan keyakinan yang benar, sehingga aku mengetahui, bahwa tiada yang menimpaku kecuali apa yang sudah Engkau takdirkan untukku dan rida dengan apa saja yang telah Engkau tetapkan atas diriku.

Ya Allah, Tuhan yang memelihara Rumah Tua ini, bebaskanlah tengkuk kami, bapak dan ibu kami, saudara-saudara dan anakanak kami dari siksa neraka, wahai Tuhan yang banyak pemberianNya, yang memiliki keutamaan, kemuliaan, kelebihan, anugerah, pemberian dan kebaikan.

Ya Allah, perbaikilah kesudahan segenap urusan kami dan jauhkanlah kami dari kehinaan dunia dan siksa di akhirat. 
Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, tegak berdiri merapat di bawah pintu Ka'bahMи, menundukkan diri di hadapanMu sambil mengharapkan rahmat dan kasih sayang-Mu, serta takut akan siksa-Mu. Wahai Tuhan pemilik kebaikan abadi, aku mohon pada-Mu agar Engkau meninggikan namaku, menghapuskan dosaku, memperbaiki segala urusanku, membersihkan hatiku, melindungi kemaluanku, memberi cahaya terang dalam kuburku, mengampuni dosaku, aku mohon pada-Mu martabat yang tinggi di dalam surga. Āmin.

Tata Cara Berdoa Setelah Tawaf

Setelah menyelesaikan tujuh putaran tawaf, jemaah dianjurkan untuk bergeser sedikit ke arah kanan dari posisi sejajar dengan Hajar Aswad. 

Kemudian, jemaah menghadap ke bagian dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. 

Tempat ini dikenal dengan sebutan Multazam, yaitu salah satu lokasi yang diyakini sebagai tempat mustajab untuk berdoa.

Di Multazam, jemaah memiliki kesempatan istimewa untuk memanjatkan doa dengan penuh harap dan kekhusyukan. 

Doa yang dibaca bisa mengikuti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, namun juga boleh menggunakan bahasa sendiri sesuai dengan isi hati dan kebutuhan masing-masing. 

Momen ini sering dimanfaatkan untuk mencurahkan segala harapan, memohon ampunan, serta mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh keikhlasan.

Tawaf Wada'

Jemaah haji yang telah menyelesaikan rangkaian ibadah haji dan hendak meninggalkan Baitullah, diwajibkan untuk melakukan Tawaf Wada'.

Tawaf Wada' adalah tawaf perpisahan yang dilakukan sebelum jemaah haji meninggalkan Makkah.

Tawaf Wada' hukumnya wajib. Bagi yang meninggalkan dikenakan dam memnyembelih kambing (menurut Syafi'iyah, Hanafiyah, dan Hanbilah). Menurut Imam Malik, Dawud, dan Ibnu Munzir, Tawaf Wada Hukumnya sunnah.

Kewajiban Tawaf Wada' gugur dan tidak dikenakan dam, bagi:

  • Jemaah wanita yang sedang haid/nafas, istihadlah, orang yang beser, anak kecil, orang yang fisiknya lemah, orang yang luka darah keluar terus, orang yang tertekan, dan orang yang tertinggal rombongan.
  • Wanita haid cukup berdoa di depan pintu Masjidil Haram ketika akan meninggalkan Makkah.
  • Jemaah haji lemah karena usia atau sakit sehingga mengalami kesulitan (masyaqqat) jika melaksanakan Tawaf Wada.

Tawaf Wada' dapat disatukan dengan Tawaf Ifadah bagi:

  • Jemaah dalam kondisi uzur, misalnya sakit yang menjadikannya sangat berat atau tidak memungkinkan melaksanakan keduanya secara terpisah.
  • Jemaah yang masa tinggal di Makkah sangat terbatas karena harus segera pulang ke Tanah Air, khususnya jemaah haji gelombang pertama kloter awal.

Menggabungkan Tawaf Ifadah Dengan Tawaf Wada'

Dalam kondisi tertentu seperti sakit, atau terbatas waktu tinggal dan segera pulang, maka kedua tawaf dapat disatukan, dengan cara:

  • Mengakhirkan pelaksanaan thawaf ifadhah menjelang kepulangan
  • Melakukan thawaf diniatkan sekaligus sebagai thawaf ifadhah dan thawaf wada".
  • Setelah selesai thawaf, jemaah melaksanakan sai (tanpa bercukur, kecuali bagi jemaah yang belum melaksanakan cukur ketika di Mina pasca lontar jumrah aqabah), dan selanjutnya jemaah meninggalkan Masjidil Haram untuk mempersiapkan kepulangan.
  • Cara ini hukumnya sah dan tidak dikenakan dam.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved