Bukan Lagi Soal Lama Belajar, Ini Cara Baru Bikin Anak Pintar dan Percaya Diri
Banyak orang tua masih berpikir keberhasilan anak ditentukan dari seberapa lama mereka duduk belajar.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Bagi anak-anak masa kini, cara belajar justru menjadi faktor paling menentukan.
- Pendekatan belajar yang monoton berisiko membuat anak cepat bosan, tidak percaya diri, bahkan enggan bertanya.
- Anak bukan sekadar menerima pelajaran, tetapi membangun pemahaman melalui pengalaman.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang tua masih berpikir keberhasilan anak ditentukan dari seberapa lama mereka duduk belajar.
Padahal, bagi anak-anak masa kini, cara belajar justru menjadi faktor paling menentukan.
Di tengah perubahan zaman yang cepat, anak tidak cukup hanya menghafal.
Mereka perlu memahami, bertanya, bereksplorasi, dan yang tak kalah pentingmenikmati proses belajar itu sendiri.
Realitanya, masih banyak anak Indonesia menghadapi keterbatasan akses pendidikan, baik dari sisi fasilitas maupun metode belajar yang menarik.
Padahal, pendekatan belajar yang monoton berisiko membuat anak cepat bosan, tidak percaya diri, bahkan enggan bertanya.
Psikolog Anak dan Keluarga Irma Gustiana menegaskan bahwa kebutuhan anak saat ini jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.
“Perkembangan teknologi yang pesat. Menuntut anak memiliki keterampilan yang lebih kompleks. Agar mereka mampu bertahan dan berkembang di masa depan,” ujarnya pada konferensi pers yang diselenggarakan di Perpustakaan Nasional Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2026).
Ia menekankan, anak bukan sekadar menerima pelajaran, tetapi membangun pemahaman melalui pengalaman.
“Dalam hal belajar, teori psikologi dari Piaget menekankan bahwa anak bukan hanya menerima informasi, tetapi mereka membangun pengetahuan secara internal melalui interaksi dan eksplorasi,” lanjutnya.
Artinya, ketika anak diajak aktif dan merasa senang, proses belajar menjadi lebih bermakna dan melekat.
Kesenjangan Nyata: Tidak Semua Anak Bisa Merasakan Belajar yang Menyenangkan*#
Namun, kesempatan untuk merasakan belajar yang seru belum merata.
Masih ada anak-anak di berbagai wilayah yang kesulitan mengakses media pembelajaran yang beragam, bahkan fasilitas dasar pendidikan.
Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Rita Pranawati, menyoroti kondisi tersebut.
“Di beberapa wilayah tersebut, anak-anak masih menghadapi keterbatasan fasilitas pendidikan serta akses terhadap media pembelajaran yang beragam,” ujar Rita pada kesempatan yang sama.
Kesenjangan ini berdampak langsung pada hasil belajar anak, terutama dalam kemampuan dasar seperti literasi, numerasi, dan sains.
Akibatnya, banyak anak belum bisa mengembangkan potensi mereka secara optimal.
Peran Rumah Jadi Penentu, Tapi Tidak Semua Punya Kesempatan
Selain sekolah, lingkungan rumah juga memainkan peran penting dalam membentuk cara belajar anak.
Selebritas sekaligus ibu, Ayu Dewi, mengungkapkan bahwa pendekatan belajar di rumah kini perlu lebih interaktif.
“Jadi, di rumah aku ikut mengutamakan proses belajar dua arah yang lebih interaktif, contohnya dengan menerapkan pembelajaran sambil bermain supaya anak-anak dibiasakan berperan aktif dan kritis bertanya,” kata Ayu.
Namun, ia juga menyinggung realita yang sering terabaikan.
“Tapi aku sadar, hal ini adalah sebuah 'kemewahan' yang mungkin belum bisa dirasakan oleh semua anak,” tambah Ayu.
Pernyataan ini menggambarkan bahwa tidak semua keluarga memiliki akses atau sumber daya untuk menciptakan pengalaman belajar yang ideal bagi anak.
Belajar Sambil Bermain, Cara Sederhana yang Berdampak Besar
Pendekatan belajar sambil bermain yang diterapkan dalam program ini bukan sekadar membuat suasana lebih santai.
- Lebih dari itu, metode ini membantu anak:
- Lebih aktif bertanya
- Berani mencoba
- Terbiasa berpikir kritis
- Mengembangkan kemampuan sosial dan emosional
Alat pembelajaran yang digunakan pun dirancang khusus untuk bidang literasi, numerasi, sains, dan bahasa Inggris, sehingga anak tidak hanya bermain, tetapi tetap belajar secara terarah.
Pendekatan ini juga selaras dengan konsep deep learning—pembelajaran yang meaningful, mindful, dan joyful—yang kini terus didorong dalam sistem pendidikan.
Kolaborasi Jadi Kunci untuk Masa Depan Anak
Upaya menghadirkan pendidikan yang merata tidak bisa dilakukan satu pihak saja.
Staf Ahli Kemendikdasmen, Mariman Darto, menekankan pentingnya kerja sama berbagai pihak.
“Pembangunan karakter ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah, kami ingin berkolaborasi dengan lebih banyak, termasuk dengan pihak korporasi,” ujarnya.
Kolaborasi ini menjadi penting untuk menjangkau anak-anak di wilayah yang selama ini sulit mendapatkan akses pendidikan berkualitas.
Dari Cara Belajar yang Berubah, Masa Depan Anak Ikut Terbuka
Perubahan kecil dalam cara belajar ternyata bisa membawa dampak besar bagi anak.
Ketika anak merasa senang belajar, mereka lebih percaya diri, lebih aktif, dan lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Hal ini menjadi sorotan dalam program “OREO Berbagi Seru” yang mendorong pendekatan belajar sambil bermain bagi 7.000 siswa di 7 provinsi, termasuk wilayah 3T dan marginal.
Program ini menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih inklusif dan menyenangkan bagi anak-anak Indonesia.
Melalui pendekatan ini, diharapkan semakin banyak anak yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, kritis, dan siap menghadapi dunia yang terus berubah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/cara-belajar.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.