Sabtu, 25 April 2026

Ayu Dewi Bongkar Cara Bangun Anak Percaya Diri dan Berpikir Solutif

Selebritis Ayu Dewi membagikan pengalamannya sebagai ibu dari tiga anak.

Tribunnews.com/Aisyah Nursyamsi
MENDIDIK ANAK - Mom influencer sekaligus selebritis Ayu Dewi saat menghadiri peluncuran program “OREO Berbagi Seru” Dukung Pemerataan Akses Pendidikan Melalui Pembelajaran yang Menyenangkan di Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2026). Dalam kesempatan tersebut, Ayu membagikan pengalamannya mendidik anak yang percaya diri dan solutif melalui pendekatan parenting yang adaptif dan menyenangkan.  

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

Ringkasan Berita:
  • Selebritis Ayu Dewi membagikan pengalamannya sebagai ibu dari tiga anak.
  • Menurut sang artis, membentuk anak percaya diri menuntut pendekatan parenting yang lebih adaptif dan mindful.
  • Ayu mengaku tidak hanya fokus pada prestasi, tetapi juga membangun karakter anak agar percaya diri dan mampu menghadapi tantangan.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Membesarkan anak di era sekarang bukan lagi soal siapa paling pintar atau paling unggul secara akademik. Tantangannya jauh lebih kompleks.

Mom influencer sekaligus selebritis Ayu Dewi membagikan pengalamannya sebagai ibu dari tiga anak, yang menurutnya justru menuntut pendekatan parenting yang lebih adaptif dan mindful.

Baca juga: Dari Cuci Piring sampai Catur, Cara Ayu Dewi Tanamkan Karakter Anak Tanpa Tekanan

Dalam kesehariannya, Ayu mengaku tidak hanya fokus pada prestasi, tetapi juga membangun karakter anak agar percaya diri dan mampu menghadapi tantangan.

Ayu menyoroti satu hal penting yang sering luput.

Yaitu kepercayaan diri anak tidak muncul dari fisik atau kepintaran semata, tetapi dari karakter yang dibangun sejak kecil.

“Yang seleb mom lebih cantik banyak, seleb mom lebih pintar banyak. Tapi yang seru aku itu tuh kepedean ya? kepedean itu kan dari mana ya tumbuhnya ya? Oh dari karakter, karakter yang merasa bahwa dia bisa karakter yang unggul,” ungkapnya dalam konferensi pers Peluncuran Program “OREO Berbagi Seru”: Dukung Pemerataan Akses Pendidikan Melalui Pembelajaran yang Menyenangkan di Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2026). 

 Menurut Ayu, rasa “bisa” inilah yang perlu ditanamkan sejak dini. 

Bukan hanya membuat anak merasa mampu, tetapi juga berani mencoba dan tidak takut gagal.

Ia bahkan mengakui dirinya memiliki karakter high achiever, yang kemudian memengaruhi cara ia membesarkan anak-anaknya.

“Aku tuh dari dulu emang orang yang high achiever aku tuh pengen banget menjadi yang terbaik nah pasti kan. Kalau karakter aku sendiri kayak gitu, otomatis aku pengen punya anak-anak yang juga punya karakter malah yang lebih baik dari aku karakter unggul juga,” lanjutnya.

Ayu Dewi dalam konferensi pers Peluncuran Program “OREO Berbagi Seru”: Dukung Pemerataan Akses Pendidikan Melalui Pembelajaran yang Menyenangkan di Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2026). 
Ayu Dewi dalam konferensi pers Peluncuran Program “OREO Berbagi Seru”: Dukung Pemerataan Akses Pendidikan Melalui Pembelajaran yang Menyenangkan di Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2026).  (Tribunnews.com/Aisyah Nursyamsi)


Tantangan Parenting di Era Anak Dinamis

Namun, membentuk karakter unggul bukan perkara mudah, terutama di tengah perubahan zaman.

Ayu menyadari anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya.

“Tapi untuk menggedein anak-anak yang berkarakter unggul itu kan gak gampang kalau anak-anak sekarang yang suaranya ada di tong bolong gak keluar jadi itu kan kita juga harus belajar adaptif ya,” katanya.

Ia menekankan bahwa anak-anak saat ini adalah generasi yang dinamis, penuh tantangan, dan membutuhkan pendekatan yang juga fleksibel.

“Anak-anak sekarang tuh generasi yang dinamis, penuh challenge penuh tantangan,” tambahnya.

Peran Sekolah dan Rumah Harus Nyambung

Ayu juga menyoroti pentingnya keselarasan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Menurutnya, anak tidak cukup hanya belajar teori, tetapi harus diajak memahami dan mempraktikkan nilai-nilai kehidupan.

“Anak-anak aku tuh disekolahkan di tempat yang emang dibimbing untuk memahami konsep secara keseluruhan. Dibimbing untuk mengaplikasikan pendidikan secara berkelanjutan,” imbuhnya. 

Ia mencontohkan bagaimana anak-anak dilatih membuat keputusan dan berpikir kritis.

“Kayak misalnya mereka tuh dididik untuk membuat pilihan yang bertanggung jawab pilihan yang responsif dipancing dan juga dibimbing untuk terus berdiskusi interaksi terhadap sesama itu penting banget, dan berpikir kritis,” jelasnya.

Namun, Ayu menegaskan bahwa peran orang tua tetap krusial untuk memperkuat hal tersebut di rumah.

“Di sekolahnya gitu dan dirumah pun aku pun harus interaktif secapek, sekesel seemosional pun aku tetep harus seru karena emang anaknya belajar gimana ceritanya sih,” katanya.

Belajar Harus Dibuat Seru dan Bermakna

Salah satu kunci parenting ala Ayu Dewi adalah membuat proses belajar terasa menyenangkan, bukan tekanan.

Ia melihat anak-anak akan lebih mudah menyerap pelajaran ketika mereka merasa prosesnya menarik dan fun.

“Dan mereka tuh suka belajar karena mereka merasa bahwa belajarnya itu seru menarik, dan fun itulah yang aku coba terapin di rumah,” ujarnya.

Pendekatan ini menurutnya jauh lebih efektif dibanding sekadar menyuruh atau memberi instruksi tanpa pengalaman langsung.


Anak Perlu Dilibatkan, Bukan Hanya Diberi Instruksi

Ayu juga menyinggung pentingnya metode pembelajaran berbasis pengalaman atau problem based learning dalam membentuk anak yang solutif.

“Jadi kalau pembelajaran tentunya berbeda ya. Beda zaman udah pasti beda banget. Beda prosesnya, yang pertama nih kalau kita bicara pembelajaran untuk membentuk anak yang solutif itu biasanya ada kepada problem based learning,” jelasnya.

Artinya, anak perlu dilibatkan langsung dalam aktivitas sehari-hari agar benar-benar memahami, bukan sekadar mendengar.

“Jadi memang anak-anak itu harus diajak ikut. Serta misalnya diajak misalnya dia lipat baju kalau cuma diomongin aja, gak punya pengalaman gitu kan,” lanjutnya.

Dari pengalaman Ayu Dewi, membesarkan anak di era modern bukan soal siapa paling sempurna sebagai orang tua.

Yang lebih penting adalah kemampuan untuk adaptif, hadir secara emosional, dan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.

Dengan pendekatan ini, anak tidak hanya tumbuh pintar, tetapi juga percaya diri, kritis, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved