Pilpres 2024

Capres Alternatif Bisa Cegah Golput saat Pilpres 2024

Peneliti Kepemiluan PP AIPI, Ferry Daud Liando mengatakan wacana capres alternatif menjadi terobosan untuk mencegah terjadinya golput pada Pilpres.

Kompas/Mahdi Muhammad
Ilustrasi Pemilu, surat suara dan kotak suara. Peneliti Kepemiluan PP AIPI, Ferry Daud Liando mengatakan wacana capres alternatif juga dapat menjadi terobosan untuk mencegah terjadinya golput pada pilpres 2024. Capres alternatif diharapkan dapat memecah kebosanan publik terhadap calon yang sudah lebih dulu beredar dari partai politik.  

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ajang pilpres 2024 harus menjadi ajang kontestasi gagasan dan arena persaingan ide.

Oleh karena itu wacana mengenai kandidat presiden alternatif harus diberikan dukungan agar nama-nama yang muncul tidak hanya calon-calon yang sudah dibranding oleh partai politik(parpol).

"Banyak sekali figur yang memiliki prestasi namun kurang diperbincangkan karena namanya tidak banyak beredar di media, seperti Prof. Haedar Nashir dari Muhamadiyah, Gus Yahya dari PBNU, Jimly Asshiddique, dan Ilham Akbar Habibie yang merupakan seorang cendekiawan terkemuka di bidang teknologi,” ujar Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TEPI), Jeirry Sumampouw dalam pernyataannya yang diterima Tribun, Jumat(9/9/2022).

Sementara itu Peneliti Kepemiluan PP AIPI, Ferry Daud Liando mengatakan wacana capres alternatif juga dapat menjadi terobosan untuk mencegah terjadinya golput pada pilpres 2024. 

Ferry mengatakan, penelitian yang pernah dilakukan pada tahun 2015 menemukan fakta bawah faktor-faktor yang menyebabkan pemilih tidak menggunakan hak pilihnya salah satunya disebabkan karena kejenuhan pemilih terhadap calon-calon yang tampil berkompetisi pada pemilu. 

Oleh karena itu, capres alternatif diharapkan dapat memecah kebosanan publik terhadap calon yang sudah lebih dulu beredar dari partai politik. 

Oleh karena itu, parpol pun harus 'kembali ke jalan yang benar' dengan bersifat selektif dalam menyeleksi calon.

Banyak figur-figur yang sudah teruji, tidak korup, visioner dan nasionalis tapi tidak diberi ruang oleh parpol untuk menjadi calon. 

Parpol juga kerap hanya terjebak pada hasil-hasil survei dan pemodal.

Padahal hasil survei hanya sebatas mengukur popularitas, bukan mengukur kinerja, kejujuran dan visi.

Baca juga: Senang Jika PDIP Gabung Koalisi Gerindra-PKB, Cak Imin: Formulasi Capres-cawapres akan Dibahas Lagi

Terpisah, Seknas FITRA, Baidul Hadi mengungkapkan bahwa capres alternatif harus menjadi diskursus publik, dengan cara ditawarkan oleh lembaga survei kepada masyarakat selain dari tokoh yang sudah ada. 

“Banyak tokoh nasional alternatif yang tidak masuk ke dalam radar lembaga survey, contohnya anak dari mantan Presiden Habibie, Ilham Akbar Habibie, yang bisa menjadi pilihan capres alternatif,” pungkasnya.(Willy Widianto)

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved