Pemilu 2024

Pengamat Nilai Target 20 Persen Golkar di Pemilu 2024 akan Tercapai jika Didukung Efek Ekor Jas

Peneliti menilai target Partai Golkar untuk meraih 20 persen suara dalam pemilu 2024 sulit tercapai berdasarkan beberapa faktor yang muncul saat ini.

Penulis: Chaerul Umam
Editor: Endra Kurniawan
Warta Kota/Yulianto Anto
Ketua umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menerima kunjungan 18 Kelompok Relawan Jokowi yang dipimpin oleh Budi Arie Setiadi di kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta, Senin (7/11/2022) malam. Soal pemilu 2024, pengamat target Partai Golkar untuk meraih 20 persen suara dalam pemilu 2024 sulit tercapai. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peneliti senior Pusat Riset Politik-Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRP-BRIN) Lili Romli menilai target Partai Golkar untuk meraih 20 persen suara dalam pemilu 2024 sulit tercapai berdasarkan beberapa faktor yang muncul saat ini.

Golkar dinilai hanya akan mampu mencapai atau mendekati target tersebut jika mengusung sosok internal partai dalam kontestasi 2024. Artinya Golkar bisa berharap dari efek ekor jas (coattail effect) dari pencalonan Airlangga Hartarto dalam Pilpres 2024.

"Jadi, target 20 persen itu akan tercapai atau mendekati, manakala sosok Ketum Golkar Airlangga yang maju sebagai capres atau cawapres. Kalau tidak ya susah," kata Lili di Jakarta, Rabu (30/11/2022).

Menurutnya, Pemilu 2019 lalu memberikan pelajaran tentang besarnya pengaruh efek ekor jas bagi perolehan suara partai. PDIP mendapati efek ekor jas dari Joko Widodo yang maju sebagai capres. Begitu juga dengan Gerindra.

"Itu terbukti dari pemilu kemarin (Pemilu 2019). Efek ekor jas bukan pada Golkar tetapi pada PDIP. Juga pada Gerindra dan PKS dengan pengusungan Prabowo," ucap Lili.

Baca juga: Pengamat: Isu Perpecahan di Golkar Muncul Karena Nihilnya Sosok Sentral

Menurut Lili, faktor figur dari partai menjadi salah satu pekerjaan rumah. Partai lain mempunyai figur kuat yang menjadi magnet partainya, seperti PDIP dan Nasdem.

"Pertama, PDIP yang selalu tertinggi dan mereka punya figur, Pak Jokowi, Ibu Mega, apalagi kalau mengusung Ganjar," ungkapnya.

Selain itu, Golkar juga berbagi ceruk elektoral yang sama dengan beberapa partai, sehingga Golkar harus berbagi suara pemilih dengan beberapa partai yang punya irisan ideologi nasionalis.

"Banyak partai yang dekat atau sama secara ideologi dengan Golkar. Jadi ada Nasdem, Gerindra, Garuda," ujarnya.

Partai Golkar berada pada urutan kedua setelah PDIP pada Pemilu 2019. PDIP memperoleh 19,33 persen suara, sedangkan Golkar memperoleh 12,31 persen suara. Berkaca pada hasil tersebut, Lili menilai Golkar akan kesulitan mencapai target jika tanpa didukung faktor efek ekor jas.

Baca juga: Isu Ridwan Kamil Gabung Golkar Bisa Pengaruhi Peta Politik Jelang Pilpres 2024

"Katakanlah sama dengan pemilu 2019, itu agak susah bagi Golkar mencapai target 20 persen. Kecuali Golkar mengusung ketumnya menjadi capres atau cawapres," pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto mengatakan Golkar memiliki jajaran yang kuat untuk menghadapi pemilu. Ada ribuan kader partai yang siap memenangkan pemilu.

“Ya tugasnya jelas, three in one. Satu menang pilpres (pemilihan calon presiden dan calon wakil presiden), dua menang pileg (pemilihan calon anggota legislatif), tiga menang pilkada (pemilihan calon kepala daerah) ke depan, penugasannya jelas,” tegas Airlangga beberapa waktu lalu.

Simak juga video talkshow terkait isu keterwakilan perempuan dalam politik di bawah ini:

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved