Minggu, 31 Agustus 2025

Pilpres 2024

Profil Hasto Kristiyanto, Sekjen PDIP Bongkar Permintaan 3 Periode dari Pak Lurah

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto lantaran membongkar adanya permintaan jabatan tiga periode. Ini profil Hasto.

Penulis: Febri Prasetyo
Editor: Sri Juliati
Tribunnews.com/Fersianus Waku
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto. Inilah profil Hasto yang membongkar adanya permintaan jabatan tiga periode. 

TRIBUNNEWS.COM - Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto belakangan disorot karena mengungkap adanya permintaan jabatan tiga periode dari sosok yang disebutnya sebagai Pak Lurah.

Ketika ditemui wartawan Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat, (27/10/2023), Hasto berujar, permintaan dari Pak Lurah itu disampaikan oleh seorang menteri.

"Sebelumnya saya bertemu dengan menteri tersebut dan dikonfirmasi bahwa sikap-sikap ketua umum beberapa partai yang menyuarakan itu, saat itu dikatakan, ya sebagai permintaan Pak Lurah," ujar Hasto.

Hasto tidak menyebutkan siapa identitas Pak Lurah itu. Namun, beberapa waktu lalu dalam pidatonya pada sidang tahunan MPR RI, (16/8/2023), Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan dia disebut sebagai Pak Lurah.

Di samping itu, Hasto menolak mengungkap sosok menteri yang menyampaikan permintaan dari Pak Lurah.

Hasto mengaku akan bertanggung jawab atas kabar permintaan itu.

"Ini bisa di-crosscheck, saya pertanggungjawabkan secara politik hukum dan juga di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, di hadapan rakyat Indonesia, bahwa itu memang ada melalui pihak-pihak lain yang kemudian disuarakan ke PDIP," ujar Hasto.

Baca juga: Hasto Ungkap Kesedihan PDIP: Kami Berikan Privilege Besar ke Jokowi dan keluarga, Namun Ditinggalkan

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan Presiden Jokowi.
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan Presiden Jokowi. (Kolase Tribunnews)

Profil

Dikutip dari laman resmi PDIP, Hasto yang bernama lengkap Ir. Hasto Kristiyanto MM lahir di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tanggal 7 Juli 1966.

Hasto sudah tertarik kepada dunia politik sejak menimba ilmu di bangku SMA Kolese de Britto, DIY. Kala itu dia kerap membaca buku politik.

Selepas SMA, Hasto melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tatkala masih di UGM, Hasto bergabung dengan sejumlah organisasi. Dia sempat juga pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UGM.

Berpijak pada pengalaman itu, Hasto kemudian memantapkan diri untuk masuk ke dunia politik.

Dia mengakui bahwa keputusannya untuk kiprah di dunia politik dipengaruhi oleh pihak gereja. Kata dia, gereja sangat berperan membentuk dia lewat kaderisasi serta bimbingan pastor.

Baca juga: Puan dan Hasto Beda Pandangan soal Isu 3 Periode, Bahlil pun Memberikan Tanggapan

Pada tahun 1991, dia berhasil lulus dari UGM meraih gelar insinyur.

Hasto kemudian bergabung dengan PDIP dan terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2004—2009 dari daerah pemilihan Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan, dan Trenggalek.

Dia berada di dalam Komisi VI yang mengurusi persoalan perdagangan, perindustrian, investasi dan koperasi.

Kala masih menjadi anggota dewan legislatif, Hasto menolak sejumlah rancangan undang-undang (RUU), salah satunya RUU Free Trade Zone Kawasan Batam.

Dia menuding ada kepentingan beberapa perusahaan besar yang ingin berinvestasi di Batam. Akan tetapi, RUU itu lolos menjadi undang-undang.

Pada tahun 2010 Hasto terpilih sebagai  Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan. 

Empat tahun kemudian dia dipercaya menjadi menjadi Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi lndonesia Perjuangan.

Dia menggantikan Tjahjo Kumolo yang ditunjuk sebagai Menteri Dalam Negeri.

Baca juga: Hasto Cerita Perjalanan PDIP Sejak Orba hingga Jadi Parpol Penguasa 

- Pendidikan

SD Gentan Yogya (1972—1979)

SMP Negeri Gentan Yogya (1979—1982)

SMA Kolese De Britto Yogyakarta (1982—1985)

Fakultas Teknik UGM Yogyakarta (1985—1991)

Prasetya Mulya Business School, Jakarta, (1997—2000)

- Karier

Project Manager Departemen Marketing PT Rekayasa lndustri (1992—2002)

Project Director PT Prada Nusa Perkasa (2003—sekarang)

Anggota DPR RI untuk periode 2004—2009

Baca juga: Giliran Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang Bongkar Soal Jabatan 3 Periode Permintaan Pak Lurah

Kecewa kepada Jokowi

Hasto juga berujar, PDIP merasa sedih dan perih karena ditinggalkan oleh Jokowi dan keluarganya.

Putra sulung Jokowi sekaligus Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka, telah menjadi bakal cawapres Prabowo Subianto.

Sementara itu, putra bungsu Jokowi sekaligus Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, sudah menyatakan mendukung Prabowo dan Gibran.

Pernyataan serupa juga diucapkan oleh menantu Jokowi sekaligus Wali Kota Medan, Bobby Nasution, yang lebih memilih mendukung Prabowo dan Gibran.

Padahal, PDIP sudah mengarahkan para kadernya untuk mendukung pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD.

Hasto mengatakan banyak kader PDIP yang tidak percaya bahwa Jokowi telah meninggalkan partai berlambang banteng itu.

"Ketika DPP partai bertemu dengan jajaran anak ranting dan ranting sebagai struktur partai paling bawah, banyak yang tidak percaya bahwa ini bisa terjadi," kata Hasto lewat keterangan tertulisnya, Minggu, (29/10/2023), dikutip dari WartakotaLive.com.

Baca juga: Hasto PDIP Sebut Lakon Wahyu Cakraningrat Cermin Kondisi Politik Saat Ini

Kata Hasto, PDIP selama ini memberikan privilese atau keistimewaan kepada Jokowi beserta dengan keluarganya.

"Kami begitu mencintai dan memberikan privilese yang begitu besar kepada Presiden Jokowi dan keluarga, namun kami ditinggalkan karena masih ada permintaan lain yang berpotensi melanggar pranatan kebaikan dan Konstitusi."

Menurut Hasto, PDIP berharap peristiwa itu tidak terjadi. Akan tetapi, takdir berkata lain.

"Pada awalnya kami hanya berdoa agar hal tersebut tidak terjadi, namun ternyata itu benar-benar terjadi."

(Tribunnews/Febri/Oktaviani Wahyu)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan