In Memoriam KA Parahyangan
Zaman Belanda Disebut Vlugge Vier
Mungkin hanya itu kenangan indah saat KA Parahyangan masih setia melayani warga tanah Priangan dan sekitarnya. Mereka yang p
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mungkin hanya itu kenangan indah saat KA Parahyangan masih setia melayani warga tanah Priangan dan sekitarnya. Mereka yang pernah merasakan nikmatnya menumpang angkutan massal tersebut pantas berbangga hati, pasalnya selama ini model transportasi yang mulai beroperasi 31 Juli 1971 itu setidaknya pernah berjasa mengangkut wakil presidennya hingga selamat sampai di tempat tujuan.
Tidak banyak memang para pejabat atau pesohor yang pernah merasakan nikmatnya menyusuri rel berjarak kurang lebih 180 kilometer dengan kereta api sekelas Parahyangan, dimana biasa dipergunakan oleh warga kelas menengah. Tercatat, politisi sekaligus artis Rieke Diah Pitaloka setidaknya sempat merasakan indahnya pemandangan yang terbentang selama perjalanan menumpang kereta api yang pada zaman penjajahan Belanda bernama “Vlugge Vier” lewat jendela.
Rieke sendiri mengaku bisa melihat Indonesia saat menaiki kereta tersebut. Tidak salah memang pernyataan anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan tersebut, selama perjalanan dari Gambir menuju Bandung memang para penumpang disuguhkan pemandangan alam yang benar-benar indah dan bersejarah mulai dari hamparan sungai, sawah dan gunung hingga sebut saja Terowongan Sasaksaat sepanjang 950 meter.
Terowongan yang dibangun di awal abad 20 ini menembus Bukit Cidepong dan ribuan orang harus tewas dalam kerja rodi tersebut.Selain itu ada pula jembatan yang dilalui kereta tersebut. Jembatan di lintas Purwakarta hingga Padalarang itu adalah Ciganea, Cisomang, dan Cikubang dengan Sungai Cikubang mengalir jerinih di bawahnya, jembatan sepanjang 300 meter dengan empat pilar baja seberat sekitar 110 ton menghiasi Jembatan Cikubang.
Demikian pula Jembatan Ciganea dan Cisomang yang panjangnya 220-an meter dan menjulang di ketinggian 72 meter. Pastinya sebuah pemandangan cantik sekaligus bersejarah, bahwa di abad 19 Belanda, dengan keringat bangsa ini, sudah mampu membangun jembatan di perbukitan, menghubungkan jurang di antara perbukitan Parahyangan.