Sabtu, 11 April 2026

Tetap Bersyukur Dapat Rp 30 Ribu/Hari dari Bakso Panggul

Ibukota Jakarta tetap menjanjikan bagi semua orang. Meski sudah banyak kisah pedih dan kegetiran hidup, itu tidak meyurutkan gelombang kedatangan orang ke Jakarta untuk mengadu nasib di kota Megapolitan ini.

Editor: Juang Naibaho
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Andri Malau

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ibukota Jakarta tetap menjanjikan bagi semua orang. Meski sudah banyak kisah pedih dan kegetiran hidup, itu tidak meyurutkan gelombang kedatangan orang ke Jakarta untuk mengadu nasib di kota Megapolitan ini.

Demikian pula yang terlukis di benak Kodir, pedagang bakso Bandung keliling asal Garut, Jawa Barat, yang sudah satu tahun menjajakan dagangannya di Jakarta. Setiap harinya dia harus berkeliling keluar masuk gang jalanan dari tempat dia tinggal sementara di Kwitang, Jakarta Pusat, menuju kampung Madura, Pejambon dan Gambir, Jakarta Pusat.

Berangkat pagi dan pulang ke rumah sekitar pukul 00.00 WIB dini hari, sudah menjadi rutinitas yang harus dijalankannya. Semua terbungkus demi anak dan istrinya yang tengah menantikan biaya hidup darinya di Jakarta.

Kodir, pria berusia 40 tahun ini mengaku dirinya sudah berkeluarga. "Anak saya 4 mas, tapi semuanya belum ada yang berkeluarga, masih sekolah, SMP dan SD. Semuanya di Garut," ungkap Kodir sambil melayani pembelinya di Kampung Madura, Kwitang, Jakarta Pusat, Kamis (13/5/2010).

Kodir menuturkan, dirinya harus berpisah untuk sementara demi mencukupi kehidupan keluarganya yang berada di Cikancung, Cilawu, Garut, Jawa Barat.

Kodir sendiri di Jakarta tinggal bersama 11 temannya yang juga pedagang bakso keliling. Mereka tinggal di rumah yang biasa disapa si Bos oleh mereka di daerah Kwitang Kembang 10, Jakarta Pusat. Di tempat si Bos ini, imbuhnya, mereka diberikan fasilitas berupa alat dagangan model panggul, penginapan, dan makan 2 kali sehari.

Kodir mengaku mendapat penghasilan bersih yang diterimanya dari si Bos sebesar Rp 30 ribu per hari. "Penghasilan Rp 30 ribu.  Dikasih bos tiap harinya kalau jualan saya habis," terangnya.

"Ya nggak persis begitu juga mas, kadang 25 ribu, kadang juga kita dagangannya lagi sunyi, ya ngak dapat apa-apa dari si Bos," kenangnya.

Diakui Kodir, hidup di Jakarta memang berat. Kala dagangan sepi, dirinya juga sering harus ngutang di warung. "Berat jualan yang beginian. Kalau dagangan nggak laku, yah dikembalikan ke si Bos, dan saya ya nggak dapat uang dari si Bos. Ya kalau ngak ada uang yah ngutang di warung mas," ujarnya.

Namun, seberat apapun perjuangan hidupnya di Jakarta, Kodir mengaku perjuangan itu tidaklah lebih berat bila dibandingkan dengan pengalamannya saat di kampung halaman. "Lumayan mas,  daripada kuli macul seperti di kampung yang hanya dikasih Rp 15 ribu setiap hari dan nggak dikasih makan. Kalau dibandingkan dengan di sini ya lumayanlah mas, dengan 30 ribu bisa nyimpan buat anak dan istri, dan saya juga bisa buat ngerokok," kata Kodir di tengah derasnya hujan saat menepi di depan rumah di daerah kampung Manura Kwitang, Jakarta Pusat.

Kodir menyakini yang terpenting dirinya masih diberikan Tuhan jalan untuk mencari rezeki memenuhi kehidupan keluarganya. "Yang penting bisa makan mas, buat keluarga di kampung dan saya di sini. Jangan sampai nganggur aja," tandasnya.

Ketika ditanya mengenai biaya yang diberikan kepada anak istrinya di kampung, Kodir mengaku dirinya bisa berhemat dan mengumpulkan sejumlah uang setiap 14 hari sekali diantarkannya ke kampung. "Kadang kala 14 hari pulang ke Garut buat ngasih biaya makan. Ngasih 400 ribuan lebih gitu mas," bukanya.

Dirinya juga merasa sedih bila dia membawa uang dalam jumlah yang kecil, atau pernah juga dia pulang tanpa dapat memberikan biaya kepada anak istrinya. "Ya pernah mas, ngasih uangnya kurang, malah saya jadi bingung waktu di kantong ini nggak ada uang untuk diberikan kepada istri," ujar Kodir.

Istri dan 3 anaknya di kampung kini tidak lagi memiliki usaha. "Dulu ya mas di kampung, hidup nyetak bata di kali-kali (sungai), tapi sekarang udah nggak lagi, udah menganggur," perihnya mengisahkan.

Inilah yang bercampur aduk dalam dirinya saat berjuang di Jakarta. Kodir tak gentar menghadang hujan deras dan panas terik ibukota Jakarta tiap harinya. Semua hanya ditujukan demi hidup keluarganya yang telah menantikan biaya dari dirinya. Kodir tak ingin mengecewakan doa dan dukungan semangat dari anak dan istrinya agar dia bisa sukses di perantauan.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved