Jumat, 10 April 2026

Siswa Pukuli Wartawan

3 Wartawan Jadi Korban Pengroyokan Siswa SMA 6 Jakarta

Tiga wartawan yang menjadi korban pengroyokan siswa SMA 6 Bulungan, membuat laporan ke Polres Jakarta Selatan

Penulis: Abdul Qodir

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Abdul Qodir

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tiga wartawan yang menjadi korban pengroyokan siswa SMA 6 Bulungan, membuat laporan ke Polres Jakarta Selatan, Senin (19/9/2011) sekitar pukul 14.30 WIB.

Ketiga korban yang membuat laporan ke polisi, yakni fotografer kompas.com, Banar Fil Ardhi, salah seorang reporter dan kameramen Trans Tv.

Seusai membuat laporan, Banar menceritakan bahwa dirinya menjadi korban saat tengah membeli air minum di dekat lokasi, sesaat proses mediasi dilakukan pihak Kapolres Jaksel.

"Aku habis motret, aku masukin kamera ke tas dan beli minum botol. Lalu, dari arah Kejagung (Kejaksaan Agung) mereka tiba-tiba balik ke arah saya dan mengejar saya. Saya sudah tertinggal dengan yang lain, lalu jatuh dan kira-kira lima orang siswa Bulungan itu mengeroyok saya. Setelah dikeroyok, saya diselamatkan teman wartawan lain. Untung pas saya, enggak ada yang bawa pedang, kalau tidak, enggak tahu deh jadinya," cerita Banar dengan nada bergetar dan mata lebam.

Seusai ketiga wartawan tersebut membuat laporan, mereka dibawa petugas kepolisian ke rumah sakit untuk divisum.

Pantauan Tribunnews.com, Banar mengalami luka lebam dan goresan di bagian mata, dahi dan siku bagian kiri.

Bentrok antara puluhan wartawan melawan ratusan siswa SMA 6 Bulungan Jakarta, pukul 14.30 WIB, pecah diduga buntut dari aksi perampasan kaset video wartawan tv di kawasan Bulungan pada Sabtu (17/9/2011).

Puluhan wartawan yang ingin menuntut pihak sekolah mengidentifikasi pelaku perampasan, menggelar aksi di depan pintu gerbang sekolah. Namun, kedatangan para wartawan mendapat perlawanan dari ratusan siswa SMA 6 Bulungan berseragam putih-putih, yang kebetulan keluar jam pulang sekolah.

Tak ayal, ricuh dan adu mulut hingga adu jotos terjadi antarkedua pihak. Sebenarnya, situasi sempat tenang setelah puluhan petugas kepolisian dipimpin langsung Kapolres Jaksel, memediasi kedua pihak.

Namun, sejumlah siswa yang masih berkumpul melontarkan cacian ke segelintir wartawan yang masih berada di lokasi. Sejumlah wartawan yang terpancing provokasi tersebut langsung memberi perlawanan. Dan bentrok kali kedua kembali terjadi.

Belasan reporter, fotografer, dan kameramen yang tidak siap, harus pontang-panting berusaha menyelamatkan diri, karena ratusan siswa mulai beringas dan melakukan pemukulan. Bahkan, sejumlah siswa diketahui membawa senjata tajam.

Banyaknya jumlah siswa yang melakukan pengeroyokan tak sebanding dengan puluhan petugas kepolisian yang ada. Karenanya, para polisi tersebut tak bisa berbuat banyak menyaksikan aksi kriminal para siswa tersebut.

Sejumlah wartawan yang tertinggal dari rombongan saat proses penyelamatan diri, menjadi 'bulan-bulanan' pemukulan para siswa. Bahkan, mobil hingga belasan motor wartawan yang tertinggal, dirusak para siswa yang tengah mengenyam pendidikan tingkat atas tersebut. "Motor saya tertinggal di sana. Mungkin sudah hancur, tapi saya sudah laporan ke kantor," ujar fotografer bernama, Heru.

Mobil milik Trans TV dengan bagian kaca depan pecah dan kondisi body mobil yang penyok dibawa ke Mapolres Jaksel untuk bukti perusakan. Namun, belasan motor yang masih tertinggal belum diketahui nasibnya.

Dilaporkan seorang wartawan yang mengalami luka parah dilarikan ke UGD RS Pusat Pertamina (RSPP) untuk mendapat pertolongan.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved