Minggu, 31 Mei 2026

Banjir Dahsyat Jakarta

Penyelam Lihat Banyak Mobil Mengambang di Basement UOB

GEDUNG United Overseas Bank (UOB) tutup. Pusat perkantoran elite yang terletak di jantung kota Jakarta kawasan Jalan MH Thamrin

Tayang:
Editor: Anwar Sadat Guna

GEDUNG United Overseas Bank (UOB) tutup. Pusat perkantoran elite yang terletak di jantung kota Jakarta kawasan Jalan MH Thamrin itu menutup semua operional kantor yang berada di gedung tersebut.

Pihak pengelola gedung berupaya keras mencari korban yang diduga masih tersisa dua orang, terjebak di lantai basement. Tri Santoso berhasil ditemukan kaku, kritis, walaupun masih hidup.

Demikian halnya Tito. Ia ditemukan dalam kondisi lemas pukul 23.05 di basement satu. Berikut kisah banjir yang menerjang, serta upaya pencarian dan penyelamatan korban.

Bau bensin dapat tercium dari tiap akses ke basement satu (B1) gedung United Overseas Bank (UOB), bank asing asal Singapura yang terletak di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (18/1/2013) pagi.

Tiga lantai basement gedung ini terendam bersamaan dengan banjir menerjang kawasan bundaran Hotel Indonesia, Kamis (17/1/2013) pagi.

Bahkan secara kasat mata, di antara air keruh yang menutup akses masuk, dapat terlihat warna jingga mengilap berupa campuran bensin dan air. Bensin diduga berasal dari puluhan kendaraan yang tenggelam di basement.

Air yang menggenangi tiga lantai dasar basement di gedung itu berwarna cokelat keruh, karena banjir juga membawa lumpur dan kerikil selain air.

Alhasil, air itu membuat siapa pun sulit melihat apa yang tenggelam di dalamnya, termasuk mobil-mobil milik karyawan dan pejabat di gedung tersebut, serta sejumlah korban yang terjebak sejak kemarin, dan hingga kini nasibnya belum jelas.

Hirayat (32), tenaga penyelam dari Dinas Pemadam Kebakaran DKI, Jakarta saat ditemui Tribun di gedung UOB, Jumat (18/1/2013), mengatakan, air di basement gedung tersebut keruh dan menyulitkan tim saat melakukan proses pencarian korban.

"Jarak pandang juga tidak baik, walaupun saya menyelam dengan membawa senter, sepertinya percuma, airnya juga dingin," ujarnya.

Ia mengaku, jarak pandang di basement tersebut hanya sejengkal tangan orang dewasa. Suatu objek tidak dekat betul tentu akan luput dari pandangan matanya.

Menurut pemegang izin selam dari Persatuan Olahraga Selam Indonesia (POSI) itu juga mengatakan bahwa air keruh juga berpotensi membuat seorang penyelam menjadi tersesat, terutama di medan yang tidak umum seperti di basement gedung.

Tim penyelam Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta memiliki trik sendiri mengantisipasi ketersesatan. Mereka mengikatkan tali ke mantel statis ke penyelam, yang menghubungkan sang penyelam dengan tim darat yang memantau dari atas permukaan air.

Hirayat memulai penyelamannya di sisi utara gedung itu, yakni dari pintu keluar basement yang terletak di sisi Jalan Batu Raja. Di pintu itu ia harus menapaki jalan yang curam, sebelum ia memasuki basment satu gedung.

Sejumlah Petugas Pemadam Kebakaran lainnya bersiaga di akses tersebut, membantu agar penyelaman Hirayat dapat berlangsung sukses.
Pantauan Tribunnews.com, beberapa orang tampak sibuk mengurus tali yang telah ditambatkan ke sebuah tiang itu sesuai kecepatan Hirayat menyelam.

Untuk mengulur tali disepakati pakai kode-kode tertentu, betupa entakan tali yang ditarik penyelam. Jika dari dalam air, Hirayat menarik tali satu kali hentakan, rekan-rekannya di permukaan akan mengulur tali sepanjang mungkin, tapi jika hentakan sebanyak dua kali, maka Hirayat akan ditarik ke atas karena dua kali hentakan isyarat butuh bantuan.

Namun strategi itu tidak cukup digunakan dalam membantunya menemukan korban. Ia terpaksa kembali ke atas saat tali yang mengikatnya tidak cukup membawanya lebih jauh, ia tertahan di mulut akses mobil ke basement dua.

"Saya sempat susuri basement satu, saya lihat banyak mobil mengambang di basement, tapi saya tidak menemukan korban," terangnya.

Selain Hirayat, tim dari Polda Metro Jaya juga menurunkan penyelam di akses menuju basement yang terletak di sisi selatan gedung. Tepatnya di sisi jalan Kota Bumi. Namun aksi penyelamatan itu juga belum membuah kan hasil.

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Mayor Jendral TNI Alfan Baharudin juga datang ke lokasi. Mantan Komandan Korps Marinir TNI AL itu membawa dua orang penyelam andal dari Basarnas.

Tak lama setelah Basarnas menyelam, sejumlah anggota dari Korps Pasukan Katak (Kopaska) Marinir AL, dan pasukan khususnya TNI AL yakni Intai Amfibi (Taifib), juga datang dengan membawa perlatan selam.

Tim Kopaska turun di lokasi tempat Dinas Pemadam Kebakaran melakukan pencarian, sementara Taifib turun dari tangga darurat gedung.

Informasi yang diperoleh Tribunnews.com, korban-korban tersebut yang akan dicari adalah Hardian Eko (20) dan Arif Ohang (20), karyawan Cleaning Service Gedung Bank UOB. Lalu Eris Eko (25) adalah pegawai secure parking Gedung Bank UOB.

Dan seorang lagi adalah sopir mobil yang belum diketahui identitasnya. Hingga tadi malam, sudah dua orang yang berhasil ditemukan.

Berdasarkan informasi, ketiga orang tersebut terjebak di basement 2 Gedung Bank UOB sejak sekitar pukul 10.00 WIB, Kamis lalu. Jumat pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, sebelum petugas tim evakusai tiba, petugas keamanan gedung yang dibantu sejumlah karyawan berhasil menyelamatkan korban bernama Tri Santoso.

Ia kemudian dievakuasi menggunakan taksi menuju rumah sakit Abdi Waluyo, Jakarta Pusat.
Seorang perempuan bernama Rasani mendatangi gedung UOB. Ia mengaku kerabatnya yang bernama Tito, yang ia ketahui bekerja di gedung tersebut, hingga kini rimbanya belum jelas. Hingga kini, jumlah korban terjebak di dalam gedung dan tersesat masih ada dua orang lagi.

BACA JUGA:

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved