Rabu, 10 Juni 2026

Kepala BNN Ingin Temui Jokowi

Jakarta sebagai Ibu Kota Negera memiliki angka prevalensi penyalahguna narkoba tertinggi di Indonesia.

Tayang:
Penulis: Wahyu Aji
Editor: Gusti Sawabi

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Wahyu Aji

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jakarta sebagai Ibu Kota Negera memiliki angka prevalensi penyalahguna narkoba tertinggi di Indonesia. Tujuh persen dari  jumlah  penduduknya merupakan pengguna narkoba. Ironisnya,  Jakarta belum memiliki tempat untuk merehabilitasi pecandu narkoba secara  memadai.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen (pol) Anang Iskandar mengatakan, dirinya sudah meminta kepada asisten terkait bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Menurutnya, kedua instansi akan berbicara serius perihal perannya memberantas narkotika dengan membangun panti rehabilitasi narkoba.

"Saya sudah berbicara dan meminta-minta kepada gubernur hingga bupati atau  walikota agar setidaknya membuat satu tempat rehabilitasi di setiap daerahnya," kata  Anang saat bertemu beberapa wartawan termasuk Tribunnews.com di kantornya, Rabu (22/5/2013).

Mengacu data penelitian tahun 2011, DKI Jakarta yang berpenduduk 7 juta lebih, sebanyak 491.848 atau tujuh persennya merupakan penyalahguna narkoba. Sedangkan tren penyalahguna narkoba terus naik. Diduga untuk tahun ini, pemakai barang haram tersebut, akan kembali naik di Jakarta.

Menurut Anang, saat ini, pusat rehabilitasi milik pemerintah untuk para penyalahguna narkotika di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya hanya terdapat di Lido, Sukabumi, Jawa Barat. Sementara untuk seluruh Indonesia hanya terdapat tiga pusat rehabilitasi milik BNN dan 90 milik swasta yang hanya dapat menangani 18 ribu penyalahguna dari sekitar 4 juta penyalahguna di Indonesia.

Untuk itu, selain mendorong Gubernur DKI Jakarta, pihaknya juga mendorong Gubernur, Walikota, dan Bupati di seluruh Indonesia untuk membangun sebuah pusat rehabilitasi di wilayahnya masing-masing.

"Dalam waktu dekat rencananya saya akan bertemu Jokowi," katanya.

Lebih lanjut Anang mengatakan, dengan banyaknya pusat rehabilitasi akan semakin banyak penyalahguna yang dapat disembuhkan dari ketergantungan bahaya narkoba. Dengan demikian, jumlah permintaan akan narkoba akan semakin berkurang. 

"Kalau seluruh penyalahguna di Indonesia kita rehabilitasi, dan dapat disembuhkan tentu tidak ada lagi penyalahguna narkotika. Penjual narkoba akan kedodoran dan akhirnya gulung tikar," lanjutnya.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved