Breaking News:

Pengeroyokan Polisi

Polri Bantah Perwira yang Dihajar TNI di Cafe Lagi Periksa Feriyani Lim

Lebih dua anggota dari Bareskrim yang ikut dalam pertemuan itu. Selain itu, ada beberapa warga sipil

Warta Kota
Komisaris Besar Pol Rikwanto. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mabes Polri melalui Kabag Penum Divisi Humasnya Kombes Rikwanto membantah dua perwira yang dirazia dan dikeroyok 30 anggota POM TNI AL di Bengkel Cafe, kawasan SCBD, Jakarta Selatan pada Sabtu dini hari kemarin adalah tim Bareskrim yang tengah rapat konsolidasi kasus pimpinan KPK.

"Nggak, nggak ada itu," kata Rikwanto di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (9/2/2015).

Dua perwira polisi yang menjadi korban pengeroyokkan itu adalah Kanit II Jatanras Polda Metro Jaya, Kompol Teuku Arsya Khadafi dan perwira menengah (pamen) Mabes Polri, Kompol Budi Hermanto. Iptu Rovan dari Mabes Polri juga berada di cafe bersama kedua perwira itu.

Lebih dua anggota dari Bareskrim yang ikut dalam pertemuan itu. Selain itu, ada beberapa warga sipil ikut dalam pertemuan itu.

Sebelum menjadi pamen di Mabes Polri, Kompol Hermanto menempati jabatan yang diduduki oleh Kompol Arsya, Kanit II Jatanras Polda Metro. Saat ini, Budi Hermanto tengah menempuh pendidikan Sekolah Pimpinan (Sespim) untuk jenjang karir dan kepangkatan AKBP.

Rikwanto membantah kedua perwira polisi itu adalah tim khusus atau agen dari Bareskrim Mabes Polri yang tengah menangani kasus pimpinan KPK. Ia juga membantah saat kejadian, para perwira dan penyidik reserse di cafe itu tengah memeriksa seorang saksi kasus pemalsuan dokumen dan perempuan yang berfoto mesra dengan Ketua KPK Abraham Samad, Feriyani Lim alias Fransisca Lim. "Nggak," ujarnya.

Ia menegaskan, kasus yang ditangani perwira Polda Metro Jaya dan Bareskrim Polri di cafe itu tidak terkait dengan penyidikan kasus-kasus empat pimpinan KPK yang tengah ditangani Bareskrim Polri. Apalagi jika dikabarkan ada pemeriksaan Feriyani Lim pada saat itu.

"Nggak, nggak ada," tandasnya.

Anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), M Nasser dan Adrianus Meliala dan anggota Komnas HAM sudah menjengut korban, Kompol Arsya yang dirawat di RS Siloam, Semanggi, Jakarta pada Senin (9/2/2015).

"Dia mengalami trauma tumpul di muka, leher dan bagian belakang badan. Di mukanya itu ada bagian bekas sepatu juga," ungkap Adrianus.

"Kalau Kompol Budi juga mengalami luka pukul di perut. Tapi, tidak separah Arsya," imbuhnya.

Selain membesuk, pihak Kompolnas mendatangi Kompol Arsya adalah untuk mencari informasi penyebab pengerokkan dan alasan para penyidik reserse itu berkumpul di sebuah cafe.

Kepada pihak Kompolnas, Kompol Arsya hanya mengaku berkumpul dalam rangka tugas reserse, yakni bertemu dan mengorek informasi dari seorang informan. "Mereka dari reserse, katanya mereka bertemu dengan informan dari... Katanya mereka sedang mengungkap sebuah kejahatan," ungkap Nasser.

Kompol Arsya pun tak memberitahu pihak Kompolnas tentang pertemuan dengan informannya itu terkait kasus apa.

Nasser pun kaget saat dikonfirmasi benar atau tidaknya para penyidik reserse itu berada di cafe itu karena tengah bertemu dan mengorek informasi dengan saksi kasus pemalsuan dokumen Ketua KPK, Abraham Samad. "Dia nggak bilang kasus apa. Memang Anda tahu dari mana informasi itu sampai menanyakan itu," ujar Nasser.

Penulis: Abdul Qodir
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved