Breaking News:

Ahok: Beli Bunga hingga Miliaran Rupiah? Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kacau-balau

Dinas Pertamanan dan Pemakaman juga jadi sasaran semprot Basuki.

Editor: Gusti Sawabi
WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Taman di bundaran Indosat, rusak diinjak pengunjukrasa di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (21/8/2014). Polisi menghadang massa dengan tembakan gas air mata karena situasi sudah tidak kondusif. Warta Kota/angga bhagya nugraha 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Tidak hanya Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI yang dipelototi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Namun Dinas Pertamanan dan Pemakaman juga jadi sasaran semprot Basuki.

Pria yang akrab disapa Ahok menyebutkan bahwa Dinas Pertamanan dan Pemakaman kacau-balau.

Ahok mengatakan banyaknya pemborosan yang tercantum pada draft Kebijakan Umum APBD - Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2016.

Satu di antaranya, pembelian bunga hingga miliaran rupiah. Menurut Ahok, seharusnya mereka membeli pembibitan saja.

"Wah kacau-balau deh. Dia pengin beli bunga puluhan miliar buat disulamin, Saya bilang beli pembibitan gimana? Pembibitan belum siap," kata Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (20/11/2015).

Namun ternyata pembibitannya, kata Ahok, belum siap. Hingga akhirnya ia menyarankan pembelian bunga harus dikerjakan sendiri oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI. Namun, mereka merasa tidak bisa mengerjakan sendiri.

"Saya bilang, buat apa ada insinyur segitu banyak? Saya bilang, lelangnya satu paket gede saja langsung Rp 10-20 miliar. Terus (anggaran) satu sudin (pertamanan dan pemakaman) Rp 30 miliar untuk lelang. Makanya taman Jakarta enggak beres-beres saya bilang. Sekarang mereka pakai swasta, enggak mau kerja. Lihat saja banyak pagar yang sudah karatan dan patah," ujar dia.

Rancangan anggaran-anggaran seperti ini, yang akan mulai dipangkas bahkan dihapus kata Ahok. Dia tidak ingin ada lagi anggaran-anggaran siluman di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2016.

Sejak Rabu (18/11/2015) hingga Jumat (20/11/2015), Ahok sengaja mengosongkan agenda hariannya. Hal itu demi mengebaluasi KUA-PPASS 2016. Seharian Ahok berada di ruang rapat pimpinan. Di sana, Ahok memanggil para pejabat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) DKI.

Kamis (19/11/2015) misalnya, Ahok hingga pukul 21.00 WIB belum keluar dari kantornya di Balai Kota, Jakarta Pusat. Menurut seorang staf pengamanan di Balai Kota, Ahok baru keluar sekitar jam 12 malam.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved