Calon Suami Malah Makan Bersama Mantan Kekasih Saat Pemotretan Prewedding

Menjadi petugas pemanggil orang hilang di kawasan wisata Kota Tua merupakan tugas yang gampang-gampang susah

Calon Suami Malah Makan Bersama Mantan Kekasih Saat Pemotretan Prewedding
Tribunnews.com/Amriyono Prakoso
Widodo (44) petugas pemanggil orang hilang di kawasan wisata Kota Tua Jakarta 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Amriyono Prakoso

TRIBUNNEWS.COM - Menjadi petugas pemanggil orang hilang di kawasan wisata Kota Tua merupakan tugas yang gampang-gampang susah, kata Widodo (44) yang selama tahun 1997 bekerja di Kota Tua sebagai pemanggil di Posko terpadu Kota Tua.

Dirinya diberikan tugas oleh Sudiyono seorang Linmas yang berjaga di sekitar Kota Tua dan diberi upah sebesar Rp 1 juta setiap bulannya.

"Saya cuma dikasih tugas aja sama Pak Sudiyono di sini. Jadi kalau dia datang, ya dia ganti jadi petugas panggil. Tapi ya begitu, jarang ke sininya," ungkap pria berbaju merah tersebut di lokasi, Jakarta, Jumat (1/1/2015).

Widodo menceritakan bahwa dirinya yang tinggal di Depok, hingga saat ini belum pulang ke rumahnya semenjak liburan Maulid Nabi tanggal 24 Desember lalu karena tugas melayani pengunjung merupakan tanggung jawab yang dia emban selama 24 jam penuh.

Meskipun begitu, usaha untuk memperbaiki kesejahteraan hidup, pernah ia tempuh dengan cara mencoba melamar di perusahaan minyak, namun seorang rekan yang dia percaya, justru habis-habisan menipu dan mengambil duitnya sebanyak satu juta.

Beberapa pengalaman menarik juga sempat ia temui selama bekerja menjadi petugas panggil di Kota Tua. Widodo mencontohkan ada satu keluarga yang merasa kehilangan satu anaknya, namun anaknya ternyata sudah berada di rumah terlebih dahulu tanpa memberi kabar.

Lainnya, sepasang kekasih yang sedang melakukan foto prewedding terpisah saat akan melakukan sesi foto. Ternyata sang calon suami sedang makan bersama dengan mantan kekasihnya di lokasi tidak jauh dari Kota Tua.

"Ya memang ada-ada saja. Namanya hidup, mas," ujarnya kepada Tribunnews.

Upah sebanyak Rp. 1 juta menurut dia, sudah cukup untuk menghidupinya sendiri karena belum mempunyai istri dan anak. Kata Widodo, jika terus menuruti gaya hidup, maka upah tersebut tidak akan mencukupi kebutuhannya selama dua minggu.

Dirinya merasa cukup menikmati memiliki pekerjaan tersebut. Meski sering kali merasa lelah karena memanggil orag yang kehilangan karena kesalahan pengawasan dan tidak memberi kabar satu sama lainnya.

Widodo yang bekerja di sebuah tenda kecil dengan perlatan pengeras suara yang berbentuk kotak berwarna oranye, persis di sebelah Cafe Batavia tersebut tidak ingin pekerjaannya dijadikan beban hidup. Sebaliknya, dia tetap menikmati apapun hasil jerih payahnya.

"Disyukuri. Apapun itu, toh selama ini, saya merasa tidak kekurangan," tuturnya.

Penulis: Amriyono Prakoso
Editor: Gusti Sawabi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved