Sabtu, 16 Mei 2026

Penertiban Luar Batang

Balada 'Manusia-manusia Perahu' Pasar Ikan

SUDAH sekitar tiga hari Siska bersama keluarganya hidup di dalam perahu.

Tayang:
Penulis: Yurike Budiman
Editor: Gusti Sawabi
Youtube
Tinggal di Perahu 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yurike Budiman

Tribunnews.com - SUDAH sekitar tiga hari Siska bersama keluarganya hidup di dalam perahu.

Rumah kontrakannya rata dengan tanah digilas oleh mesin-mesin raksasa penghancur bangunan.

Tidak ada yang bisa dilakukan Siska kecuali bertahan dan menjadi 'manusia perahu'. Pemprov DKI memang sebelumnya melakukan penertiban dan membongkar rumah-rumah yang tak memiliki surat resmi di kawasan Luar Batang, Jakarta Utara.

Siska sudah beberapa kali diusir dan banyak petugas yang meminta perahu milik suaminya disingkirkan. Bukannya tidak mau pindah ke Rusun Cilincing dan Kali Adem, namun ia menilai kawasan tersebut tidak layak.

"Tadi ada yang datang, minta perahu kita disingkirkan bahkan disuruh ke Cilincing, kita dibilang nyampah di sini. Situ yang bongkar, yang bikin limbah. Kita udah susah dan bukan sampah, sudah tinggal di perahu masih mau diusir juga," ujar Siska.

Nasib yang sama juga dialami Husein, bahkan ia harus berjejalan di dalam perahu bersama sembilan orang saudara kandung dan orangtuanya. Ia bingung harus bagaimana lagi mencari tempat tinggal, hanya perahu yang dianggapnya tepat jadi tempat berteduh atau sekedar bercengkrama dengan anggota keluarga lainnya.

Siang itu saat ditemui terik panas matahari memang begitu menyengat, Husein yang biasanya melaut kini tidak bisa, kapalnya dijadikan olehnya tempat tinggal. Beberapa kali Husein mencari tempat berteduh bersama anggota keluarga lainnya karena kepanasan.

Sembari berteduh, Husein mengais puing-puing dan besi yang sekiranya bisa ia tukar dengan uang untuk makan sehari-hari. Husein merupakan anak keempat dari 10 bersaudara. Adik-adiknya yang masih kecil dan bersekolah juga masih belum diurus perihal administrasinya.

"Adik-adik saya sekolah ada yang di Luar Batang ada yang di Pinangsia, Kota. Bagaimana kita disuruh pindah lagi, nanti kejauhan akses dan biayanya lebih besar lagi," ujarnya.

Untuk urusan buang hajat lanjut Husein, ia memanfaatkan sisa-sisa bangunan seperti kayu dan seng untuk membuat toilet darurat. "Ada WC di bangunan yang dirobohkan, sudah tidak ada temboknya, atasnya ditutup seng, kalau saya gampang, yang susah kalau perempuan, makanya saya buat begitu,"katanya.

Kalau untuk persediaan air bersih, Husein dan keluarga besarnya membeli jeriken berisi air seharga Rp 1000 untuk satu jeriken. Air dimanfaatkan untuk mandi, mencuci dan urusan kakus.

Lain lagi dengan Sri, warga salah satu warga RT 12 Pasar Ikan Penjaringan, Jakarta Utara. Ia mengeluhkan sekolah anaknya yang jauh dari rusun Rawa Bebek.

Sri pun memilih kembali ke tempat tinggalnya yang lama. Ibu lima anak ini mengatakan banyak kerugian yang ia dapat setelah penggusuran Pasar Ikan Penjaringan.

"Anak saya sudah SMP sekolah di Luar Batang, butuh dua jam lho berangkat sekolah ke sini," ujar Sri saat ditemui di kawasan Luar Batang.

Suami Sri pun kini tidak bisa lagi bekerja mencari ikan dan cumi-cumi. Alhasil, jadilah sang suami pengangguran.

Untuk sementara Sri menggunakan perahu untuk tempat tinggal meski sudah diberikan tempat tinggal berupa rumah susun. Biaya ojek yang harus dikeluarkan sebanyak Rp 25 ribu sekali pergi dari Cakung hingga ke Luar Batang untuk mengurus sekolah anak-anaknya membuat ia kebingungan.

"Uang habis di ongkos," ujarnya.

Soal rusun yang didapat, ia juga mengatakan dapur yang didapat memang cukup bagus. "Kalau dapur sama kamar ya dicukupi lah, kayak pepes enggak apa-apa biar muat, tapi jemuran itu, harus rebutan. Enggak ada jemuran," katanya.

Rista, warga RT 01 RW 04 Pasar Ikan juga sama, ia tidak mau tinggal di rusun yang sudah disediakan pemerintah. "Rumah saya besar, mbak, ada lima kamar, rumah permanen dan itu dari orang tua saya sudah tinggal di sini, masih kena gusur juga. Saya enggak mau pindah ke rusun lah, kamarnya kecil begitu," kata Rista saat ditemui di lokasi penggusuran.

Ia kini harus menetap sementara di rumah mertuanya di bilangan Condet, Jakarta Timur. Lain hal dengan Ari, warga yang sudah sejak 1981 menempati rumahnya yang ada di kawasan Pasar Ikan tersebut, harus menumpang di rumah kerabatnya di Luar Batang.

"Saya sekarang di Luar Batang, numpang dulu. Nah, ini juga hati-hati, Luar Batang sebentar lagi juga kena gusur nanti. Mana nggak dapat ganti rugi," ujar Ari.

Barang-barang yang tertinggal seperti perabot rumah tangga, sebagian baju bahkan pintu rumah, dibiarkan saja bersatu dengan puing rumahnya. "Paling baju sama perabot yang sudah gak keburu diambil. Kalau pintu rumah, ya ikhlasin aja, walau mahal," ujarnya.

Ahok Minta Manusia Perahu Pindah

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) imbau warga Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, yang bertahan untuk mau direlokasi ke rumah susun (Rusun). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan hunian sebagai kompensasi penertiban kawasan Pasar Ikan. Rusun itu di Marunda, Rawa Bebek, Kapuk Muara, Cakung Barat, dan Tipar Cakung.

Namun penolakan dilakukan warga karena enggan direlokasi. Beberapa warga Pasar Ikan yang huniannya ditertibkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih bertahan di atas perahu, sehingga dijuluki 'Manusia Perahu'.

Mereka menolak untuk direlokasi dengan berbagai alasan. Satu diantaranya, jarak Rusun ke lautan yang cukup jauh.

Ahok mengimbau agar para nelayan mau untuk direlokasi.Dia mengatakan jarak dari Rusun Marunda tidak begitu jauh ke tempat mereka mencari ikan.

"Manusia perahu (bertahan) karena urusan kerja di sana. Saya mau tanya, di Rusun Marunda, ada kanal banjir timur, segala macam. Ada nelayan enggak di Cilincing dan Cakung? Ada," ujar Ahok.

Ahok berpandangan tidak ada alasan para nelayan bertahan di atas perahu mereka.Menurutnya, Pemprov DKI telah menyiapkan fasilitas penunjang, sehingga kehidupan nelayan akan lebih baik.

Semisal bus gratis dan Kartu Jakarta Pintar (KJP) untuk anak-anak."Nelayan kenapa sih tidak mau pindah ke Rusun Marunda? Anak Anda dijemput bus sekolah. Buat apa sengsarakan keluarga. Jadi kan ini politik namanya, sengaja tinggal di perahu, ya tinggal saja," kata dia.

Pemprov DKI terus melakukan penertiban di Pasar Ikan demi melangsungkan proyek penataan kawasan Wisata Bahari Sunda Kelapa. Setelah bangunan liar ditertibkan, Pemprov DKI akan melakukan pemasangan sheet pile atau dinding turap mulai dari Pasar Ikan hingga menuju ke laut.

Diharapkan dengan dipasangnya dinding turap tidak ada lagi rembesan air yang masuk ke kawasan tersebut.(Yurike Budiman)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved