Reklamasi Pantai Jakarta

Reklamasi Tetap Bisa Dilakukan karena Dibutuhkan

Dikatakan, reklamasi pantai utara Jakarta saat ini adalah sebuah kebutuhan

Reklamasi Tetap Bisa Dilakukan karena Dibutuhkan
Warta Kota/Alex Suban
Inilah suasana Pulau Reklamasi G, di seberang Pluit, Jakarta Utara, Rabu (11/5/2016). Proyek reklamasi di pulau ini distop oleh Dirjen Penegakkan Hukum Kementerian LHK Rasio Ridho Sani sampai terpenuhnya seluruh perintah yang diwajibkan kepada perusahaan termasuk melakukan perubahan dokumen dan ijin lingkungan. (Warta Kota/alex suban) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komite Bersama Reklamasi Teluk Jakarta yang terdiri dari tiga kementerian telah menyelenggarakan focus group discussion (FGD) di Jakarta, akhir pekan lalu.

Diharapkan hasil akhir komite harus objektif dan bebas dari berbagai kepentingan, sehingga proses reklamasi yang saat ini sudah dilakukan tidak akan menjadi beban untuk Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat.

“Komite harus memberikan rekomendasi yang objektif dengan melihat fakta makin sempit dan terbatasnya wilayah DKI Jakarta,” kata Direktur Nusantara One Institute, Agustinus Tamo Mbapa atau Gustaf kepada wartawan di Jakarta, Senin (13/6/2016).

Dikatakan, reklamasi pantai utara Jakarta saat ini adalah sebuah kebutuhan tetapi harus tetap mengacu pada aturan yang ada.

Fungsionaris Partai Demokrat ini mengutip salah satu pendapat pakar dan ahli dalam FGD di Ruang Pola, Balai Kota, Jumat (10/6), bahwa reklamasi bisa tetap dilaksanakan selama mengikuti aturan yang ada dan tidak merusak lingkungan.

Pakar yang dimaksud Gustaf adalah Herman Wahyudi, peneliti dan dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.

“Saya sependapat dengan Pak Herman yang pernyataannya saya baca di sebuah media nasional. Reklamasi dibutuhkan, bisa tetap dilakukan sejauh tidak menyalahi aturan yang ada,” katanya.

Mengenai nasib nelayan, Gustaf mengatakan, reklamasi tidak akan menghilangkan para nelayan.

Justru ada ruang untuk mereka tetap eksis. Hanya saja, perlu diperhatikan agar harga rumah di sana nanti jangan terlalu mahal.

“Perlu ada ruang untuk nelayan dan kelas menengah ke bawah agar mereka bisa tinggal di sana,” katanya.

Halaman
12
Penulis: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved