Pilgub DKI Jakarta
Soal Jakarta Smart City dan RPTRA, Sylviana: Ganti Judul
Menenai sejumlah program dari Gubernur DKI Jakarta belakangan ini, kata dia sebenarnya program tersebut bukanlah hal yang baru.
Laporan Wartawan TRIBUNnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jakarta memiliki master plan atau perencanaan besar pembangunan.
Sylviana Murni, mantan Deputi Gubernur Bidang Pariwissata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, mengatakan pembangunan di Jakarta selama ini mengacu dengan rencana besar tersebut, sehingga tidak bisa sembarangan membangun.
"Kenapa baru sekarang (suatu proyek dikerjakan), karena waktunya sekarang, semua harus dilakukan step by step (pertahap), ada prioritasnya,"ujar Sylviana Murnni dalam pemaparannya di hadapan kader perempuan paratai-partai pendukungnya, di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Jakarta Pusat, Jumat (14/10/2016).
Menenai sejumlah program dari Gubernur DKI Jakarta belakangan ini, kata dia sebenarnya program tersebut bukanlah hal yang baru.
Sylviana Murni mencontohkan dengan program Jakarta smart city, yakni program yang digagas Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, yang memungkinkan pelayanan publik diakses melalui jaringan internet.
Kata dia sebelumnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sempat bekerjasama dengan pemerintah Korea Selatan, untuk membangun infrastruktur untuk membuat pelayanan dari Pemprov DKI Jakarta terkoneksi jaringan internet.
Selain itu untuk program Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) yang saat ini tenggah getol digarap oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, juga bukan merupakan barang baru.
Program serupa juga sempat dilakukan pada tahun 2007 lalu, saat jabatan Kepala Dinas Pertamana DKI Jakarta dijabat Sarwo Handayani.
Saat itu Pemprov DKI Jakarta juga sudah menggarap lahan kosong untuk dijadikan ruang terbuka bagi warga berinteraksi.
Tujuannya menurut Sylviana Murni tidak jauh berbeda dengan RPTRA yang saat ini banyak diresmikan Gubernur Basuki.
Perkara saat ini program-program tersebut kembali diusung dengan menggunakan nama baru, ia menganggap hal itu sebagai sebuah kewajaran, karena memang ada sejumlah peningkatan.
Kata dia sebuah yang bagus idealnya terus dijalankan, dengan sejumlah pembaruan.
"Ganti judul, saya kira sah-sah saja, artinya ada inovasi," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/sylviana-nih2_20161008_123526.jpg)