PRT Siksa Anak Majikan Hingga Patah Tulang

Tak main-main, HTE bahkan sampai menderita patah tulang selangka karena diduga dianiaya Tika menggunakan benda tumpul

PRT Siksa Anak Majikan Hingga Patah Tulang
IST
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Malang benar nasib HTE (2). Bocah laki-laki itu diduga menjadi korban penyiksaan pembantu rumah tangga (PRT) bernama Septia Mega Mustika alias Tika (24), saat kedua orangtuanya sedang bekerja.

Tak main-main, HTE bahkan sampai menderita patah tulang selangka karena diduga dianiaya Tika menggunakan benda tumpul. Tika pun digelandang ke kantor polisi, Rabu (3/5/2017).

Kasus dugaan penganiayaan itu terjadi di rumah Yose Rizal, orangtua HTE, di Jalan Haji Dilun, Kelurahan Ulujami, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Dalam laporannya ke Mapolsek Metro Pesanggrahan, Rizal menduga Tika telah menyiksa anaknya sejak Februari hingga April 2017. Kepada polisi, dia menyertakan hasil rontgen yang memperlihatkan tulang selangka sebelah kiri anaknya patah.

"Kami telah melakukan penangkapan terhadap terduga pelaku dan menetapkannya sebagai tersangka," ujar Kanit Reskrim Polsek Metro Pesanggrahan AKP Arya, Kamis (4/5/2017).

Arya menjelaskan, berdasarkan pemeriksaan awal, Tika tega menyiksa HTE hanya karena anak balita itu sering rewel.

Kata Arya, Tika bekerja sebagai PRT di rumah Rizal sejak Desember 2016. Mulai pagi hingga sore hari, HTE hanya dijaga oleh Tika karena kedua orangtua bocah itu bekerja. Saat majikan bekerja itulah, Tika diduga menganiaya bocah tersebut.

"Diduga, ia telah melakukan kekerasan pada korban sejak Februari 2017, ketika kedua orangtuanya bekerja dari pagi sampai sore hari," ungkap Arya.

Dia menjelaskan, Tika diduga menganiaya HTE dengan bermacam-macam cara. Mulai dari menyentil hidung korban secara berulang-ulang hingga mengeluarkan darah, menggigit kuping dan tangan, mencolok mata kiri korban dengan kuku, serta memukul bibir korban dengan remote TV.

Terakhir, pada pertengahan April lalu, Tika diduga telah memukul korban dengan mainan gamelan, hingga mengakibatkan patah tulang selangka sebelah kiri.

"Sebelumnya apabila ditanya pelapor mengenai bekas kekerasan di tubuh korban, pelaku selalu beralasan jatuh atau terjepit pintu," jelasnya.

Arya menyebutkan, polisi telah mengantongi bukti visum korban, menyita satu buah mainan gamelan berbahan kayu dan besi, satu remote TV warna hitam, dan satu bukti rontgen.

"Pelaku dijerat pasal 80 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman tiga tahun enam bulan," ucap Arya. (Gopis Simatupang)

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved