Tragedi Bocah yang Dianiaya PRT di Pesanggrahan Alami Trauma Psikis

Bocah yang diduga dianiaya pembantu rumah tangga (PRT) di Pesanggrahan, HTE (2), mengalami trauma psikis.

Tragedi Bocah yang Dianiaya PRT di Pesanggrahan Alami Trauma Psikis
Warta Kota/Gopis Simatupang
Kapolsek Metro Pesanggrahan, Komisaris Eko Mulyadi (tengah) saat memberikan keterangan pers di markas Polsek Metro Pesanggrahan, Jumat (5/5/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Bocah yang diduga dianiaya pembantu rumah tangga (PRT) di Pesanggrahan, HTE (2), mengalami trauma psikis.

Karena itu, selain menjalankan proses hukum terhadap pelaku, polisi juga fokus untuk mengembalikan kondisi psikis korban.

Kapolsek Metro Pesanggrahan, Komisaris Eko Mulyadi, menerangkan, setelah sejumlah penganiayaan dialami dirinya, HTE kerap menangis ketakutan bila bertemu dengan Septia Mega Mustika alias Tika (24), PRT yang diduga sebagai pelaku penganiayaan.

"Saat ini kita sedang melakukan terapi psikis terhadap korban, karena ternyata korban mengalami trauma psikis. Tiap melihat pelaku dia ketakutan," ujar Eko di markas Polsek Metro Pesanggrahan, Jumat (5/5/2017).

Dikatakan Eko, pihaknya menugaskan tim Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) guna merawat dan merehabilitasi kondisi fisik dan psikis bocah HTE.

Eko menjelaskan, kedua orangtua HTE bekerja sebagai karyawan swasta. Karenanya, untuk menjaga sang anak, mereka mendatangkan Tika dari Tanah Datar, Sumatera Barat, yang juga kampung halaman mereka, Desember 2016.

Akibat perbuatannya, kata Eko, pelaku diancam Pasal 76 C Juncto Pasal 80 Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Tika diduga menganiaya HTE saat kedua orangtuanya tengah bekerja mulai pagi hingga sore hari di rumah majikannya itu di Jalan Haji Dilun, Kelurahan Ulujami, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Tak main-main, HTE bahkan sampai menderita patah tulang selangka sebelah kiri karena diduga dianiaya Tika menggunakan benda tumpul. Tika pun digelandang ke kantor polisi, Rabu (3/5/2017).

Dalam laporannya ke kantor Polsek Metro Pesanggrahan, Yose Rizal, orangtua korban, menduga Tika telah menyiksa anaknya sejak Februari hingga April 2017. Kepada polisi, dia menyertakan hasil rontgen yang memperlihatkan tulang selangka sebelah kiri anaknya patah.

Berdasarkan pemeriksaan awal, Tika tega menyiksa HTE hanya karena anak balita itu sering rewel.

Tika diduga menganiaya HTE dengan bermacam-macam cara. Mulai dari menyentil hidung korban secara berulang-ulang hingga mengeluarkan darah, menggigit kuping dan tangan, mencolok mata kiri korban dengan kuku, serta memukul bibir korban dengan remote TV.

Terakhir, pada pertengahan April lalu Tika diduga telah memukul korban dengan mainan gamelan hingga mengakibatkan patah tulang selangka sebelah kiri. Sebelumnya, apabila ditanya mengenai bekas kekerasan di tubuh korban, pelaku selalu beralasan jatuh atau terjepit pintu.

Untuk menyelidiki kasus tersebut, polisi telah mengantongi bukti visum korban, menyita satu buah mainan gamelan berbahan kayu dan besi, satu remote TV warna hitam, dan satu bukti rontgen.

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved